Thursday, 18 February 2016

Kapan?

Terkadang hidup itu seperti ini, lepas dari pertanyaan kapan yang satu, masuk ke pertanyaan kapan yang lainnya. Dan saking seringnya ditanya, kita jadi sekenanya menjawab : kapan-kapan.

Ketika saya belajar ilmu jurnalistik, setidaknya ada 5 pertanyaan yang harus diajukan untuk membuat sebuah berita. Kita mengenalnya dengan 5W1H, yaitu what, who, where, when dan how. Dalam bahasa Indonesia yang berarti : apa, siapa, dimana, kapan dan bagaimana. Ketika lima pertanyaan tersebut sudah terjawab, setidaknya sebuah berita menjadi layak untuk diberitakan.

Apa menayakan kejadian yang terjadi, siapa itu menjelaskan pelaku, dimana menayakan tempat, kapan menanyakan waktu, dan bagaimana menanyakan kronologis kejadian.Saya tidak membahas semua kata tanya tersebut, karena disini saya akan membahas kata yang digunakan untuk menanyakan waktu, yaitu “kapan?”

Saat kita masih kecil, pertanyaan “kapan” mungkin sama seperti kata tanya lainnya yang dengan mudah kita jawab. Misalnya,

Kapan liburan?
Kapan main bareng lagi?
Kapan masuk sekolah?

Jawab saja : besok, minggu depan, bulan depan.

Mudah bukan.

Namun, begitu kita beranjak dewasa, “kapan” adalah salah satu kata tanya yang mungkin membuat kita resah dan terkadang sulit untuk menjawabnya. Terutama jika itu menyangkut dengan hal-hal yang kita sendiri juga belum bisa memberikan jawaban pasti. Seperti,

Kapan lulus?
Kapan kerja?
Kapan nikah?
Kapan punya anak?

Sebenarnya kita bisa saja dengan mudah menjawabnya seperti, besok, tahun depan, atau setelah pemilu.

Mudah bukan.

Tapi yang terjadi kadang bisa sebaliknya, dan sambil tersenyum kecut kita menjawab : kapan-kapan.

Kapan Lulus?

Kita maunya lulus tepat waktu, kalo bisa 7 semester sudah bisa lulus kuliah. Tapi apa daya pada akhirnya baru lulus setelah 7 tahun. Targetnya 7 semester, realisasinya 7 tahun, sama-sama angka tujuh tapi ternyata beda satuan.

Rasanya juga beda.

Agak pedih.

Mereka bisa dengan mudah menyanyakan “kapan lulus?”, tapi mereka nggak tau bagaimana kita berusaha keras untuk bisa menjawabnya. Berlama-lama di perpus, judul yang berganti-ganti, begadang di depan laptop, penelitian kesana kemari, ditinggal dosen ke luar negeri, ditinggal pacar, revisi bertubi-tubi, sempat putus asa. Sampai akhirnya mendengar kalimat sakti dari dosen pembimbing,

“Ini semester terakhir kamu, kalo skripsimu belum juga selesai kamu terpaksa DO!”

dan mau gak mau kita kembali mengumpulkan semangat untuk bisa mencapai tujuan kita di awal, kalo tidak bisa lulus 7 semester setidaknya masih bisa lulus kuliah. Itu saja.

Ya, terkadang target juga mengalami revisi.

Begitu kita berhasil lulus kuliah, begitu nafas kita kembali normal, dan tidur kita lumayan nyenyak, mereka kemudian mengajukan pertanyaan berikutnya. Kapan kerja?

Kapan Kerja?

Baru juga bisa bernafas lega setelah berhasil lulus kuliah, orang-orang sekitar sudah punya pertanyaan baru yaitu : kapan kerja?

Memang sehabis lulus kuliah kita sudah seharusnya masuk dunia kerja, tapi bagaimana dengan mereka yang sudah lulus lama tapi masih belum dapat kerja? Bukan berarti mereka semua malas mencari kerja, kadang yang terjadi malah sebaliknya, mereka sudah berkali-kali memasukkan lamaran kerja, bikin cv banyak, ikut tes sampai wawancara, tapi pada akhirnya nggak diterima juga. Yang pada awalnya masih level job seeker kini naik levelnya menjadi job hunter.

Belum lagi kalo dibandingan dengan orang lain, teman seangkatan yang sudah bekerja, bajunya rapi, pakai dasi, sambil bilang,

“Lihat tuh Paijo, sudah bekerja. Dasinya tiap hari gonta-ganti, kamu kapan kerja?””

Pedih.

