Thursday, 4 December 2014

Ngapain Lihat-Lihat?

Tanpa kita sadari, hidup manusia berkaitan dengan banyak siklus.

Siklus pertama yang saya pelajari adalah siklus hujan. Saat masih SD, guru pelajaran IPA mengajarkan bahwa hujan terbentuk dari proses air laut yang menguap kemudian membentuk awan. Dari awan, turunlah hujan ke permukaan bumi. Air hujan yang turun sebagian masuk ke dalam tanah, sebagian lagi mengalir ke sungai dan bermuara di laut. Dari laut air menguap lagi, kemudian turun lagi hujan, begitu seterusnya. Entah benar atau tidak, yang jelas ketika hujan turun adalah saat paling tepat untuk menikmati semangkuk bakso pedas. Sepedas kenangan mantan. Ah.

Kehidupan yang kita jalani sehari-hari juga nggak bisa lepas dari siklus. Kita lapar, kemudian makan, nutrisi makanan menjadi energi, energi kita pakai beraktivitas dan sisanya kita buang setiap pagi. Besoknya seperti itu lagi, begitu seterusnya. Atau ketika kita beraktivitas, kemudian capek, kemudian ngantuk, maka selanjutnya kita akan tidur. Karena obat ngantuk hanya satu yaitu tidur. Suatu saat teman saya bertanya,

“Ngantuk nih. Enaknya diapain ya?”

Maka dengan penuh wibawa saya menjawab,

“Ya tidur lah, kalo ngantuk tapi nggak tidur itu artinya kamu mengingkari siklus.”
“Tapi satu jam lagi kan Final Liga Champions, Real Madrid vs Atletico Madrid. Masa kamu mau tidur, nggak mau nonton?”
“Oh iya! Nonton lah. Yuk, bikin kopi sama sambel.”
“Sambel buat apa’an?”
“Nanti kalo setelah minum kopi tapi masih ngantuk, itu sambel kamu oles-oles di pelupuk mata. Dijamin bakal kuat melek.”
“Heeh?! Kamu aja sendiri. Segala sambel dioles ke mata. Melek nggak, malah masuk rumah sakit. Lagian tadi ngasih ceramah nyuruh tidur. Pake bawa-bawa siklus segala. Giliran ada bola lupa semua!!”
“Hehehe..”


Saya cuma bisa nyengir. Yah begitulah, untuk mendapatkan sesuatu yang disenangi kadang kita harus “keluar” dari siklus masing-masing.

Selain berada di kehidupan sehari-hari seperti lapar dan tidur, saya juga percaya bahwa siklus itu ada dalam perjalanan cinta setiap manusia. Mulai dari masih sendiri, kemudian mengenal seseorang, melakukan PDKT, setelah itu pacaran, kadang ada pertengkaran, selanjutnya mungkin jenuh dengan rutinitas hubungan, dan pada akhirnya harus berakhir dan sendiri lagi.

Yap, suka tidak suka itulah siklus percintaan yang tanpa kita sadari.

Sama seperti yang saya alami saat ini. Setelah dua tahun lalu hubungan berakhir, maka selama dua tahun pula saya menjalani masa-masa sendiri. Dalam masa sendiri tentu ada suka dan duka.

Sukanya, nggak seberapa.
Dukanya, tak terkira.
Pahit banget.

Apalagi kalo mengisi formulir biodata, terutama pada kolom “STATUS”. Itu yang paling bikin dilema. Pertanyaannya cuma satu kata : STATUS. Tapi nyari jawaban pas itu yang bikin dilema. Mau nulis JOMBLO kok hina banget. Mau nulis SINGLE sejatinya sama saja. Setelah merenung sekian lama dengan mantap saya mengisi kolom STATUS : BELUM TERAKREDITASI. Karena untuk saat ini hati saya belum mendapat akreditasi dari cewek manapun.

Rasanya pedih. Sakitnya tuh disini *sambil nunjuk dada*

Tapi masa-masa itu sudah berlalu, dan siklus percintaan saya kini sudah memasuki fase baru. Pedekate.

Ketika masuk fase pedekate seperti sekarang ini, ada banyak hal yang berubah dari kebiasaan yang saya lakukan. Misalnya dalam hal menelpon cewek, dulu ketika saya bilang,

“Hallo..”

Maka dengan tegas, cewek diujung telepon menjawab,

“MAAF, SISA PULSA ANDA TIDAK CUKUP UNTUK MELAKUKAN PANGGILAN INI. SILAKAN LAKUKAN PENGISIAN PULSA..BLA..BLA..BLA..”

