Monday, 14 May 2012

Minggu Pagi di Kota Malang


Minggu pagi di Kota Malang akan terasa biasa saja sebagai hari libur jika dihabiskan untuk bersembunyi di balik selimut tebal setelah lelah menghabiskan waktu semalaman. Ya, karena di setiap minggu pagi Kota Malang punya dua acara menarik yaitu : gelaran Car Free Day (CFD) dan Wisata Belanja Tugu.

Gelaran sehari bebas kendaraan atau yang sering disebut car free day (CFD) memang telah menjadi tren positif di berbagai daerah di Indonesia. Dalam acara ini masyarakat dapat melakukan berbagai macam aktivitas olahraga dan sebagainya tanpa harus khawatir terganggu lalu lalang serta asap kendaraan, meskipun dalam pelaksanaan CFD tersebut biasa dipusatkan di jalan-jalan besar kota. Pun demikian halnya dengan Kota Malang yang selalu mengagendakan gelaran CFD setiap hari minggu pagi dan dipusatkan di Jalan Ijen mulai pukul 05.00-09.30 WIB.

Gelaran CFD yang baru beberapa bulan dilaksanakan di Kota Malang ini ternyata mendapat respon positif dari masyarakat. Hal itu dapat dilihat dari antusias warga Kota Malang yang datang setiap minggunya untuk berolahraga, bersepeda ria, berkumpul dengan komunitas mereka atau sekedar menikmati udara segar pagi hari dengan berjalan kaki. Antusias warga tersebut ditanggapi oleh pihak penyelenggara dengan rutin mengadakan senam pagi dan pemeriksaan kesehatan gratis.

Disini warga dapat memeriksakan kesehatan atau ikut senam massal dengan arahan instruktur di atas panggung. Mulai dari anak-anak, remaja sampai yang tua pun ikut bersama menggerakkan badan dengan iringan musik tentunya. Tak hanya itu, tersedia banyak door prize untuk warga yang beruntung. Sehat dapat, hadiah pun juga didapat.


Tunggu dulu, setelah puas berkeringat bersama dengan senam massal, jangan buru-buru pulang, karena kurang lengkap rasanya apabila tidak mengunjungi Wisata Belanja Tugu. Acara ini sama-sama digelar setiap minggu pagi, bedanya acara ini diadakan di Jalan Semeru yang terhubung langsung dengan Jalan Ijen di mana gelaran CFD diadakan.

Bagi anda yang ingin memuaskan hasrat belanja, disinilah tempat yang pas. Karena anda akan menjumpai deretan tenda yang menjual berbagai macam barang, mulai dari keperluan sehari-hari, berbagai macam aksesoris, sampai aneka kuliner dapat anda temukan disini.

Jika anda memulai perjalanan dari jalan Ijen, anda akan menjumpai tenda yang menjual pakaian mulai anak-anak, perempuan, dewasa, kaos arema, aksesoris seperti ikat pinggang, sepatu, tas, topi, kacamata, dan masih seabrek lagi barang lainnya. Soal harga?? Nggak perlu khawatir, selain terjangkau juga masih bisa ditawar lho.

Setelah berolahraga dan berbelanja, kini saatnya memanjakan perut karena begitu anda berputar jalan dan kembali, maka anda akan menjumpai deretan tenda yang menjajakan aneka macam kuliner. Mulai dari jajanan tradisional seperti gethuk lindri, cenil, lupis, klepon hingga kue modern seperti pizza dan burger semua tersedia. Bila jajanan itu kurang ampuh untuk ‘menjinakan’ perut anda, ada berbagai makanan seperti nasi pecel, nasi jagung, nasi rames, nasi uduk, sate, rawon dan masih banyak lagi.

Dua acara tersebut dapat dijadikan alternatif liburan pendek, terutama mahasiswa yang terlalu sibuk di kampus. Wah..minggu pagi di kota malang, siapa takut!!

About Love

"Berterimakasihlah kalian yang masih dikarunia anugerah berupa perasaan cinta. Berbahagialah kepada kalian yang sekarang dapat merasakan indahnya jatuh cinta. Jangan pernah takut untuk merasakan lagi yang namanya jatuh cinta, karena cinta itu anugerah dan pasti ada hikmah di dalamnya. Biarkanlah cinta itu datang menyapa kalian, dan biarkan pula cinta itu berproses dengan sendirinya, tak perlu dipaksakan. Maka dari itu, nikmatilah setiap perjalanannya dari cinta kalian. Entah bagaimana perasaan yang kalian rasakan karena cinta. Senang, sedih, bahagia atau bahkan derita sekalipun itu merupakan satu paket. So, enjoyed
.

Hikayat Sebuah Pilihan

Kelemahan terbesar dari setiap manusia adalah : kemampuan dirinya untuk memilih.