Saya jadi ingat celetukan Om Indro Warkop pas ditanya soal lapangan kerja di Indonesia, dengan santai dia bilang,

“Sebenarnya lapangan pekerjaan di Indonesia itu banyak banget. Misalnya nyapu jalan, mangkas rumput liar, bersihin kali, macem-macem lah. Cuma masalahnya satu. Enggak ada yang gaji. Kalo lapangan pekerjaan mah banyak, situ mau kerja apa saja silakan. Tapi ya itu, yang ngasih gaji nggak ada.”

Bersyukurlah bagi kalian yang sudah bekerja, apapun pekerjaan itu. Setidaknya kalian sudah punya penghasilan sendiri untuk bisa membeli makanan dan minuman bergizi, agar badan sehat dan kuat, terlebih ketika menghadapi pertanyaan selanjutnya yaitu : kapan nikah?

Kapan Nikah?


Bagi sebagian orang mungkin pertanyaan tersebut terdengar sederhana. Namun bagi sebagian orang lainnya, pertanyaan tersebut terdengar tidak sederhana. Tidak sesederhanya mereka menjawab : besok, dua bulan lagi, atau tahun depan. Karena kita juga nggak tau apa yang sedang mereka perjuangkan untuk mencari jawabannya. Bisa saja mereka sedang berjuang dari patah hati yang hebat, berjuang menerima kenyataan bahwa kekasihnya memilih orang lain karena restu orang tuanya, berjuang karena usia yang semakin bertambah namun pasangan masih belum ada, atau sedang berjuang karena keyakinan yang berbeda.

Itu yang saya bilang nggak sederhana.

Menikah itu impian banyak orang, setiap orang pasti pengen menikah dan membina rumah tangga. Tapi itu kapan? Kita hanya bisa berencana, kepastiannya hanya Tuhan yang tau.

Dalam hidup saya percaya bahwa ada hal yang memang bisa diperjuangkan, dan ada pula hal yang sudah ditetapkan yang nggak akan berubah meskipun sudah kita perjuangkan. Saya percaya bahwa jodoh, rezeki dan kematian itu adalah hal yang sudah ditetapkan. Kalo bukan rezeki kita ya gak bisa kita miliki, kalo bukan waktu kita mati ya kita belum bisa mati, kalo bukan jodoh kita ya gak akan bisa bersama, sekalipun kita sudah menjaga dan berjuang bersama. Kita bisa saja berusaha dan berjuang sekuat tenaga, namun bila akhirnya hal itu nggak bisa menjadi milik kita, ya kita harus bisa menerima dan menyadari bahwa itu semua sudah menjadi ketetapan Tuhan.

Seperti lagunya Sheila On 7, kau harus bisa berlapang dada.

Menerima itu bukanlah sebuah pekerjaan mudah, apalagi menerima hal-hal yang tidak sesuai dengan harapan kita. Tetapi dengan menerima, kita akan belajar bahwa tidak semua harapan kita akan bisa menjadi kenyataan, kadang yang terjadi justru sebaliknya. Tapi percayalah, ketika kita bisa menerima itu semua, kita akan menjadi orang yang lebih dewasa dalam menyikapi semua. Termasuk dewasa dalam menyikapi pertanyaan selanjutnya : kapan punya anak?

Kapan Punya Anak?

Saya masih suka bingung dengan alasan orang yang suka nanya : kapan punya anak?

Kalo keluarga masih okelah, terlebih kedua orang tua yang mungkin sudah ingin menimang cucu. Tapi kepada teman yang ketemu saja jarang, sekali ketemu di resepsi pernikahan, terus dua bulan kemudian dengan gampangnya bertanya : kapan punya anak?

Rasanya pengen ngasih les biologi, biar dia tahu kalo usia janin itu sekitar 9 bulan, belum waktu bikinnya, belum lihat berbagai tutorialnya, jadi ya lumayan lama. Kecuali kalo sebelum nikah udah nabung duluan. Itu beda.

Lupakanlah.

Ada juga yang pas lebaran, terus di depan banyak orang dengan santai bertanya,

“Markonah, kamu kapan punya anak? Masa sudah bertahun-tahun masih seneng berduaan terus. Lihat dong, aku aja udah punya sepuluh. Ini mau bikin satu lagi, rencanya yang ini mau dijadikan penjaga gawang. Biar pas sebelas. Kesebelasan.”

Dan dengan senyum yang dipaksakan mereka biasanya menjawab,

“Pengen sih. Doakan saja…”

Rasanya nggak tega melihat seorang perempuan menjawab seperti itu saat ditanya : kapan punya anak?

Ya, kapan punya anak? Sebuah pertanyaan sederhana, mungkin sekedar basa-basi, tapi bisa jadi penghakiman yang luar biasa kepada mereka yang sudah menikah lama namun belum juga mendapat karunia anak. Mungkin mereka sudah mencoba segala cara, dari yang medis sampai mistis. Tapi toh sekali lagi, kita hanya bisa berusaha sekaligus berdoa semampu kita, selebihnya itu bagian Tuhan.