Rasanya pedih. Sakitnya tuh disini *sambil nunjuk dompet*

Tapi sekarang beda. Ketika saya menelepon cewek dan berkata,

“Hallo..”

Maka cewek di ujung telepon menjawab,

“Hallo.. Hei, kamu lagi ngapain?”
“Kan lagi nelpon kamu.”
“Hahaha.. Iya tau.”


Dari pertanyaan sederhana “Kamu lagi ngapain?”, bisa jadi obrolan yang panjang. Yang awalnya cuma sepuluh menit, kini menjadi satu jam. Dari yang satu jam, pada akhirnya akan berjam-jam. Yang tadinya ngobrol panjang, kini menjadi panjang x lebar x tinggi. Tapi itu semua terasa sebentar. Iya, masih terasa sebentar.

Jatuh cinta memang bikin aneh. Tapi nagih.

Dan.. cewek itu bernama Fika. Teman satu kampus tapi beda jurusan, beda fakultas juga beda jenis kelamin. Sebenarnya Fika adalah teman sekolah saya di SMA. Selama 3 tahun disekolah, tak sekalipun saya pernah berbicara dengannya. Sederhana, dari dulu kelas kita selalu berjauhan. Makanya saya juga tau cuma dari kejauhan.

Tapi bukan Tuhan namanya kalo tidak bisa membuat yang tadinya jauh menjadi dekat. Saat itu saya berada di stasiun, rencana liburan pulang ke rumah setelah bergelut dengan seabrek kegiatan kampus. Di stasiun itu juga, untuk pertama kali setelah lulus sekolah saya melihat Fika kembali, dan masih dari tetap dari kejauhan.

Iya, dari kejauhan.

Naluri saya mulai aktif kembali setelah sekian lama berusaha menyembuhkan diri. Dari sana saya mulai berani menyapa dan berusaha untuk bisa lebih dekat. Meskipun cuma sedikit kata. Tapi saya senang, setidaknya kini naluri saya mulai bermain.

Naluri seorang lelaki.

Sampai suatu hari saya beranikan diri untuk mengajak jalan Fika. Rasanya sudah terlalu sering ngobrol panjang lebar di telepon, saya pengen ngobrol dan bertemu langsung. Rasanya pasti beda. Ya, niatnya kencan pertama, tapi alasannya jalan-jalan. Ya pokoknya begitulah.

Ternyata Fika setuju, saya senang bukan main. Menjelang malam ada sebuah pesan datang,

“Aku baru selesai mandi. Kamu sudah berangkat?”

Begitu pesan dari Fika. Saya pun membalas,

“Iya, ini mau berangkat.”

Yah, ini adalah salah satu hari bersejarah dalam hidup saya selain berhasil keluar selamat dari ruang dokter sunat, juga mendengar kata putus dari mantan. Ah, sudahlah.

Saat itu saya memakai setelan celana jin dan kemeja hitam berlengan pendek. Kata orang, hitam itu menunjukkan sisi misterius. Malam itu saya ingin terlihat misterius, cool dan bikin penasaran. Jadi kalo saat itu saya mati, bisa diangkat jadi film dengan judul “Arwah Cowok Misterius Penasaran.”

Amit-amit!

Berbekal alamat yang diberikan tempo hari, saya berangkat mengendarai motor menuju rumah Fika. Lumayan jauh perjalanan, harus mendaki gunung, melewati lembah, sungai, dan samudera, mirip lagunya Ninja Hatori. Tapi akhirnya saya berhasil mendarat dengan selamat di depan rumah berwarna hijau, Rumah Fika.

“Assalamualaikum..Permisi..”

Saya mulai teriak-teriak di depan pagar rumah. Bolak-balik tapi nggak ada jawaban. Benar-benar mirip orang minta sumbangan. Tapi kalo dilihat dari setelan pakaian yang saya pakai, malam itu saya mirip sales panci lagi nyari mangsa malam-malam. Nggak berapa lama pintu dibuka, terlihat sesosok cewek keluar, kemudian tersenyum.

“Hei, akhirnya sampai juga. Kok gak masuk, malah di depan pagar?”

Jari saya menunjuk ke arah benda yang menggantung di pagar,

“Pagarnya digembok.”
“Oh iya lupa.”

Ngajak masuk rumah tapi pagarnya masih digembok. Itu sama aja seperti pengen move on dan nyari pacar baru tapi hatinya masih ditutup rapat. Pake gembok pula. Ya mana mungkin bisa!