Memilih, adalah hal yang sering kita dengar dalam kehidupan kita sehari-hari. Hampir setiap saat kita dihadapkan pada suatu pilihan, terlepas apakah pilihan itu dalam skala kecil atau besar?
Semuanya tetap membutuhkan keputusan kita. Keputusan untuk menentukan pilihan.

Sejak kecil kita telah dihadapkan sekaligus diajarkan dengan yang namanya memilih. Dalam setiap ujian misalnya, tentu masih ingat bagaimana kita memenuhi lembar demi lembar kertas ujian dengan pilihan kita, dan pada akhirnya pilihan kita dinilai oleh orang lain yang kita sebut dengan : guru.
Nilai yang baik tentu adalah indikasi bahwa banyak pilihan kita banyak yang benar, dan sebaliknya nilai yang buruk adalah cermi
n kalau pilihan kita telah banyak yang salah.

Itu semua terjadi sewaktu kita kecil, saat dimana kita masih diajarkan tentang dua hal : mana pilihan yang benar dan mana pilihan yang salah.
Dan saat ini waktu telah melaju dengan kecepatan yang tak terkendali, membawa kita melewati masa kecil itu sebagai sebuah pembelajaran dan kenangan. Dan kini, kita sudah dihadapkan pada suatu kata yang bagi sebagian orang terasa berat karena membutuhkan tanggungjawab besar, dewasa.

Terlepas di saat kita masih kecil atau sekarang kita telah bermetamorfosis menjadi fase dewasa, pilihan akan selalu hadir dalam setiap langkah kita.
Tapi, Pernahkah kita yang mengaku telah dalam fase dewasa ini menilai sendiri setiap pilihan-pilihan kita???

Bagi saya sendiri, memilih bukan lagi tentang benar dan salah, tentang nilai baik atau buruk, tentang sesuai atau kurang sesuai, bukan semua itu. Tapi, memilih adalah proses, proses untuk menjadi berani, berani memikul tanggungjawab atas semua resiko-resiko dari pilihan kita. Terlepas apakah pilihan kita itu benar atau salah. Setidaknya kita menjadi tahu, mana yang baik bagi kita dan mana yang kurang baik bagi kita, karena kita sendiri yang menilai pilihan kita masing-masing. Bukan lagi bapak ibu guru atau bahkan orang lain.

Bagi kita semua yang masuk fase dewasa, menentukan pilihan tidak semudah yang kita bayangkan. Bukan sekedar menentukan pilihan dan menerima resiko yang ada, bukan sesederhana itu. Memerlukan berkali-kali pemikiran hanya untuk sekedar mengatakan "iya" atau "tidak".
Mungkin banyak faktor yang membuat : menentukan pilihan adalah kelemahan terbesar dari setiap manusia. Dan sampai saat ini, saya termasuk salah satu manusia dalam pernyataan tersebut.

Tapi mau tak mau, senang tak senang, kita harus menentukan pilihan kita, menentukan sikap apa yang kita ambil, menentukan kemana arah selanjutnya kita melangkah, dan menentukan jalan hidup yang kita jalani.

Hidup ini adalah pilihan, setiap pilihan tak lepas dari sebuah resiko, dan semoga tak ada kata sesal atas apa yang menjadi pilihan kita.

....

Friday, 11 November 2011

Aku Hanya Ingin Melanjutkan Hidup (Saja)

Pagi ini, masih sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Aku masih sulit untuk terbagun di pagi buta, aku juga masih suka menatap kaca di sebelah jendela. Mandi, membersihkan kamar, makan, dan lain sebagainya. Seperti yang kubilang tadi, pagi ini masih sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Nyaris tak ada beda.

Namun kesamaan itu hanya terletak pada apa yang aku lakukan sehari-hari, dan aku biasa menyebutnya dengan sebutan : rutinitas. Ya, memang sebuah rutinitas itu selalu sama dengan yang terjadi sebelumnya, bahkan seperti yang kubilang di atas : nyaris tanpa beda. Tapi sekali lagi kesamaan itu hanya terletak pada sisi rutinitas saja. Tidak lebih.

Ada perasaan berbeda ketika aku membuka mata di waktu yang menurutku masih pagi buta. Ada semacam perasaan tak nyaman bila dibandingan dengan pagi-pagi sebelumnya. Kali ini rasanya : nyaris tak pernah sama.