Sampai ketika saya bertemu dengan Sari, teman sekolah dulu saat buka puasa bareng. Sebelum pulang, di parkiran banyak anak-anak kecil yang berlarian, dia melihat kemudian tersenyum, karena penasaran saya akhirnya bertanya..

“Kenapa lihat anak kecil lari-lari malah senyum?”
“Gak tau kenapa kalo lihat anak kecil itu di hati rasanya maknyes..”
“Maknyes gimana?”
“Makanya kamu itu cepet lulus kuliah, terus kerja, terus nikah baru nanti kamu apa yang aku rasain sekarang. Masa yang lain sudah sibuk nyari pendamping kamu masih sibuk nyari dosen aja. Udah ah, aku balik duluan sama suami. Dagh..”


DEG!

Saya cuma diam di atas motor setelah mendapat kalimat combo. Yah, tiga tahun yang lalu saya datang ke nikahan dia, dan sekarang mereka masih berdua. Sebelum pulang saya minum mizone dingin dari dalam tas, begitu mengalir melewati tenggorokan rasanya maknyes..

“Oh..rasanya seperti itu.”

Tapi ini maknyes di kerongkongan, bukan maknyes di hati seperti yang Sari bilang.
…………….

Pesan saya sih, jangan sering-sering bertanya,

Kapan lulus?
Kapan kerja?
Kapan nikah?
Kapan punya anak?

Kepada mereka-mereka yang sedang berjuang untuk mencari jawabannya.

Ngasih semangat sih nggak apa-apa asal jangan seperti menghakimi. Karena dibalik setiap jawaban di atas, selalu ada perjuangan, doa, rasa putus asa dan bahkan air mata yang terkadang kita nggak pernah tau karena mungkin selalu ditutupi dengan senyum dan tawa, meski itu hanya pura-pura.

Jadi, sudah berapa pertanyaan “kapan” yang bisa kamu jawab?

Wednesday, 23 December 2015

Pindah

Hidup adalah perpindahan.

Saya cukup sadar ketika menulis kalimat pertama di postingan kali ini, hidup adalah perpindahan. Karena memang yang saya rasakan adalah, hidup ini adalah perpindahan dari satu peristiwa ke peristiwa lain, satu tempat ke tempat lain, satu masalah ke masalah lain, sampai dari satu pelajaran ke pelajaran lain, pelajaran tentang kehidupan.

Sebagai contoh, hampir sepuluh tahun lebih saya merantau sejak SMA, kuliah, bahkan sekarang sudah bekerja. Sudah berapa kali saya berpindah tempat tinggal, dari kamar kos satu ke kamar lainnya. Nggak mudah untuk cepat beradaptasi di kamar baru, teman baru, lingkungan baru, suasana baru. Pun demikian halnya ketika kita harus pergi meninggalkan semua itu, berpindah ke tempat yang baru. Mungkin memang benar apa yang orang bilang, pindah kosan itu gampang, yang susah adalah memindahkan kenangan yang sudah tertanan. Setidaknya itu yang saya rasakan.

Tempat baru - teman baru - lingkungan baru - suasana baru - pindah - tempat baru - teman baru - lingkungan baru - suasana baru, kadang siklus itu yang saya rasakan. Menjalani siklus hidup seperti ini mengajarkan saya untuk sebisa mungkin menikmati peristiwa di dalamnya, entah itu sedih atau bahagia. Karena saya yakin, hal-hal seperti ini justru akan saya rindukan di tempat baru ketika siklus kehidupan sudah mengharuskan saya untuk pindah. Kemudian merasakan sedih dan bahagia di tempat yang baru, suasana yang baru, mungkin juga dengan orang yang baru.

Entah kapan perpindahan ini akan berakhir, saya hanya berbaik sangka mungkin ini adalah cara Tuhan untuk mengajarkan kita bahwa sebenarnya kita diciptakan untuk pindah dari satu kehidupan ke kehidupan lain. Kandungan - dunia - kematian - akhirat, bukankah itu semua adalah perpindahan?

Kalo benar hidup itu perpindahan, lantas apa yang sudah kita persiapkan untuk tempat baru kita nanti?

Saturday, 27 December 2014

Review Album Ke-8 Sheila On 7 "Musim Yang Baik"

Fiuh...

Setelah menunggu selama tiga tahun, akhirnya Sheila On 7 melahirkan “anak” kedelapan mereka. Yap, bulan November kemarin di tengah musim hujan yang melanda, mereka secara resmi merilis album kedelapan mereka yang diberi judul “Musim yang Baik". Sebagai seorang penggemar mereka sejak masih berseragam merah putih, sampai sekarang sudah nggak pakai seragam lagi, rasanya kurang afdol kalo belum membahas album mereka yang terbaru ini.