“Kok sepi, yang lain pada kemana?”
“Lagi keluar ada acara.”
“Kamu nggak ikut?”
“Kan sudah ada acara sama kamu.”


Saya cuma nyengir. Hati rasanya seperti disiram obat batuk rasa mint. Semriwiiing..

“Mau pergi kemana?”
“Ngopi-ngopi aja yuk.”
“Boleh. Aku ambil jaket sama helm dulu ya.”

Sebelum berangkat, saya memandang langit di atas. Saya berdoa sederhana, Tuhan lancarkanlah hariku. Amin.

Motorpun melaju pelan, menyusuri ruas jalan. Menikmati saat berdua di atas motor. Sampai akhirnya kami berdua berhenti di sebuah kedai kopi yang nggak begitu ramai. Kami memesan dua cangkir kopi dan sepiring kentang goreng. Sambil menunggu pesanan datang saya pamit ke kamar kecil. Sedikit gugup dan hawa dingin adalah perpaduan yang pas untuk memaksa urine gak bisa ditahan. Begitu mau balik ke meja, saya melihat dua orang bapak-bapak memanggil saya. Saya sempat menoleh ke kanan kiri, nggak ada orang lain, berarti memang saya yang dipanggil. Firasat saya nggak enak, jangan-jangan mereka ini adalah Om-Om penyuka sesama jenis. Soalnya dulu pas naik kereta pernah kejadian. Keringat dingin mulai keluar.

“Bapak memanggil saya?”
“Iya, Mas. Em.. minta lihat daftar menunya.”
“Heeh?!


Kampret. Saya dikira pelayan.

“Maaf, Pak. Saya bukan pelayan sini.”
“Oh ya? Maaf.. habis bajunya hitam-hitam begitu.”


Saya langsung ngacir. Niat awal pake baju hitam-hitam biar dianggap misterius, cool dan bikin penasaran, jatohnya malah pelayan. Dari jauh Fika tertawa, meskipun sambil menutup mulutnya.

“Habisnya kamu pake hitam-hitam sih.”

Sesekali Fika masih tertawa. Justru itu yang menambah kecantikannya. Menurut saya, cewek itu keluar kecantikan alaminya saat dia sedang tertawa. Tentu tawa yang jujur dan nggak dibuat-buat. Apalagi dibayar untuk tertawa. Nggak banget. Atau tertawa cekikikan tengah malem. Itu serem banget.

Kami pun mulai ngobrol tentang banyak hal. Saya lebih banyak mendengar, sambil sesekali meminum kopi hitam di atas meja. Sampai saya agak terganggu dengan dua orang di sebelah saya. Terlihat seorang cewek dan cowok yang sedang ribut. Si cowok mencoba menjelaskan sesuatu, dan cewek lebih banyak diam. Sampai tiba-tiba,

Byuuurr...

Si cewek menyiram air minum ke tubuh cowok itu. Saya kira adegan seperti itu cuma ada di FTV. Ternyata di dunia nyata juga ada. Mungkin mereka penggemar FTV, makanya melakukan hal yang sama. Saya terdiam sambil terus melihat mereka berdua. Begitu juga pengunjung lain. Terlihat cewek itu berlari keluar, sementara cowoknya berdiri dan melihat sekeliling dan menjatuhkan pandangan ke arah saya. Karena saya yang berada tepat di sampingnya, kemudia melotot sambil berkata,

“Ngapain lihat-lihat?”

Spontan saya menjawab,

“Kan situ yang lihat saya duluan.”

Cowok itu langsung pergi keluar, mengejar sang pujaan hati. Setelah cowok itu pergi, giliran saya yang dilihatin pengunjung lain. Duh, malu abis. Fika malah cekikikan di depan saya. Puas banget.

“Kamu kok malah ketawa?”
“Habis kamu, orang berantem dilihatin. Kena semprot kan akhirnya.


Kami ngobrol kembali, sesekali Fika masih suka meledek kejadian tadi. Hari beranjak semakin malam, kami memutuskan untuk pulang. Kami menuju ke kasir untuk membayar makan dan minum. Sambil nunggu kembalian, saya melihat di sekitar. Tepat di samping meja kasir terdapat sebuah sofa panjang. Disana duduk seorang Om-Om bersama seorang cewek yang masih muda. Sebenarnya biasa aja sih, tapi yang membuat saya risih adalah si cewek itu gelendotan mesra di pundak Om-Om itu. Sadar saya lihatin, Om-Om itu lantas balik melihat saya,

“Ngapain lihat-lihat? Nggak pernah lihat orang pacaran ya?”