Aku masih ingat betul kejadian hari itu, kejadian yang menurutkan sebagai penyebab utama dalam ketidaknyamananku melakukan rutinitas pagi ini. Apalagi kalau bukan masalah cinta, lebih spesifiknya putus cinta. Terdengar klise memang, tapi itulah yang sedang kurasakan saat ini. Saat dimana kerapuhan hati terjadi. Yang dulunya kuat seperti Superman, kini mendadak lemah seperti Hello Kitty. Memang kejadian tersebut telah terjadi beberapa waktu yang lalu, namun dampaknya masih terasa sampai saat ini. Setiap aku terjaga menyambut pagi.

Dalam benak, aku tak pernah merencanakan hal ini terjadi di dalam hidupku, karena aku tahu pasti akan sakit rasanya. Tapi ketika Tuhan yang me
rencanakan hal ini harus terjadi, apa manusia lemah seperti kita ini bisa menahannya?? Aku rasa kalian sepakat denganku untuk berkata tidak.

Menurutku kejadian semacam ini sangatlah lumrah terjadi di kalangan manusia yang sedang menjalin hubungan asmara. Tidak hanya remaja dan kaum dewasa, bahkan orang tua pun rentan akan hal putus cinta. Hanya yang membedakannya adalah bagaimana kejadian itu dialami. Apakah putus cinta seperti yang banyak dikisahkan dalam novel remaja, bercerai dengan istri yang telah lama mendampingi kita, atau saat tiba ajal ketika lapuknya usia. Sekali lagi menurutku itu semua masuk dalam kategori putus cinta. Putus, karena cintanya sudah tak lagi bersama.

Pedih, mungkin itulah yang kita rasa. Ada semacam perasaan yang tak menentu dalam diri kita. Menjadi mudah marah, sering diam, dan tak banyak tertawa seperti sebelumnya. Lebih tepatnya kita menjadi sangat sensitif. Tapi sampai kapan kita harus setia dengan perasaan itu?? Aku tahu rasanya memang sakit, atau yang lebih parah kita sudah tak bisa lagi merasakan kalau sebenarnya perasaan kita sedang “sakit”. Hampa.

Oleh karena itu, aku yakin kalian semua pasti ingin segera, bukan itu, lebih tepatnya ingin cepat-cepat meninggalkan keadaan itu, pergi dan berharap tak pernah bertemu lagi. Tapi pertanyaannya, bagaiman caranya?? Karena pasti tak semudah menghabiskan jajanan di hari raya.

Aku terdiam lama di depan layar kaca, mataku sampai panas terkena radiasi cahaya yang entah berapa lama terus menerpa bola mata. Aku bangun, berdiri, duduk bahkan beberapa kali sempat berbaring. Terdengar bunyi detik jam yang begitu mendominasi indera pendengarku, seakan terus memacu otak untuk segera menemukan jawaban atas pertanyaanku sendiri. Sialnya, aku masih belum bisa menemukan jawaban atas pertanyaan sederhanya tersebut. Pertanyaan untuk diriku sendiri.
----------------
Aku hanya ingin melanjutkan hidup. Ya, aku hanya ingin melanjutkan anugerah terindah dari Sang Pencipta, sebuah kehidupan. Aku tahu ini semua memang sakit, bahkan pedih. Lantas apakah dengan itu semua hidup kita akan berhenti sampai disini. Rasanya terlalu sayang kalau hidup yang diberikan ini harus diisi dengan perasaan yang sebenarnya kita ingin cepat-cepat meninggalkannya, namun karena terlanjur berlarut-larut memikirkannya dan pada akhirnya membuat hidup kita seakan berakhir sia-sia. Mati tak berdaya.

Aku hanya ingin melanjutkan hidup. Bagaimana carannya?? Aku pikir dengan kembali melakukan rutinitas sehari-hari, mengisinya kembali dengan senyum dan tawa pengusir sepi yang mungkin kita sudah lupa bagaimana caranya. Menghidupkan kembali mimpi-mimpi yang pernah ada, baik yang sudah terencana atau masih sebuah wacana. Butuh waktu?? Memang jelas adanya. Karena orang yang sakit pasti memerlukan masa penyembuhan setelah masa pengobatan untuk bisa dinyatakan benar-benar sembuh dari penyakit yang dideritannya.

Sekali lagi, aku hanya ingin melanjutkan hidup (saja).

Balada Mahasiswa Semester Tujuh

Saya adalah salah satu dari sekian banyak mahasiswa yang sekarang sedang berada di semester tujuh.

Berbicara soal semester tujuh adalah berbicara tentang sebagian akhir cerita dari kehidupan kita di kampus. Menurut saya, semester tujuh adalah kondisi dimana sudah dapat dikategorikan kedalam semester “stadium akut”, walaupun resiko bahayanya tak sebesar dengan semester-empat-belas, tapi berada di semester tujuh sudah membuat sebagian besar mahasiswa merasa tertekan di dalamnya. Mereka semacam tertekan oleh dua hal : akademis dan psikologis.