Setidaknya ada tiga hal penting yang menyertai rilisnya album “Musim yang Baik” ini. Pertama, single “Lapang Dada” dirilis serentak di 280 radio di 100 kota, dan itu tercatat menjadi rekor baru. Kedua, malam itu juga “#LapangDada” masuk di Trending Topics Worldwide Twitter. Dan yang ketiga, album ini adalah album terakhir mereka bersama Major Label. Ada kabar kalo setelah ini mereka bakal memilih jalur Indie. Yap, apapun yang mereka pilih tetap Jalan terus!!

Di album “Musim Yang Baik” ini terdapat sepuluh lagu, dan “Lapang Dada” dipilih menjadi single pertama. Ada yang berbeda ketika mendengarkan musik di album ini, sepertinya Sheila On 7 hanya mengisinya dengan empat alat musik, gitar, bass, drum dan sedikit keyboard. Benar-benar nggak ada suara-suara tambahan supaya musik menjadi “penuh”. Nggak jauh beda seperti lagu “Dan” di album pertama mereka. Ditambah lagi hanya memakai satu gitar, tanpa iringan gitar rythm seperti biasanya. Sepertinya Mas Eross membiarkan suara gitar kedua kosong. Entahlah, yang jelas mirip rekaman saya dulu pas sekolah. Bedanya, hasil rekaman mereka lebih “bersih”. Kali ini kualitas alat berbicara.. Hahaha.

Lagu di album ini masih bercerita tentang jatuh cinta, ajakan untuk selalu optimis, untuk selalu bersyukur, berbahagia dan tentu berbesar hati atas semua hal yang terjadi. Baiklah, langsung saja kita bahas satu per satu lagu mereka. Mbak yayuk nonton Doraemon. Yuk kita kemon!

1. Selamat Datang
60 detik pertama mendengarkan lagu ini bikin saya goyang. Sumpah. Lagu ini mengajak kita tetap semangat untuk menjadi dewasa, dan berusaha untuk selalu bisa berbahagia. Seperti petikan liriknya,

..jangan mengeluh, jadilah tangguh seperti yang kamu inginkan. Oh dimana pun kau berada, oh bahagialah.. Oh dimana pun kau berada, oh selamat datang..

Berusahalah untuk berbahagia kawan, jangan berpura-pura bahagia. Itu beda.

2. Satu Langkah
Begitu lagu ini berakhir, entah pikiran saya yang kurang bersih atau memang liriknya mengarahkan saya untuk berfikiran ke arah sana. Entahlah, saya belum tanya Mas Adam. Menurut saya lagu ini tentang dua manusia yang sedang memadu kasih. Nggak tau mereka memadu kasih dimana dan sebelum ngapain.. berikut petikan liriknya..

..tapi masih ada satu, langkah yang pasti engkau tunggu. Sampai datang saat itu, kumpulkan semua keyakinanmu.. sayang coba lihatlah aku, seluruh tubuhku inginkan kamu. When I say I love you, please baby say you love me too. Sayang coba dengar bibirku, seluruh jiwaku dapatkan kamu, When I say I love you, please baby say you love me too..

Nah, satu langkahnya ini mau ngapain hayo?

3. Buka Mata Buka Telinga
Meskipun dibalut dengan musik yang agak nge-beat, tapi menurut saya lagu ini nggak jauh beda seperti palung mindanao. Dalem. Berisi tentang kegelisahan akan banyak hal di hidup ini, pertanyaan-pertanyaan atas semua hal yang mungkin membingungkan, dan pada akhirnya kita sadar bahwa ada alasan mengapa kita berada di dunia ini..

..membuka mata dan telinga, menggali sejuta rahasia hidup ini yang penuh kejutan. Ada alasan mengapa kita diciptakan..

Ah, dalem.

4. Canggung
Saya kira lagu ini bakal dijadikan single pertama di album ini, karena lumayan sering dibawakan saat manggung. Lagu ini bercerita tentang perasaan seorang cowok ketika bertemu kembali dengan mantan kekasihnya. Saya ulang, BERTEMU KEMBALI DENGAN MANTAN KEKASIHNYA. Iya, gitu. Kalo ada cowok yang bersikap tenang, cool saat bertemu dengan mantan kekasihnya jangan percaya, karena semua itu palsu. Yah, sekuat-kuatnya seorang cowok kalo ketemu dengan mantan kekasih pasti gelisah juga. Nggak nyaman mau ngapa-ngapin. Jadinya canggung..