Saya nyengir, kemudian bergegas meninggalkan tempat itu. Om-om itu kembali bermesran dan bergelendotan ria. Semetara Fika kembali tertawa, kali ini nggak peke menutup mulut seperti sebelumnya. Saya berjalan menunduk, berharap lupa ingatan. Sumpah, malu banget.

Di tengah perjalanan pulang, Fika masih membahas kejadian tadi. Begitu sampai, Fika turun dan berkata,

“Kamu sih. Orang mesra-mesraan dilihatin.”
“Udah deh. Nggak usah dibahas terus.”
“Iya-iya. Makasih ya untuk malam ini.”
“Jangan kapok ya.”

Fika mengangguk. Saya pamit, menyalakan motor dan bergegas pulang. Tapi baru 5 meter, saya berhenti, kemudian menengok ke belakang. Terlihat Fika belum masuk rumah, masih berdiri di depan pagar. Saya tersenyum, dia lantas berkata,

“Ngapain lihat-lihat? Belum pernah lihat cewek cantik ya?”

Kami berdua tertawa bersama.

“Belum salam. Assalamualaikum..”
“Walaikumsalam..”

Motor pun melaju menyusuri jalan. Melewati gunung, lembah, sungai, sampai akhirnya berhenti di rumah saya. Sebelum tidur, saya melihat ponsel dan menemukan satu pesan masuk, dari Fika.

“Udah nyampe rumah? Sekali lagi makasih ya.”

Saya tersenyum dan langsung membalas pesan itu. Sumpah, pesan yang seperti ini malah bikin nggak bisa tidur. Lama saya nungguin di tengah ngantuk, tapi belum juga ada tanda-tanda ada pesan masuk. Saya membuka ponsel, ada pemberitahuan tapi bukan pesan masuk, melainkan baterai saya lobet. Kalo ponsel saya bisa bicara, mungkin saat itu dia bilang,

“Ngapain lihat-lihat? Nggak ada pesan masuk woy! Gue udah mau mati nih! Buruan isi!”

Saya langsung tidur. Biarin aja itu ponsel mati.
Bodo amat!

Sunday, 2 November 2014

Macam-Macam Jenis Teman

Berhubung kemarin abis halloween, kali ini saya akan bahas tentang teman. Jaka sembung lagi kumat. Nggak nyambung bodo amat!

“Sahabat sejati selalu ada di hati. Teman untuk selamanya..”

Begitu sepenggal lirik dari Endank Soekamti di lagu “Angka 8”. Kalo kata Endank Soekamti juga di lagu itu, teman itu seperti angka delapan, selalu nyambung terus dan tak pernah terputus. Emang bener begitu?

Nah, pasti kita semua punya teman. Karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial. Iya, sosial bukan Sok Sial. Tarzan yang hidup di hutan aja punya teman, meskipun teman-teman tarzan adalah hewan. Masa manusia enggak? Kalah dong sama Tarzan.. Auwooooo..

Teman adalah.... (rasanya setiap orang punya definisi sendiri mengenai teman, bisa apa saja)

Dan kalo dipikir-pikir, ada banyak jenis teman yang sering kita dengar. Apa aja itu? Si Yayuk rebutan pita sama Doraemon. Yuk kita kemon!

1. TEMAN SEKOLAH
Nah, ini yang paling banyak ditemukan. Karena setiap anak sekolah pasti punya teman di sekolah. Saya nggak tau kalo mereka yang homeschooling. Saya nggak pernah, nggak kuat duitnya. Biasanya teman sekolah ada banyak, kenal dekat atau cuma tahu namanya tetap teman sekolah. Jadi pas ada yang nanya,

“Loh, kamu kenal Dita?”
“Kenal kok. Dulu dia teman sekolah”


2. TEMAN BERMAIN
Kalo yang satu ini cakupannya lebih luas lagi. Mulai dari teman sekolah, tetangga, sampai pacar teman, kalo pernah diajakin main bareng ya artinya sudah jadi teman bermain. Ya bisa main bola, main boneka, main di empang, atau main yang jauh. Misalnya lagi nelpon pacar teman,

“Dita, nanti malem kamu sibuk nggak?”
“Enggak. Kenapa?”
“Main yuk?”
“Boleh.”


Eh, tapi kalo sama pacar teman itu main apa ya?

