Saturday, 23 August 2014

Tipe-Tipe Hubungan Percintaan Yang Bikin Bingung!!


Setiap manusia pasti pernah merasakan cinta. Dari merasakan cinta kemudian berlanjut ke tahap menjalin hubungan percintaan. Nah, ada hubungan percintaan yang wajar seperti yang banyak kita ketahui. Namun ada juga hubungan yang bikin kita bingung, mirip seperti serial Detective Conan. Iya, karena kita nggak akan pernah tahu bagaimana hubungan yang sebenarnya terjadi sebelum si pelakunya sendiri ngaku. Yang ada kita malah menebak-nebak. Bikin bingung!

Langsung aja saya bahas tipe-tipe hubungan percintaan yang bikin bingung. Cekibrooottt..

1. Teman baik

“Kalian berdua pacaran?”
“Enggak. Kita berteman aja kok. Teman baik.”


Mungkin pertanyaan dan jawaban di atas pernah kita alami sendiri. Iya, ngakunya cuma teman baik. Tapi kalo dilihat sering jalan berdua, suka cemburu kalo salah satu lagi jalan sama teman lain, gampang kangen kalo sehari nggak ketemu, suka ngatur-ngatur dengan alasan..

“Aku tuh peduli sama kamu.”

Kadang kalo malem-malem suka bilang kangen, kalo ketemu juga pake cipokan. Nah, sebagai teman kan kita jadi ikutan bingung. Dibilang pacaran enggak, dibilang teman tapi ada cemburu sama pake cipokan. Sumpah, bikin bingung.

“Kalian pacaran?”
“Enggak. Cuma teman baik.”


Meh.. (-___-) *harakiri*

2. Berhubungan Baik

Pacarannya sudah sama orang lain. Tapi sayang-sayangannya masih sama mantan. Itu ada, banyak.
Satu lagi nih hubungan yang bikin saya bingung mirip seperti yang di atas. Kenyataannya sudah putus, sudah pacaran dengan orang baru, kesimpulannya sudah bisa move on dong. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Iya, masih sering ngasih perhatian sama mantan, masih suka bilang kangen tiap malam, kadang kalo pesan atau BBM nggak dibales ngambek terus marah-marah, kadang juga masih sering jalan berdua, kadang masih cipokan juga. Tapi kalo ditanya..

“Loh, bukannya kalian sudah putus?”
“Iya, tapi kita masih berhubungan baik kok.”


Meh.. (-___-) *harakiri*

3. Tak Terlihat


Bagi sebagian orang, bisa menjalin hubungan dengan orang lain adalah kebanggaan. Makanya sampe dipublikasikan di media sosial dan sebagainya. Nah, bagi sebagian yang lain justru harus diharasiakan, kalo bisa dari siapapun. Bahkan dari teman dekatnya sendiri.

Ini yang saya alami, pas khusuk lihat cicak kawin di dinding tiba-tiba dapat pesan dari temen deket kalo dia mau nikah. Apa? Nikah? Sebagai teman yang normal pasti kaget lah, apalagi teman deket. Takutnya kan udah “berisi” duluan..
(ini barbuknya)


Tapi pas di atas pelaminan dia ngomong..

“Sudah jalan setahun kok. Maaf nggak ngasih tau. Hehehehe..”

Udah gitu doang. Sebagai temen dekat saya merasa gagal. Bangke!

(-___-)
*harakiri*

4. Friendsh*t.

Kadang, hubungan percintaan itu diawali dari hubungan pertemanan. Terkadang juga, yang diawali dari hubungan pertemanan tidak selalu berujung menjadi hubungan percintaan. Padahal sudah berteman lama, levelnya sudah bukan teman lgi tapi sahabat. Kadang kalo nggak ketemu bilang kangen, kemana-mana jalan bareng, suka ngobrol sampe nggak tau waktu, kadang diakhir pembicaraan bilang..

“Kita ini gimana sih?”
“Nggak tau. Tapi yang jelas aku nyaman sama kamu.”

Nah, hal seperti inilah yang bikin bingung. Tapi begitu keyakinan terkumpul, dan pernyataan itu terlontarkan, yang di dapat adalah..

“Aku sudah anggap kamu sahabat. Sahabat yang baik banget.”

Yah.. yang seperti inilah yang bikin canggung satu sama lain. Dan.. pada akhirnya FRIENDSHIP berubah jadi FRIENDSH*T.

Meh.. (-___-) *harakiri*

Wednesday, 21 May 2014

Pertempuran Hati

Apa yang ada di dalam pikiran kamu ketika mendengar kata pertempuran?