..menyapamu di keramaian, bersikap semua terkendalikan. Atur nafas, atur irama dan memberimu sedikit senyuman seandainya bisa aku katakan.. taukah betapa canggungnya tingkahku, kau beriku lagi senyuman mautmu. Kau masih sama cantik seperti dulu..seperti dulu..

Ketemu mantan emang bikin canggung. Sumpah. *pengalaman pribadi*

5. My Lovely
30 detik pertama saya mendengarkan lagu ini, saya membayangkan berada di teras rumah, bermain gitar kemudian bersenandung.. sesederhana itu. Menurut saya lagu ini diciptakan untuk orang-orang tersayang mereka, seperti istri dan anak mereka. Yap, semua capek, rasa sakit perlahan hilang ketika melihat orang-orang yang kita sayangi tersenyum dan bahagia..

..tapi akhirnya apalah daya, terhapus oleh senyumnya saat dia beri senyumnya..

6. Beruntungnya Aku
Pada akhirnya lagu ini mengajak kita untuk bersyukur atas pasangan yang dianugerahkan kepada kita. Sebagai manusia wajar kalo pengen pasangan yang baik, tapi setidaknya kita juga harus introspeksi diri. Kita sendiri bagaimana? Sudah baik belum? Kalo perlu ngaca! Iya, ngaca!

..kau menyadarkan aku, kita bukan makhluk sempurna, mendekati pun tidak tanpa kau melengkapi. Ku harus berkaca, hanya beginilah aku.. beruntungnya aku, memiliki dirimu..

7. Lapang Dada
Yap, lagu yang dijadikan single pertama di album ini sebenarnya bercerita tentang hubungan tiga generasi antar Mas Eross, ayahnya dan juga anaknya “El Pitu”. Lagu ini mengajak kita untuk berbesar hati dan merelakan apa yang sudah terjadi agar proses “Move On” bisa terlaksana.

Lagu ini juga dibuatkan video klip yang bercerita tentang “DITINGGAL MANTAN NIKAH”. Nah loh, sakitnya dimana tuh?

..kau harus bisa..bisa berlapang dada, kau harus bisa..bisa ambil hikmahnya, karena semua..semua tak lagi sama..walau kau tahu dia pun merasakannya..

Kenapa harus memaksakan hal yang diluar skenario Tuhan?
Terimalah dan ber-lapang dada..

8. Belum
Entah kenapa Sheila On 7 itu jago banget kalo bikin lagu sedih tapi nggak terlihat cengeng, seperti “Betapa” dan juga “Hujan Turun”. Kali ini ada lagu berjudul “Belum” yang bercerita tentang seseorang yang ditolak cintanya dengan alasan “BELUM BISA”. Agak pahit juga sih, tapi kita tetap diajak berfikir positif dan optimis atas jawaban “BELUM BISA” itu, seperti yang tertulis di bagian reff lagu ini..

..Belum karena rasa itu belum ada. Belum karena dia tak mau tergesa. Belum karena hati belum terbuka. Berikan dia ruang tuk indah di waktunya..

Mungkin belum sekarang. Coba lagi aja lain kesempatan. Tetap semangat!

9. Musim Yang Baik
Lagu yang juga dijadikan judul album kedelapan mereka ini sepertinya bercerita tentang seseorang yang “pulang” setelah melakukan “pencarian panjang” dan sadar ternyata “dia” yang dicari telah berada di dekatnya dan mendoakannya. Lihat saja petikan liriknya..

..kucari dan terus kucari ternyata dia tumbuh mekar di dekatku. Selama ini dan selama ini ternyata doanya lah yang melindungiku..

10. Sampai Jumpa
Setiap orang pernah kehilangan, termasuk kehilangan seorang sahabat yang harus pergi terlebih dulu meninggalkan kita di dunia ini. Pada akhirnya lagu ini mengajak kita untuk bisa melepas, merelakan dan mendoakannya.

..sekeras apapun menangis, takkan merubah yang telah terjadi, harus ku lepas.. ..Tuhan yang aku cinta, mudahkan jalan dia. Tuhan yang aku cinta, sambut kehadirannya..


Entah sengaja atau tidak, album ini diawali dengan “Selamat Datang” dan ditutup oleh “Selamat Jalan”, apapun maksudnya hal itu, album ini benar-benar menunjukkan Sheila On 7 masih menjadi band yang produktif di blantika musik Indonesia untuk ukuran band yang sudah 18 tahun berkarya. Disaat musisi lain lebih memilih vakum mengeluarkan album, dan hanya fokus antara satu panggung ke panggung lainnya, Sheila On 7 masih menunaikan kewajibannya “Bikin Anak Kedelapan”.