3. TEMAN MAKAN
Ada beberapa orang yang nggak mau makan kalo nggak ada temannya. Makanya ada istilah teman makan. Apalagi anak kos yang nggak punya pasangan. Duh, mau makan aja kudu ngajak orang lain buat nemenin. Apa hubungannya coba? Kalo perut udah laper ya makan aja. Emang di depan warung ada tulisan “Dilarang Makan Sendirian?” Kan enggak. Udah nggak punya pasangan, kalo laper harus nyari teman dulu, keburu lapar. Sakitnya tuh disini (nunjuk dada) sama disini (nunjuk perut).

4. TEMAN NGOBROL
Ini juga banyak ditemukan. Karena ngobrol bisa sama siapa saja, dimana saja. Misalnya saja lagi ngopi di warung kopi. Biasanya modusnya diawali dengan meminjam korek api. Abis itu bilang makasih, terus udah deh.. ngobrol ngalor ngidul. Dari mulai kopinya kurang manis, sepakbola, anggota DPR, sama istrinya di rumah yang suka ngomel-ngomel. Apaan coba?
Tapi kalo mau nyari teman ngobrol sebisa mungkin dipastikan dia nyambung pas diajak ngobrol. Karena saya pernah ngajak ngobrol orang, pakaiannya rapi, wajahnya bersih, tapi pas diajak ngobrol.. Eh, jawabannya ngalor ngidul. Pas orangnya pergi, punggung saya ditepok sama tukang parkir sambil bilang,

“Mas, yang barusan tadi orang gila.”
“Oh, pantes..”


5. TEMAN CURHAT
Sebenarnya hampir sama dengan teman ngobrol, tapi kalo temen curhat ini lebih spesifik. Karena yang diobrolin juga lebih spesifik, misalnya masalah sekolah, keluarga, teman, gebetan, pacar teman yang mau dijadikan gebetan. Makanya biasanya yang diajak curhat itu orang-orang tertentu, yang sudah kenal deket. Misalnya teman sekolah, teman kos, saudara, pacar teman juga bisa.

Yang belum tahu, curhat disini adalah curahan hati, ingat curahan hati, bukan mancur hangat. Itu beda. Misalnya ada pacar teman nelpon kita,

“Halo, Mas.”
“Iya, Dit. Ada apa?”
“Mas, bisa ke kosku nggak? Aku mau curhat..”
“Si Joko lagi kemana?”
“Lagi sibuk di kampus.”
“Oh, langsung meluncur. Siap 86!!”


Sekali lagi, curhat disini adalah curahan hati. Bukan mancur hangat!

6. TEMAN KOS
Teman kos adalah teman satu kos. Biasanya semakin banyak, karena biasanya teman kos kita bawa teman terus ngenalin. Itu akhirnya juga bisa jadi teman kos. Nah, temannya teman kos tadi juga bawa teman lagi, biar gampang nyebutnya ya teman kos. Pokoknya begitu terus sampai lebaran monyet. Ah, jadi bingung ini.

7. TEMAN DUNIA MAYA
Nah, fenomena menjamurnya media sosial. membuat hal ini banyak terjadi saat ini. Kenal di dunia maya, nggak pernah ketemu langsung, tapi seolah sudah akrab banget, kadang sampai pacaran malah. Itu ada. Banyak.

Mungkin di dunia nyata kurang perhatian, sedikit-sedikit ngeluh dan curhat di media sosial. Nggak tau juga. Mungkin itu juga alasan mengapa banyak orang yang berkeluh kesah dan mengumbar masalah di media sosial. Karena mungkin juga, disana bertebaran pundak dan bahu maya yang siap dipakai bersandar. Hmm..

8. TEMAN KERJA/KANTOR
Teman kerja adalah teman dimana kita melakukan pekerjaan. Misalnya di kantor, jadi nyebutnya teman kerja atau teman kantor. Kalo kerjanya di kantor pos ya namanya tetap teman kantor. Kalo kerjanya di kantor pemasaran namanya juga masih teman kantor. Udah ah, pokoknya gitu!

9. TEMAN TIDUR
Sesuai dengan namanya, ya berarti tugasnya menemani kita tidur. Bisa sudah jadi istri atau mungkin belum. Bisa berupa orang atau mungkin sebuah guling. Kalo sampai sekarang belum punya teman tidur ya sabar aja. Nikmatilah lebarnya kasurmu sendirian sebelum nanti kamu bagi dengan seseorang. Iya, gitu. Ini bukan curhat. Sumpah.