Sesuatu yang mengerikan? Perkelahian massal?


Pernahkan kamu mengalami pertempuran?


Pasti jawabannya tidak. Hampir dapat dipastikan setelah mendapat kemerdekaan, tidak ada lagi pertempuran yang ada di negeri ini. Yang ada pertempuran mempertahankan kemerdekaan dan pemberontakan-pemberontakan internal di bangsa ini. Selebihnya, mungkin hanya pertempuran sebagai pagelaran budaya beberapa masyarakat saja.


Tapi kali ini saya mengalami pertempuran. Serius. Namanya pertempuran hati.


Saya pernah bilang kalau kelemahan terbesar seorang manusia itu adalah kemampuan mereka dalam memilih. Tentu memilih yang terbaik bagi mereka. Tapi yang ada tetap sulit. Misalnya menentukan pilihan atas dua pilihan yang tersisa. Memilih kebahagiaan untuk diri sendiri, atau memilih kebahagian untuk orang yang paling kita sayangi, katakanlah orangtua. Intinya sih sama-sama membuat bahagia. Hanya yang satu membahagiakan diri sendiri, efeknya mungkin orang di sekitar kita akan ikut merasakan bahagia. Sedangkan yang lain, membahagiakan orang lain. Tentu orang yang kita bahagiakan tersebut akan bahagia. Tapi apakah kita juga ikut bahagia. Belum tentu. Mungkin tersenyum atau tertawa sekencangnya, tapi belum tentu batin kita juga melakukan hal yang sama.


Dan memilih semuanya tentu punya resiko yang besar. Paling tidak memerlukan usaha yang lebih keras daripada memilih satu diantaranya.


Apa harus menunggu?


Kalau itu yang dilakukan juga mau sampai kapan. Sampai kapan bakal menunggu pertempuran yang sama sekali belum tahu kapan akan berakhir. Dan berada di masa itu adalah sulit. Sumpah sulit. Tapi bukankah setiap kesulitan pasti ada jalan?


Jalan itu hanya menyerahkan semua kembali kepada Tuhan. Itu yang saya tahu ketika kita sudah tidak mampu lagi mengatasinya sendiri. Kita kan manusia, punya keterbatasan dalam segala hal. Kalau kita sudah mampu mengatasinya ya pilihan terbaik adalah mengembalikan itu semua kepada yang menciptakan kita bukan?


Sambil terus melakukan apa yang menurut kita terbaik. Apapun yang dipilihNya untuk kita, apakah memilih kebahagian untuk orang lain, atau untuk diri sendiri. Pasti itu yang terbaik.


Toh sebenarnya kita dilahirkan di dunia ini untuk mencapai tujuan yang baik. Secara tidak sadar pemikiran dan ego kita sendiri yang membawa kita belok dari tujuan awal kita yang baik. Belok kesana kemari nggak jelas mau kemana yang mungkin menurut kita itu baik. Sehingga Tuhan sengaja menaruh kerikil, sampai batu-batu besar untuk menghadang langkah kita. Mungkin itu yang kita sebut masalah. Sampai kita mengumpat nggak karuan kesana kemari mengeluh nggak jelas kesana kesini. Menganggap ini semua nggak adil karena merusak rencana kita untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan. Sesuatu yang sudah kita rencanakan dengan matang. Sesuatu yang kita anggap baik.


Satu dua tahun itu berlalu. Coba kita berfikir dengan pikiran tenang, pikiran logis, dan hati yang sudah tertata. Tuhan melakukan semua ini juga bukan tanpa tujuan. Dan tujuannya itu baik kok. Karena berkat kerikil, atau baru besar sekalipun yang dulu kita sebut masalah, sebenarnya itu cara Tuhan untuk membelokkan dari  jalan salah yang kita tempuh, belok-belok-belok-belok entah berapa kali belokan sampai kita kembali ke jalan kita, tujuan kita. Jalan yang terbaik.


Maka nggak ada yang perlu disesalkan dari setiap masalah yang kita hadapai, setiap masalah yang diberi Tuhan. Tuhan itu sayang banget sama kita. Sumpah. Karena kalau tidak sayang sama kita, Tuhan juga nggak mau repot-repot megingatkan kita.  Tidak mau mengingatkan kita dengan memberi masalah kalau tidak kita sendiri yang salah dalam melangkah. Logikanya Tuhan nggak akan pernah menaruh kerikil atau batu besar itu di hadapan kita kalau kita nggak salah jalan dari jalan utama kita.