Pada akhirnya.. Sheila On 7 adalah Sheila On 7, dimanapun jalan yang mereka pilih untuk berkarya, karya mereka akan selalu ditunggu oleh jutaan penggemarnya, termasuk saya.

Terimakasih atas lahirnya anakmu yang kedelapan ini.
Jalan terus!!

Thursday, 4 December 2014

Ngapain Lihat-Lihat?

Tanpa kita sadari, hidup manusia berkaitan dengan banyak siklus.

Siklus pertama yang saya pelajari adalah siklus hujan. Saat masih SD, guru pelajaran IPA mengajarkan bahwa hujan terbentuk dari proses air laut yang menguap kemudian membentuk awan. Dari awan, turunlah hujan ke permukaan bumi. Air hujan yang turun sebagian masuk ke dalam tanah, sebagian lagi mengalir ke sungai dan bermuara di laut. Dari laut air menguap lagi, kemudian turun lagi hujan, begitu seterusnya. Entah benar atau tidak, yang jelas ketika hujan turun adalah saat paling tepat untuk menikmati semangkuk bakso pedas. Sepedas kenangan mantan. Ah.

Kehidupan yang kita jalani sehari-hari juga nggak bisa lepas dari siklus. Kita lapar, kemudian makan, nutrisi makanan menjadi energi, energi kita pakai beraktivitas dan sisanya kita buang setiap pagi. Besoknya seperti itu lagi, begitu seterusnya. Atau ketika kita beraktivitas, kemudian capek, kemudian ngantuk, maka selanjutnya kita akan tidur. Karena obat ngantuk hanya satu yaitu tidur. Suatu saat teman saya bertanya,

“Ngantuk nih. Enaknya diapain ya?”

Maka dengan penuh wibawa saya menjawab,

“Ya tidur lah, kalo ngantuk tapi nggak tidur itu artinya kamu mengingkari siklus.”
“Tapi satu jam lagi kan Final Liga Champions, Real Madrid vs Atletico Madrid. Masa kamu mau tidur, nggak mau nonton?”
“Oh iya! Nonton lah. Yuk, bikin kopi sama sambel.”
“Sambel buat apa’an?”
“Nanti kalo setelah minum kopi tapi masih ngantuk, itu sambel kamu oles-oles di pelupuk mata. Dijamin bakal kuat melek.”
“Heeh?! Kamu aja sendiri. Segala sambel dioles ke mata. Melek nggak, malah masuk rumah sakit. Lagian tadi ngasih ceramah nyuruh tidur. Pake bawa-bawa siklus segala. Giliran ada bola lupa semua!!”
“Hehehe..”


Saya cuma bisa nyengir. Yah begitulah, untuk mendapatkan sesuatu yang disenangi kadang kita harus “keluar” dari siklus masing-masing.

Selain berada di kehidupan sehari-hari seperti lapar dan tidur, saya juga percaya bahwa siklus itu ada dalam perjalanan cinta setiap manusia. Mulai dari masih sendiri, kemudian mengenal seseorang, melakukan PDKT, setelah itu pacaran, kadang ada pertengkaran, selanjutnya mungkin jenuh dengan rutinitas hubungan, dan pada akhirnya harus berakhir dan sendiri lagi.

Yap, suka tidak suka itulah siklus percintaan yang tanpa kita sadari.

Sama seperti yang saya alami saat ini. Setelah dua tahun lalu hubungan berakhir, maka selama dua tahun pula saya menjalani masa-masa sendiri. Dalam masa sendiri tentu ada suka dan duka.

Sukanya, nggak seberapa.
Dukanya, tak terkira.
Pahit banget.

Apalagi kalo mengisi formulir biodata, terutama pada kolom “STATUS”. Itu yang paling bikin dilema. Pertanyaannya cuma satu kata : STATUS. Tapi nyari jawaban pas itu yang bikin dilema. Mau nulis JOMBLO kok hina banget. Mau nulis SINGLE sejatinya sama saja. Setelah merenung sekian lama dengan mantap saya mengisi kolom STATUS : BELUM TERAKREDITASI. Karena untuk saat ini hati saya belum mendapat akreditasi dari cewek manapun.

Rasanya pedih. Sakitnya tuh disini *sambil nunjuk dada*

Tapi masa-masa itu sudah berlalu, dan siklus percintaan saya kini sudah memasuki fase baru. Pedekate.

Ketika masuk fase pedekate seperti sekarang ini, ada banyak hal yang berubah dari kebiasaan yang saya lakukan. Misalnya dalam hal menelpon cewek, dulu ketika saya bilang,

“Hallo..”

Maka dengan tegas, cewek diujung telepon menjawab,

“MAAF, SISA PULSA ANDA TIDAK CUKUP UNTUK MELAKUKAN PANGGILAN INI. SILAKAN LAKUKAN PENGISIAN PULSA..BLA..BLA..BLA..”