10. TEMAN HIDUP
“Tetaplah bersamaku, jadi teman hidupku. Berdua kita hadapi dunia.”

Seperti lagunya Bang Tulus. Teman hidup adalah teman yang menemani kita untuk menjalani kehidupan. Duh, kalo yang ini saya nggak bisa bahas panjang-panjang. Saya nggak kuat. Ya pokoknya gitu lah.

11. CUMA TEMAN
Ini yang paling nggak enak. Bayangin saja setelah semuanya diatas, mulai dari teman sekolah, teman bermain, teman makan, teman ngobrol, teman curhat, teman kos bahkan sudah jadi teman kerja dan sempat juga menemani tidur, tapi pas diajakin jadi teman hidup jawabannya adalah..

“Maaf, aku cuma anggap kamu teman.”

Mendengar kalimat seperti itu bisa bikin otot lengan dan kaki yang sudah berbulan-bulan di pake fitnes langsung lemes. Seperti jemuran yang kehilangan tali jemurannya, jatuh berserakan. Apalagi perasaannya, sudah seperti bungkusan nasi kucing yang kehilangan karetnya. Ambyar!

Ya begitulah hidup, tidak semua pendekatan akan berakhir sebagai pasangan. Kadang bisa selingkuhan, atau cuma teman. IYA, CUMA TEMAN!

Saturday, 23 August 2014

Tipe-Tipe Hubungan Percintaan Yang Bikin Bingung!!


Setiap manusia pasti pernah merasakan cinta. Dari merasakan cinta kemudian berlanjut ke tahap menjalin hubungan percintaan. Nah, ada hubungan percintaan yang wajar seperti yang banyak kita ketahui. Namun ada juga hubungan yang bikin kita bingung, mirip seperti serial Detective Conan. Iya, karena kita nggak akan pernah tahu bagaimana hubungan yang sebenarnya terjadi sebelum si pelakunya sendiri ngaku. Yang ada kita malah menebak-nebak. Bikin bingung!

Langsung aja saya bahas tipe-tipe hubungan percintaan yang bikin bingung. Cekibrooottt..

1. Teman baik

“Kalian berdua pacaran?”
“Enggak. Kita berteman aja kok. Teman baik.”


Mungkin pertanyaan dan jawaban di atas pernah kita alami sendiri. Iya, ngakunya cuma teman baik. Tapi kalo dilihat sering jalan berdua, suka cemburu kalo salah satu lagi jalan sama teman lain, gampang kangen kalo sehari nggak ketemu, suka ngatur-ngatur dengan alasan..

“Aku tuh peduli sama kamu.”

Kadang kalo malem-malem suka bilang kangen, kalo ketemu juga pake cipokan. Nah, sebagai teman kan kita jadi ikutan bingung. Dibilang pacaran enggak, dibilang teman tapi ada cemburu sama pake cipokan. Sumpah, bikin bingung.

“Kalian pacaran?”
“Enggak. Cuma teman baik.”


Meh.. (-___-) *harakiri*

2. Berhubungan Baik

Pacarannya sudah sama orang lain. Tapi sayang-sayangannya masih sama mantan. Itu ada, banyak.
Satu lagi nih hubungan yang bikin saya bingung mirip seperti yang di atas. Kenyataannya sudah putus, sudah pacaran dengan orang baru, kesimpulannya sudah bisa move on dong. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Iya, masih sering ngasih perhatian sama mantan, masih suka bilang kangen tiap malam, kadang kalo pesan atau BBM nggak dibales ngambek terus marah-marah, kadang juga masih sering jalan berdua, kadang masih cipokan juga. Tapi kalo ditanya..

“Loh, bukannya kalian sudah putus?”
“Iya, tapi kita masih berhubungan baik kok.”


Meh.. (-___-) *harakiri*

3. Tak Terlihat


Bagi sebagian orang, bisa menjalin hubungan dengan orang lain adalah kebanggaan. Makanya sampe dipublikasikan di media sosial dan sebagainya. Nah, bagi sebagian yang lain justru harus diharasiakan, kalo bisa dari siapapun. Bahkan dari teman dekatnya sendiri.

Ini yang saya alami, pas khusuk lihat cicak kawin di dinding tiba-tiba dapat pesan dari temen deket kalo dia mau nikah. Apa? Nikah? Sebagai teman yang normal pasti kaget lah, apalagi teman deket. Takutnya kan udah “berisi” duluan..
(ini barbuknya)


Tapi pas di atas pelaminan dia ngomong..

“Sudah jalan setahun kok. Maaf nggak ngasih tau. Hehehehe..”

Udah gitu doang. Sebagai temen dekat saya merasa gagal. Bangke!