Sudah paham?


Iya.. karena fungsinya kerikil dan batu kan supaya kita belok kembali ke jalan awal kita. Nah, kalau berapa banyak beloknya saya nggak tahu. Mungkin berbanding lurus dengan seberapa banyak kita salah langkah.


Jadi, beruntunglah kita yang sudah kembali ke jalan dimana tujuan awal kita ditetapkan. Karena tinggal menarik gas sekencangnya maka tujuan itu akan semakin cepat dapatkan. Tentu dengan berusaha dan berdoa agar kita tidak banyak belok-belok lagi. Insyallah...

Friday, 9 May 2014

Menikmati Malam


Entah kapan saya memulainya, tapi yang jelas ada kesenangan tersendiri ketika malam itu tiba. Sinar matahari yang menyilaukan mulai redup, dan memudar merah jingga. Orang menyebutnya dengan senja.

Jujur, saya kurang menyukai siang hari. Orang berlalu lalang di jalan, sibuk dengan urusan masing-masing, seperti tidak mau kalah dengan berbagai macam kendaraan yang juga silih berganti menghiasi badan jalan. Terlihat seperti saling berdesakan.

Bagi sebagian besar orang, menjalankan rutinitas di siang hari dan beristirahat di malam hari adalah sebuah hal yang biasa. Sehingga bisa disebut sebagai sebuah kewajaran, tapi tidak dengan saya. Justru saya lebih menikmati rutinitas saya di malam hari. Bukan berarti saya tidak beraktifitas di siang hari, saya lebih menikmati waktu saya di malam hari. Iya, lebih menikmati waktu di malam hari.

Orang bilang saya aneh, dan saya baru menyadarinya. Menyadari bahwa saya ini memang (sedikit) aneh. Entah kapan memulainya, saya menjadi suka berjalan sendirian menyusuri jalan, di tengah malam atau bahkan dini hari hanya untuk melihat langit di atas, merasakan suasana malam dan juga melihat sedikit hiruk pikuk manusia di tengah malam. Waktu yang bagi sebagian besar orang digunakan untuk mengistirahatkan tubuh, setelah menjalani aktifitas seharian.

Kadang saya mengendarai motor hanya untuk berkeliling melihat keidupan malam di Malang. Banyak hal yang saya jumpai, mulai tukang nasi goreng yang merapikan gerobak dan bergegas pulang, beberapa anak jalanan yang mulai menggelar kardus temuannya di emperan pertokoan, atau beberapa petugas kebersihan jalan yang mulai mendatangi satu per satu tempat sampah di penghujung malam. Belum lagi tempat hiburan malam yang memang sesuai namanya, menggelar berbagai hiburan di saat malam.

Meski tidak sering, tapi ritual semacam itu sering saya lakukan. Dan ketika pagi menjelang, saya baru bisa memejamkan mata. Seperti binatang nokturnal, yang menjalani sebagian besar hidup di malam hari. Bedanya saya bukan menjalani hidup, tapi menikmati setiap malam saya. Mungkin karena itulah saya susah bangun pagi. Iya, karena saya memulai tidur juga sudah pagi. Hehehe..

Jika siang hari sudah diisi dengan penuh hiruk pikuk kehidupan, lantas.. apakah rela jika malam hanya diisi dengan keheningan dan kesunyian?

Saya justru salah seorang yang menikmatinya. Iya, menikmati malam..


Wednesday, 30 April 2014

Lagu-Lagu Tentang Patah Hati Yang Justru Membuat Kita Semangat



Lagu merupakan hasil karya cipta anak manusia. Banyak hal yang bisa dijadikan tema seseorang untuk membuat lagu, misalnya saja cerita tentang cinta. Ada cerita cinta yang bahagia, ada pula cerita cinta saat patah hati.
Kalo mendengar lagu cinta yang bahagia biasanya kita juga ikut bahagia. Sebaliknya, kalo mendengar lagu patah hati biasanya kita jadi ikut sedih, galau..bahkan sampai nangis di dalam kamar mandi. Karena, mungkin perasaan kita terwakili oleh lagu yang kita dengarkan.

Tapi bagi seorang musisi, memiliki cara yang berbeda untuk menyuarakan perasaan yang mereka rasakan lewat lagu, misalnya patah hati. Nah, kali ini sayaakan membahas lagu-lagu patah hati yang justru bikin kita jadi semangat lagi. Kok bisa gan? Ya, intinya cara membawakan lagu-lagu berikut ini terkesan bukan lagu patah hati meskipun liriknya sangat dalam. Hmm..