Mari kita telaah bersama.

Pertama, tertekan secara akademis adalah kondisi dimana kita harus disibukkan dengan segala macam urusan terkait dengan “mahakarya” terakhir kita bernama skripsi. Mulai dari memilih judul yang tepat, bersabar menunggu dosen untuk bimbingan, dan mulai terbiasa “nongkrong” di perpus untuk melakukan sejuta jurus “pedekate” dengan berbagai macam jenis buku yang mungkin belum pernah kita lakukan sebelumnya.

Bagi mahasiswa yang termasuk “strata akademis tinggi”, hal seperti itu bukan lagi merupakan suatu masalah berarti bagi mereka. Karena pada dasarnya rutinitas mereka s
etiap hari ketika berada di kampus juga nggak pernah jauh dari kegiatan tersebut. Mulai dari baca buku di perpus, mengerjakan tugas kuliah, diskusi dengan teman sekelas, dan masih seabrek lagi kegiatan mereka. Mungkin para mahasiswa “strata akedemis tinggi” sudah mengetahui kondisi atau paling tidak punya gambaran bagaiamana nanti jika harus berurusan dengan “mahakarya” terakhir mereka masing-masing. Oleh karena itu, jauh-jauh hari mereka telah mempersiapkannya dengan matang dan terencana.

Tetapi bagi mahasiswa yang strata akademisnya dapat dianalogikan sebagai “rakyat jelata”, berada di semester tujuh adalah neraka bagi mereka. Jangankan harus berurusan dengan BPN (buku, perpus dan nunggu), diperbolehkan masuk kelas dan duduk dengan tenang saat berlangsungnya kuliah sudah menjadi kebanggaan bagi mereka. Karena pada dasarnya mahasiswa dengan strata akademis “rakyat jelata” ini kurang begitu akrab dengan kegiatan akademis mahasiswa pada umumnya. Mereka terbiasa dengan kondisi santai kaya berjemur di pantai, tenang kaya ngambang di selokan, dan makmur kaya pas nyemplung sumur. Oleh karena itu, ketika berada di semester tujuh, strata merekalah yang paling tidak siap ketika harus menghadapi kenyataan. Mereka cenderung tidak siap dengan akhir dari perjalanan cerita mereka. Apalagi jika ditambah dengan berbagai beban target yang harus dicapai seperti nilai IPK kumlot, lulus dalam waktu 3,5 tahun atau apalah targetnya. Terlepas siapapun yang telah memberikan target tersebut, yang jelas mereka tertekan secara akademis.

Kedua, tertekan secara psikologis adalah dimana ketika kita disibukkan dengan mencari pendamping saat foto wisuda. Perlu diperjelas disini, bahwa pendamping foto wisuda yang dimaksud bukanlah orang tua, saudara, atau teman sejawat, bukan itu semua. Kalau dengan mereka sudah merupakan suatu keharusan dan tidak perlu dicari lagi keberadaannya. Akan tetapi yang dimaksud adalah pendamping foto wisuda yang setidaknya bisa dijadikan kenangan sekaligus cerita untuk anak cucu kita nantinya.

Ada semacam fenomena menarik ketika memasuki semester tujuh, terlebih bagi mahasiswa yang sedang berada di dalamnya. Bisa dibilang semester tujuh adalah semester kawin bagi para mahasiswa, dimana banyak ditemukan para mahasiswa yang mulai sibuk untuk mencari pasangan, entah itu untuk foto pendamping wisuda atau alasan lainnya. Sudah seperti musim kawin beruang ketika selesai masa hibernasi di musim dingin. Ramai.

Bagi mereka yang telah mendapatkan pandamping foto wisuda tentu tekanan psikologis yang mereka rasakan saat semester tujuh tidak sebesar mereka yang belum memiliki pasangan foto pendamping wisuda. Jika para mahasiswa yang belum mempunyai pasangan cenderung bergeriliya siang malam untuk mencari pendamping poto wisuda, bagi mereka yang telah memiliki mulai melakukan hal yang membuat “mereka” yang belum punya pasangan menjadi semakin gerah. Hal itu adalah : merilis foto bersama pasangan di jejaring sosial. Sudah semacam melakukan foto prawedding stratanya. Ironis.

Adanya istilah STMJ (semester tujuh masih jomblo) di kalangan para mahasiswa telah membuat para mahasiswa semester tujuh semakin tertekan secara psikologis. Anehnya, tekanan psikologis ini tidak membeda-bedakan jenis kelamin maupun “strata akademis” mereka, mau pria, wanita, pintar, atau lumayan pintar, bagaimanapun keadaan mereka, tekanan psikologis dapat menghampiri mereka kapan saja.

Ah, semester tujuh. Aku padamu..