(-___-)
*harakiri*

4. Friendsh*t.

Kadang, hubungan percintaan itu diawali dari hubungan pertemanan. Terkadang juga, yang diawali dari hubungan pertemanan tidak selalu berujung menjadi hubungan percintaan. Padahal sudah berteman lama, levelnya sudah bukan teman lgi tapi sahabat. Kadang kalo nggak ketemu bilang kangen, kemana-mana jalan bareng, suka ngobrol sampe nggak tau waktu, kadang diakhir pembicaraan bilang..

“Kita ini gimana sih?”
“Nggak tau. Tapi yang jelas aku nyaman sama kamu.”

Nah, hal seperti inilah yang bikin bingung. Tapi begitu keyakinan terkumpul, dan pernyataan itu terlontarkan, yang di dapat adalah..

“Aku sudah anggap kamu sahabat. Sahabat yang baik banget.”

Yah.. yang seperti inilah yang bikin canggung satu sama lain. Dan.. pada akhirnya FRIENDSHIP berubah jadi FRIENDSH*T.

Meh.. (-___-) *harakiri*

Wednesday, 21 May 2014

Pertempuran Hati

Apa yang ada di dalam pikiran kamu ketika mendengar kata pertempuran?


Sesuatu yang mengerikan? Perkelahian massal?


Pernahkan kamu mengalami pertempuran?


Pasti jawabannya tidak. Hampir dapat dipastikan setelah mendapat kemerdekaan, tidak ada lagi pertempuran yang ada di negeri ini. Yang ada pertempuran mempertahankan kemerdekaan dan pemberontakan-pemberontakan internal di bangsa ini. Selebihnya, mungkin hanya pertempuran sebagai pagelaran budaya beberapa masyarakat saja.


Tapi kali ini saya mengalami pertempuran. Serius. Namanya pertempuran hati.


Saya pernah bilang kalau kelemahan terbesar seorang manusia itu adalah kemampuan mereka dalam memilih. Tentu memilih yang terbaik bagi mereka. Tapi yang ada tetap sulit. Misalnya menentukan pilihan atas dua pilihan yang tersisa. Memilih kebahagiaan untuk diri sendiri, atau memilih kebahagian untuk orang yang paling kita sayangi, katakanlah orangtua. Intinya sih sama-sama membuat bahagia. Hanya yang satu membahagiakan diri sendiri, efeknya mungkin orang di sekitar kita akan ikut merasakan bahagia. Sedangkan yang lain, membahagiakan orang lain. Tentu orang yang kita bahagiakan tersebut akan bahagia. Tapi apakah kita juga ikut bahagia. Belum tentu. Mungkin tersenyum atau tertawa sekencangnya, tapi belum tentu batin kita juga melakukan hal yang sama.


Dan memilih semuanya tentu punya resiko yang besar. Paling tidak memerlukan usaha yang lebih keras daripada memilih satu diantaranya.


Apa harus menunggu?


Kalau itu yang dilakukan juga mau sampai kapan. Sampai kapan bakal menunggu pertempuran yang sama sekali belum tahu kapan akan berakhir. Dan berada di masa itu adalah sulit. Sumpah sulit. Tapi bukankah setiap kesulitan pasti ada jalan?


Jalan itu hanya menyerahkan semua kembali kepada Tuhan. Itu yang saya tahu ketika kita sudah tidak mampu lagi mengatasinya sendiri. Kita kan manusia, punya keterbatasan dalam segala hal. Kalau kita sudah mampu mengatasinya ya pilihan terbaik adalah mengembalikan itu semua kepada yang menciptakan kita bukan?


Sambil terus melakukan apa yang menurut kita terbaik. Apapun yang dipilihNya untuk kita, apakah memilih kebahagian untuk orang lain, atau untuk diri sendiri. Pasti itu yang terbaik.


Toh sebenarnya kita dilahirkan di dunia ini untuk mencapai tujuan yang baik. Secara tidak sadar pemikiran dan ego kita sendiri yang membawa kita belok dari tujuan awal kita yang baik. Belok kesana kemari nggak jelas mau kemana yang mungkin menurut kita itu baik. Sehingga Tuhan sengaja menaruh kerikil, sampai batu-batu besar untuk menghadang langkah kita. Mungkin itu yang kita sebut masalah. Sampai kita mengumpat nggak karuan kesana kemari mengeluh nggak jelas kesana kesini. Menganggap ini semua nggak adil karena merusak rencana kita untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan. Sesuatu yang sudah kita rencanakan dengan matang. Sesuatu yang kita anggap baik.