Rasanya pedih. Sakitnya tuh disini *sambil nunjuk dompet*

Tapi sekarang beda. Ketika saya menelepon cewek dan berkata,

“Hallo..”

Maka cewek di ujung telepon menjawab,

“Hallo.. Hei, kamu lagi ngapain?”
“Kan lagi nelpon kamu.”
“Hahaha.. Iya tau.”


Dari pertanyaan sederhana “Kamu lagi ngapain?”, bisa jadi obrolan yang panjang. Yang awalnya cuma sepuluh menit, kini menjadi satu jam. Dari yang satu jam, pada akhirnya akan berjam-jam. Yang tadinya ngobrol panjang, kini menjadi panjang x lebar x tinggi. Tapi itu semua terasa sebentar. Iya, masih terasa sebentar.

Jatuh cinta memang bikin aneh. Tapi nagih.

Dan.. cewek itu bernama Fika. Teman satu kampus tapi beda jurusan, beda fakultas juga beda jenis kelamin. Sebenarnya Fika adalah teman sekolah saya di SMA. Selama 3 tahun disekolah, tak sekalipun saya pernah berbicara dengannya. Sederhana, dari dulu kelas kita selalu berjauhan. Makanya saya juga tau cuma dari kejauhan.

Tapi bukan Tuhan namanya kalo tidak bisa membuat yang tadinya jauh menjadi dekat. Saat itu saya berada di stasiun, rencana liburan pulang ke rumah setelah bergelut dengan seabrek kegiatan kampus. Di stasiun itu juga, untuk pertama kali setelah lulus sekolah saya melihat Fika kembali, dan masih dari tetap dari kejauhan.

Iya, dari kejauhan.

Naluri saya mulai aktif kembali setelah sekian lama berusaha menyembuhkan diri. Dari sana saya mulai berani menyapa dan berusaha untuk bisa lebih dekat. Meskipun cuma sedikit kata. Tapi saya senang, setidaknya kini naluri saya mulai bermain.

Naluri seorang lelaki.

Sampai suatu hari saya beranikan diri untuk mengajak jalan Fika. Rasanya sudah terlalu sering ngobrol panjang lebar di telepon, saya pengen ngobrol dan bertemu langsung. Rasanya pasti beda. Ya, niatnya kencan pertama, tapi alasannya jalan-jalan. Ya pokoknya begitulah.

Ternyata Fika setuju, saya senang bukan main. Menjelang malam ada sebuah pesan datang,

“Aku baru selesai mandi. Kamu sudah berangkat?”

Begitu pesan dari Fika. Saya pun membalas,

“Iya, ini mau berangkat.”

Yah, ini adalah salah satu hari bersejarah dalam hidup saya selain berhasil keluar selamat dari ruang dokter sunat, juga mendengar kata putus dari mantan. Ah, sudahlah.

Saat itu saya memakai setelan celana jin dan kemeja hitam berlengan pendek. Kata orang, hitam itu menunjukkan sisi misterius. Malam itu saya ingin terlihat misterius, cool dan bikin penasaran. Jadi kalo saat itu saya mati, bisa diangkat jadi film dengan judul “Arwah Cowok Misterius Penasaran.”

Amit-amit!

Berbekal alamat yang diberikan tempo hari, saya berangkat mengendarai motor menuju rumah Fika. Lumayan jauh perjalanan, harus mendaki gunung, melewati lembah, sungai, dan samudera, mirip lagunya Ninja Hatori. Tapi akhirnya saya berhasil mendarat dengan selamat di depan rumah berwarna hijau, Rumah Fika.

“Assalamualaikum..Permisi..”

Saya mulai teriak-teriak di depan pagar rumah. Bolak-balik tapi nggak ada jawaban. Benar-benar mirip orang minta sumbangan. Tapi kalo dilihat dari setelan pakaian yang saya pakai, malam itu saya mirip sales panci lagi nyari mangsa malam-malam. Nggak berapa lama pintu dibuka, terlihat sesosok cewek keluar, kemudian tersenyum.

“Hei, akhirnya sampai juga. Kok gak masuk, malah di depan pagar?”

Jari saya menunjuk ke arah benda yang menggantung di pagar,

“Pagarnya digembok.”
“Oh iya lupa.”

Ngajak masuk rumah tapi pagarnya masih digembok. Itu sama aja seperti pengen move on dan nyari pacar baru tapi hatinya masih ditutup rapat. Pake gembok pula. Ya mana mungkin bisa!

“Kok sepi, yang lain pada kemana?”
“Lagi keluar ada acara.”
“Kamu nggak ikut?”
“Kan sudah ada acara sama kamu.”