Langsung aja saya bahas. Cekibroooottt...

1. Flanella – Apa Daya

Lagu ini dirilis oleh Flanella sekitar tahun 2005, soalnya saya masih SMA. Musik di lagu ini “ringan” banget, jadi enak buat di dengerin. Padahal liriknya bercerita tentang seseorang yang gagal mendapatkan pujaan hatinya dan berfikir untuk mencoba lain waktu kembali. Berikut petikan liriknya..

Apa daya hatiku tak sampai
Tuk dapatkan cinta darimu
Apa daya ku tak menarik lagi
Mungkin lain waktu ku kan mencoba..


Ya kalo ditolak, mungkin lain kali bisa mencoba lagi kan? Pemikiran sederhana dan saya suka..

2. Peterpan – Menghapus Jejakmu

Lagu ini adalah single pertama Peterpan setelah ditinggal dua personilnya. Lirik yang dalam di balut dengan musik yang bisa bikin kepala “ngangguk” kecil pas dengerinnya. Lagu ini bercerita tentang seseorang yang pengen melanjutkan hidup dan terlepas dari bayangan mantan. Mungkin kalo istilah sekarang “Move On”. Berikut petikan liriknya..

Engkau bukan segalaku
Bukan tempat tuk hentikan langkahku
Usai sudah semua berlalu
Biar hujan menghapus jejakmu..


Yah, namanya hidup kan harus berlanjut. Kalo masih dibayangi mantan dan itu bikin nggak nyaman, mending di hapus saja.. Susah sih, tapi pasti bisa..

3. Tipe X – Tanda-Tanda Patah Hati

Sekilas, lagu ini terdengar konyol dan lucu. Yap, apalagi dibalut musik ska khas Tipe-X. Nggak ada yang menyangka kalo ini sebenarnya lagu sedih karena patah hati. Lagu ini bercerita tentang seorang cowok yang punya firasat nggak enak, kemudian melihat sendiri ceweknya sama cowok lain. Ternyata ceweknya pintar bersandiwara dan akhirnya bikin patah hati. Berikut petikan liriknya..

Bim salabim kucing kawin sempat nyaris mati berdiri
Lihat kamu sama lelaki bikin aku patah hati
Percaya nggak percaya mau nagis nangis malu abis
Bukan mimpi ini nyata, kamu bikin aku gila..

Buat kalian yang mungkin punya kisah yang sama, lagu ini bisa ditaruh di playlist..

4. Cross Bottom – 9 Tahun

Cross Bottom merupakan salah satu band favorit saya, karena genre musiknya yang langka yaitu country. Lagu “ 9 Tahun” ini dulu sempat jadi pilihan banyak pendengar di radio-radio. Lagu ini bercerita tentang perjuangan cinta seorang cowok selama sembilan tahun, namun justru berakhir dengan menderita karena pasangannya mendua. Berikut petikan liriknya..

Sembilan tahun lamanya tak ku duga jadi sia-sia
Ku berjuang demi cinta kini sudah tak ada artinya
Engkau telah berpaling menjauh dariku..

Nggak selamanya yang sudah bertahan lama itu akan berkahir dengan bahagia. Kalo disini ada dari kalian yang punya cerita sama, silakan dengar lagu ini..

5. Endank Soekamti – Semoga Kau di Neraka

Endank Soekamti dikenal dengan karya lagunya yang nyeleneh, kocak dan lain dari biasanya. Salah satunya lewat lagu ini yang menceritakan tentang patah hati karena putus cinta, namun liriknya yang justru nggak menye-menye. Sumpah laki-laki banget liriknya, laki-laki yang berusaha kuat untuk merelakan. Berikut petikan liriknya..

Dan tak ada air mata yang tersisa semestinya
Semoga kau di neraka bersamanya
Semua harus kurelakan untuk apa kusesalkan
Putus tiga cintaku tumbuh sejuta..


Ya, kalo putus cinta mau gimana lagi. Pada akhirnya kan kita harus merelakan, dan bersiap untuk tumbuhnya cinta yang baru.. Gitu.

6. Sheila On 7 – Betapa

Sheila On 7 adalah salah satu band fenomenal di negeri ini. Banyak karyanya yang bisa dibilang “Everlasting”. Betapa adalah salah satu karya mereka yang saya suka. Liriknya yang sebenarnya dalam namun terkesan nggak cengeng karena dibalut musik yang lumayan menghentak. Lagu ini bercerita tentang seseorang yang perasaannya hancur karena putus cinta, dan mencoba untuk menutupi kesedihannya dengan senyum palsunya. Bener-bener jujur, manusiawi banget. Berikut petikan liriknya..