Satu dua tahun itu berlalu. Coba kita berfikir dengan pikiran tenang, pikiran logis, dan hati yang sudah tertata. Tuhan melakukan semua ini juga bukan tanpa tujuan. Dan tujuannya itu baik kok. Karena berkat kerikil, atau baru besar sekalipun yang dulu kita sebut masalah, sebenarnya itu cara Tuhan untuk membelokkan dari  jalan salah yang kita tempuh, belok-belok-belok-belok entah berapa kali belokan sampai kita kembali ke jalan kita, tujuan kita. Jalan yang terbaik.


Maka nggak ada yang perlu disesalkan dari setiap masalah yang kita hadapai, setiap masalah yang diberi Tuhan. Tuhan itu sayang banget sama kita. Sumpah. Karena kalau tidak sayang sama kita, Tuhan juga nggak mau repot-repot megingatkan kita.  Tidak mau mengingatkan kita dengan memberi masalah kalau tidak kita sendiri yang salah dalam melangkah. Logikanya Tuhan nggak akan pernah menaruh kerikil atau batu besar itu di hadapan kita kalau kita nggak salah jalan dari jalan utama kita.


Sudah paham?


Iya.. karena fungsinya kerikil dan batu kan supaya kita belok kembali ke jalan awal kita. Nah, kalau berapa banyak beloknya saya nggak tahu. Mungkin berbanding lurus dengan seberapa banyak kita salah langkah.


Jadi, beruntunglah kita yang sudah kembali ke jalan dimana tujuan awal kita ditetapkan. Karena tinggal menarik gas sekencangnya maka tujuan itu akan semakin cepat dapatkan. Tentu dengan berusaha dan berdoa agar kita tidak banyak belok-belok lagi. Insyallah...

Friday, 9 May 2014

Menikmati Malam


Entah kapan saya memulainya, tapi yang jelas ada kesenangan tersendiri ketika malam itu tiba. Sinar matahari yang menyilaukan mulai redup, dan memudar merah jingga. Orang menyebutnya dengan senja.

Jujur, saya kurang menyukai siang hari. Orang berlalu lalang di jalan, sibuk dengan urusan masing-masing, seperti tidak mau kalah dengan berbagai macam kendaraan yang juga silih berganti menghiasi badan jalan. Terlihat seperti saling berdesakan.

Bagi sebagian besar orang, menjalankan rutinitas di siang hari dan beristirahat di malam hari adalah sebuah hal yang biasa. Sehingga bisa disebut sebagai sebuah kewajaran, tapi tidak dengan saya. Justru saya lebih menikmati rutinitas saya di malam hari. Bukan berarti saya tidak beraktifitas di siang hari, saya lebih menikmati waktu saya di malam hari. Iya, lebih menikmati waktu di malam hari.

Orang bilang saya aneh, dan saya baru menyadarinya. Menyadari bahwa saya ini memang (sedikit) aneh. Entah kapan memulainya, saya menjadi suka berjalan sendirian menyusuri jalan, di tengah malam atau bahkan dini hari hanya untuk melihat langit di atas, merasakan suasana malam dan juga melihat sedikit hiruk pikuk manusia di tengah malam. Waktu yang bagi sebagian besar orang digunakan untuk mengistirahatkan tubuh, setelah menjalani aktifitas seharian.

Kadang saya mengendarai motor hanya untuk berkeliling melihat keidupan malam di Malang. Banyak hal yang saya jumpai, mulai tukang nasi goreng yang merapikan gerobak dan bergegas pulang, beberapa anak jalanan yang mulai menggelar kardus temuannya di emperan pertokoan, atau beberapa petugas kebersihan jalan yang mulai mendatangi satu per satu tempat sampah di penghujung malam. Belum lagi tempat hiburan malam yang memang sesuai namanya, menggelar berbagai hiburan di saat malam.

Meski tidak sering, tapi ritual semacam itu sering saya lakukan. Dan ketika pagi menjelang, saya baru bisa memejamkan mata. Seperti binatang nokturnal, yang menjalani sebagian besar hidup di malam hari. Bedanya saya bukan menjalani hidup, tapi menikmati setiap malam saya. Mungkin karena itulah saya susah bangun pagi. Iya, karena saya memulai tidur juga sudah pagi. Hehehe..

Jika siang hari sudah diisi dengan penuh hiruk pikuk kehidupan, lantas.. apakah rela jika malam hanya diisi dengan keheningan dan kesunyian?

Saya justru salah seorang yang menikmatinya. Iya, menikmati malam..