Seminggu setelah kau pergi
Teman silih berganti menghiburku
Berkata semua teratasi dan terus sembunyi di balik senyum palsu
Ku dengar dirimu tak sendiri lagi..


Yap, kowe rapopo toh??

7. The Rain feat. Endank Soekamti

Masih dari Jogja, kali ini adalah band The Rain. Lama nggak merilis album, The Rain justru mengeluarkan single terbarunya di akhir tahun 2013 kemarin bekerja sama dengan band Endank Soekamti yang berjudul “Terlatih Patah Hati”. Lagu ini bercerita tentang seseorang yang sering kandas dalam hubungan percintaan, sampai akhirnya terlatih untuk itu semua. Yap, terlatih untuk patah hati. Keren banget ini lagu. Berikut petikan liriknya..

Terima kasih kalian barisan para mantan
Dan semua yang pergi tanpa sempat aku miliki
Tak satu pun yang aku sesali
Hanya membuat ku semakin terlatih
Begini rasanya terlatih patah hati
Hadapi getirnya terlatih disakiti
Bertepuk sebelah tangan (sudah bisasa)
Ditinggal tanpa alasan (sudah biasa)
Terluka itu pasti tapi aku tetap bernyanyi..


Yap, kenyataan cinta yang kita rasakan nggak semuanya berujung bahagia. Kadang justru banyak kegetiran yang kita rasakan, salah satunya harus merasakan banyak patah hati. Terluka sih.. tapi seperti yang dibilang The Rain.. harus tetap bernyanyi.. harus semangat lagi..

Nah itu tadi beberapa lagu anak negeri yang bertema patah hati yang menurut saya bisa bikin semangat lagi, bukan malah galau menjadi-jadi dan berakhir dengan nangis di bawah kran air kamar mandi. Duh..

Paling nggak setelah mendengar lagu-lagu di atas, kita nggak semakin terbawa dengan patah hati yang kita alami. Cukup dengan tersenyum, atau tertawa kemudian bilang,

“Gue pernah tuh ngalamin yang seperti itu.”

Seperti yang saya kutip dari biografi di twitternya The Rain..
..karena menertawakan getirnya hidup akan memperingan langkah..

Tuesday, 7 January 2014

Inilah Musim-Musim Dalam Perjalanan Cinta Kita!!


Paijo buru-buru mengendarai vespa bututnya selepas jam kuliah berakhir. Bukan apa-apa, langit yang semula berwarna biru sekarang sudah tertutup oleh awan hitam, sehingga menjadi gelap dan menandakan segera turun hujan. Begitu mesin nyala, tanpa nunggu persetujuan juru parkir, Paijo langsung menarik gas kencang-kencang. Bukan karena perutnya mules dan buru-buru sampe rumah biar nggak “keguguran” di jalan. Paijo hanya takut kehujanan, secara dia lupa bawa jas hujan.

Tapi yang namannya cuaca memang susah ditebak. Nggak jauh beda seperti emosi cewek yang sedang PMS. Begitu jalan beberapa meter, hujan langsung turun dengan derasnya. Breeeeeessss.... Paijo pun basah kuyup mulai ujung rambut sampai ujung kaki. Bahkan sampai ujung biji.

Biji mata maksudnya.

Melihat hujan yang semakin deras, Paijo menepikan vespa dan berteduh di emperan toko. Disana Paijo tidak sendiri, sudah ada dua orang yang juga berteduh, cowok dan cewek yang sedang duduk berdampingan di sebuah bangku panjang. Ya, mereka berdua pacaran, dan hanya Paijo yang duduk sendirian. Selanjutnya Paijo hanya bisa melihat adegan orang bermesraan di tengah hujan.

Itu menyakitkan.

Kata orang, kalo ada dua orang berduaan maka yang ketiga adalah setan. Disana, Paijo lah yang menjadi orang ketiga. Nggak ada yang lain. Daripada dikira setan, dan terus melihat pemandangan orang bermesraan, Paijo akhirnya bangkit dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.

“Mau nekat, Mas?”
“Iya. Udah basah kuyup juga.”
“Tapi hujannya masih deras loh..”
“Nggak apa-apa. Siapa tau hujannya juga bisa sampai hati saya yang lagi musim kemarau. Biar nggak terus-terusan kering.”
“Oh...”

Paijo langsung kembali ke jalan. Menerjang derasnya hujan yang turun. Yah, meskipun di luar tubuhnya diterpa hujan deras, tapi di dalam hatinya berasa musim kemarau. Kering kerontang, seperti nggak ada kehidupan.
Ironis.


Nah, kalo ngomongin soal perasaan memang nggak ada habisnya. Mau kejadian atau peristiwa apapun pasti bisa diplesetin ke hal-hal yang berbau perasaan. Mungkin orang-orang Indonesia terlalu peka dan cepat tanggap kalo urusan perasaan. Tuh lihat, Paijo aja yang kehujanan masih bisa mlintir hujan ke perasaan. Hujan memang turun, tapi hatinya masih berada di musim kemarau. Aih matih...

Perasaan itu identik dengan cinta. Kalo ngomongin soal cinta, pasti setiap orang pernah merasakan jatuh cinta. Dan setiap yang merasakan jatuh cinta pasti mempunyai cerita tentang perjalanan cinta mereka masing-masing.
Duduklah yang nyaman dan kencangkan sabuk pengaman!! Mari kita mulai. Inilah beberapa musim dalam perjalanan cinta kita...

1. Musim Kemarau
Musim kemarau ini lebih kepada mereka yang masih menyandang status jomblo. Iya, jomblo seperti Paijo di atas. Meskipun bagi sebagian orang tetap bisa bahagia dengan status jomblonya, namun pasti ada saat dimana hatinya yang kering butuh tetes-tetes air hujan untuk membasahi. Setidaknya kemarau di hatinya tidak berlangsung dalam waktu yang lama. Lihat aja tanah yang kena kemarau panjang. Udah kering, gersang, panas, bahkan sampai pecah-pecah. Coba kalo itu terjadi di hati kalian. Sudah bisa membayangkan?

Seperti yang kita ketahui, kalo di musim kemarau banyak sekali kegiatan yang dilakukan untuk meminta hujan. Apalagi kalo musim kemaraunya agak panjang. Misalnya, sholat minta hujan. Dimana banyak orang sholat berjamaah di ruangan terbuka di siang hari. Panas dong? Pasti. Ada juga ritual seperti tiban, dimana dua orang bergantian memukul badan lawan dengan menggunakan rotan atau lidi aren. Pasti sakit dong? Bisa berdarah dong? Jelas! Malah ada yang bilang semakin banyak darah yang mengucur, maka akan semakin deras pula hujan yang akan turun. Itu masalah kepercayaan.
Intinya, mereka semua tahu kalo musim hujan itu pasti datang. Karena setelah musim kemarau adalah musim hujan. Tanpa melakukan itu pun secara ilmiah musim hujan pasti akan datang. Tapi mereka rela berdoa di tengah terik siang yang panas, kesakitan bahkan keluar darah dari tubuh untuk meminta agar tetes-tetes air hujan segera turun. Nah, kalo mereka saja mau berbuat seperti itu untuk meyakinkan Tuhan agar segera turun hujan, kalian sudah melakukan apa untuk meyakinkan Tuhan agar segera mempertemukan dengan pasangan?

*kabur*

2. Musim Semi
Musim semi ini lebih kepada saat-saat PDKT. Iya, masa-masa pendekatan. Dimana pada saat ini kita mengenal cinta hanya pada satu hal yaitu : INDAH. Mulai dari kita kenal dengan seseorang, sampai kita berusaha untuk lebih kenal dekat yang ada hanya indah. Nggak ada yang namanya keburukan. Toh kalaupun ada pasti juga diabaikan. Ibarat bunga mawar yang mulai bersemi dan mekar, pasti yang pertama dilihat adalah keindahannya. Padahal dikelopak bunganya nempel tai ulet, tapi itu pasti diabaikan. Mungkin dimasa inilah yang dinamakan cinta itu buta. Iya, buta. Karena pandangan kita didominasi oleh kebaikan dan keindahan.
Dimasa ini kita mulai lebih perhatian dan peduli dengan orang yang kita pedekate-in. Karena di masa ini pasti kita akrab dengan pertanyaan seperti..

“Hei, lagi ngapain?”

Entah itu di lewat sms, media sosial, atau kartu pos (duh jadul banget). Setelah itu, bisa jadi harap-harap cemas sampai ketiduran gara-gara nungguin apakah pesan kita mendapat balasan atau tidak. Dan ketika mendapat balasan, malah kita yang nggak bisa tidur. Senyum-senyum sendiri di tengah malam sambil menatap layar henpon. Ada yang pernah?
Yap, seperti layaknya musim semi. Masa pedekate adalah masa yang paling indah..

3. Musim Hujan

Kalo musim kemarau itu jomblo, maka musim hujan adalah masa jadian. Iya, jadian. Dimana hati yang dulunya kering, gersang, panas dan pecah-pecah kini mulai dijatuhi rintik hujan yang perlahan membasahi. Rasanya pasti seger banget. Hati yang dulunya divonis “mati” kini telah segar dan mulai menemukan kehidupan kembali. Aih matih..

Ketika awal jadian maka sudah bisa dipastikan hujan perhatian dan kasih sayang bakal turun dengan lancar. Ibarat hujan yang turun di minggu pertama, pasti banyak yang dengan sukacita menyambutnya. Sama juga dengan orang yang baru jadian, masih indah-indahnya. Misalnya ketika jalan bareng sambil gandengan tangan, eh tiba-tiba kaki ceweknya terantuk batu. Langsung deh batu itu dimaki-maki..

“Eh batu, kampret lo! Pacar gue kesakitan tau! Kamu nggak apa-apa kan sayang?”
“Iya, nggak apa-apa kok.”


Dan terjadilah adegan si cowok yang mijitin kaki ceweknya.

“Lain kali hati-hati ya kalo jalan.”
“Iya. Makasih ya sayang.”

Indah banget. Halah...

Dan pada awal masa jadian, biasanya kita menjadi lebih perhatian terhadap pacar. Mulai sering bertanya keadaan pacar, kabar pacar, kegiatan pacar, udah makan apa belum, sama siapa sekarang. Banyak deh. Dan nggak lupa kadang menyisipkan kata “Muuuacchh” atau emoticon “:*” di akhir. Ada yang pernah?

Lagian kalo dipikir-pikir sepertinya lagunya kangen band.
Kamu dimana? Dengan siapa? Semalam berbuat apa?
Hmm...

Buat yang punya kebiasaan seperti di atas, perlu kalian tahu kalo pasangan kalian juga manusia. Manusia sosial biasa. Artinya punya kehidupan lain dan nggak hanya buat kalian, masih ada keluarga juga teman mereka. Lagian terlalu banyak perhatian itu jatohnya bikin pasangan malah nggak nyaman. Ibarat hujan yang turun setiap hari, kita jadi nggak bisa kemana-mana, jemuran nggak cepet kering, banjir dimana-mana, banyak deh. Akhirnya banyak kegiatan di luar rumah kita jadi gak berjalan dan hanya berdiam diri di rumah.

“Sayang udah makan?”
“Udah.”
“Sayang makan apa?”
“Makan ati.”

Nggak mau kan tanggepannya seperti itu. Perhatian memang penting, tapi sewajarnya sajalah...

4. Musim Panas
Musin panas ini adalah saat hubungan percintaan kita mulai menemui masalah. Yang namanya hubungan percintaan itu nggak selamanya indah dan berjalan mulus. Manusia bukanlah dua rel kereta api yang bisa terus sejajar dan beriringan mulai awal sampai akhir. Tapi makhluk yang dilengkapi ego dan emosi. Ketika dua orang dengan jenis demikian harus bersatu, pasti akan menimbulkan masalah mulai dari yang kecil sampai besar.

Menjalin hubungan hanya kelihatan indah, itu hanya ada di FTV. Karena kalo di dunia nyata, cowok bakal menghadapi “indahnya” berhadapan dengan cewek saat PMS. Mungkin begitu juga sebaliknya. Yap, inilah kenyataan.
Mulai ada rasa curiga juga cemburu yang bisa menimbulkan pertengkaran-pertengakaran kecil. Pertengakaran kecil menjadi pertengkaran besar. Pertengkaran besar menjadi masalah. Begitu seterusnya.

Mungkin ini yang dinamakan ujian.

Orang bilang rasa cemburu, masalah, pertengkaran itu adalah bumbu dalam percintaan. Tapi terkadang kita nggak sadar, terlalu banyak bumbu malah bikin makanan nggak enak. Misalnya aja makan daging rendang yang bumbunya pas dan nggak terlalu banyak, pasti rasanya enak dan masih berasa dagingnya. Coba bayangin makan empat potong daging rendang dengan bumbu segentong penuh.

Emang masih berasa dagingnya?

5. Musim Dingin
Musim dingin adalah saat dimana kita mulai bosan dan jenuh dengan hubungan percintaan yang kita jalani. Mungkin terlalu sering bertemu, melakukan hal yang monoton saja, atau mungkin ada alasan lain yang akhirnya membuat sifat kita menjadi “dingin” kepada pasangan kita. Iya, dingin dan nggak hanggat lagi seperti awal pedekate dan jadian.
Yang dulunya indah kini perlahan mulai hilang. Yang dulunya suka kirim kata “Muuuaaach” atau emoticon “:*” di akhir pesan juga mulai hilang. Begitu juga dengan perhatian...

Misalnya pas jalan bareng kemudian ceweknya terantuk batu, bukan lagi batunya yang disalahin, tapi malah ceweknya...

“Manja banget sih! Udah tau banyak batu, pake meleng lagi.”

Dan telihat adegan cowok berlalu tanpa menghiraukan lagi ceweknya yang kesakitan. Sedang si cewek, berusaha untuk terus berjalan sambil menahan sakit. Iya, sakit. Sakit luar dan dalam.

Semua mendadak dingin.

Mungkin ada masalah atau sesuatu yang memang harus dibicarakan berdua. Tapi susah kalo ada yang nggak mau terbuka. Pas ditanya jawabnya juga sama...

“Kamu kenapa? Ada masalah?”
“Nggak apa-apa.”


Tiba-tiba langsung ngetwit >>> Dan hubungan mendadak semakin dingin. Seperti kopi yang ditinggal asyik bermain catur selama berjam-jam. Rasanya dingin dan nggak nikmat lagi.

Ada yang pernah?

6. Musim Gugur

Musim gugur adalah saat dimana hubungan percintaan kita harus berakhir. Kita nggak pernah tau bagaimana akhir cerita percintaan yang kita jalani. Setelah melewati ujian di “musim panas” dan “musim dingin” apakah masih bisa bertahan atau harus gugur di tengah jalan. Berserakan dan berhamburan diterpa angin kencang. Aih matih..

Ada dua alasan kenapa tanaman itu gugur. Pertama, karena kekurangan zat makanan atau air yang dia butuhkan sehingga dia kering dan akhirnya gugur/mati. Kedua, dia memang sengaja menggugurkan bagian-bagiannya (biasanya daun) karena dengan cara itulah dia dapat mempertahankan hidup.

Sama seperti hubungan percintaan. Kalo dirasa banyak sakitnya daripada senengnya kenapa harus takut mengakhiri. Pohon saja masih bisa bertahan hidup setelah menggugurkan daunnya, masa kita yang manusia nggak bisa bertahan hidup hanya karena kehilangan pacar?

Memang sih kita bukan pohon, melainkan spesies yang lebih kompleks daripada pohon. Tapi sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan, apa salahnya kita saling belajar...

7. Musim Pancaroba

Sebenarnya musim ini nggak ada, musim pancaroba hanya istilah untuk masa peralihan dari satu musim ke musim yang lain. Terutama di daerah khatulistiwa seperti Indonesia, dimana hanya terdapat dua jenis musim, penghujan dan kemarau. Dan peralihan diantara keduanya itu dinamakan musim pancaroba. Musim peralihan.

Tapi kalo dalam percintaan, musim inilah yang paling berat menurut saya. Dimana disini adalah masa peralihan dari punya pacar menuju jomblo. Iya, dari mulanya ada pasangan menuju ke kesendirian. Agak berat...

Kenapa berat? Karena nggak mudah membiasakan hati dari yang awalnya terbiasa dengan “musim hujan” kini harus bersiap menuju “musim kemarau”. Kalo musim pancaroba asli, akan banyak ditemui banyak penyakit seperti pilek, meriang dan batuk. Hal ini dikarenakan daya tahan tubuh yang kurang prima. Sama seperti musim pancaroba di percintaan, dimana kalo kita nggak punya “daya tahan” hati dan perasaan yang kuat, bisa-bisa kita juga gampang sakit. Patah hati, nyesek, galau, dan gerombolan sejenisnya...

Lama tidaknya waktu yang dibutuhkan juga tergantung dari daya tahan orang yang kena “penyakit” tersebut. Bisa sebentar, bisa lama, bahkan bisa sangat lama. Bisa cepat sembuh, juga bisa berlarut-larut sakitnya.

Intinya sih kita harus belajar untuk adapatasi. Adaptasi dari “musim hujan” menuju “musim kemarau”, dan semua itu memerlukan waktu. Iya, semua itu memerlukan waktu...

“Yakinkan aku Tuhan, dia bukan milikku. Biarkan waktu, waktu..hapus aku. Sadarkan aku Tuhan, dia bukan milikku. Biarkan waktu, waktu..hapus aku.” Hapus Aku – Nidji.