Saya cuma nyengir. Hati rasanya seperti disiram obat batuk rasa mint. Semriwiiing..

“Mau pergi kemana?”
“Ngopi-ngopi aja yuk.”
“Boleh. Aku ambil jaket sama helm dulu ya.”

Sebelum berangkat, saya memandang langit di atas. Saya berdoa sederhana, Tuhan lancarkanlah hariku. Amin.

Motorpun melaju pelan, menyusuri ruas jalan. Menikmati saat berdua di atas motor. Sampai akhirnya kami berdua berhenti di sebuah kedai kopi yang nggak begitu ramai. Kami memesan dua cangkir kopi dan sepiring kentang goreng. Sambil menunggu pesanan datang saya pamit ke kamar kecil. Sedikit gugup dan hawa dingin adalah perpaduan yang pas untuk memaksa urine gak bisa ditahan. Begitu mau balik ke meja, saya melihat dua orang bapak-bapak memanggil saya. Saya sempat menoleh ke kanan kiri, nggak ada orang lain, berarti memang saya yang dipanggil. Firasat saya nggak enak, jangan-jangan mereka ini adalah Om-Om penyuka sesama jenis. Soalnya dulu pas naik kereta pernah kejadian. Keringat dingin mulai keluar.

“Bapak memanggil saya?”
“Iya, Mas. Em.. minta lihat daftar menunya.”
“Heeh?!


Kampret. Saya dikira pelayan.

“Maaf, Pak. Saya bukan pelayan sini.”
“Oh ya? Maaf.. habis bajunya hitam-hitam begitu.”


Saya langsung ngacir. Niat awal pake baju hitam-hitam biar dianggap misterius, cool dan bikin penasaran, jatohnya malah pelayan. Dari jauh Fika tertawa, meskipun sambil menutup mulutnya.

“Habisnya kamu pake hitam-hitam sih.”

Sesekali Fika masih tertawa. Justru itu yang menambah kecantikannya. Menurut saya, cewek itu keluar kecantikan alaminya saat dia sedang tertawa. Tentu tawa yang jujur dan nggak dibuat-buat. Apalagi dibayar untuk tertawa. Nggak banget. Atau tertawa cekikikan tengah malem. Itu serem banget.

Kami pun mulai ngobrol tentang banyak hal. Saya lebih banyak mendengar, sambil sesekali meminum kopi hitam di atas meja. Sampai saya agak terganggu dengan dua orang di sebelah saya. Terlihat seorang cewek dan cowok yang sedang ribut. Si cowok mencoba menjelaskan sesuatu, dan cewek lebih banyak diam. Sampai tiba-tiba,

Byuuurr...

Si cewek menyiram air minum ke tubuh cowok itu. Saya kira adegan seperti itu cuma ada di FTV. Ternyata di dunia nyata juga ada. Mungkin mereka penggemar FTV, makanya melakukan hal yang sama. Saya terdiam sambil terus melihat mereka berdua. Begitu juga pengunjung lain. Terlihat cewek itu berlari keluar, sementara cowoknya berdiri dan melihat sekeliling dan menjatuhkan pandangan ke arah saya. Karena saya yang berada tepat di sampingnya, kemudia melotot sambil berkata,

“Ngapain lihat-lihat?”

Spontan saya menjawab,

“Kan situ yang lihat saya duluan.”

Cowok itu langsung pergi keluar, mengejar sang pujaan hati. Setelah cowok itu pergi, giliran saya yang dilihatin pengunjung lain. Duh, malu abis. Fika malah cekikikan di depan saya. Puas banget.

“Kamu kok malah ketawa?”
“Habis kamu, orang berantem dilihatin. Kena semprot kan akhirnya.


Kami ngobrol kembali, sesekali Fika masih suka meledek kejadian tadi. Hari beranjak semakin malam, kami memutuskan untuk pulang. Kami menuju ke kasir untuk membayar makan dan minum. Sambil nunggu kembalian, saya melihat di sekitar. Tepat di samping meja kasir terdapat sebuah sofa panjang. Disana duduk seorang Om-Om bersama seorang cewek yang masih muda. Sebenarnya biasa aja sih, tapi yang membuat saya risih adalah si cewek itu gelendotan mesra di pundak Om-Om itu. Sadar saya lihatin, Om-Om itu lantas balik melihat saya,

“Ngapain lihat-lihat? Nggak pernah lihat orang pacaran ya?”

Saya nyengir, kemudian bergegas meninggalkan tempat itu. Om-om itu kembali bermesran dan bergelendotan ria. Semetara Fika kembali tertawa, kali ini nggak peke menutup mulut seperti sebelumnya. Saya berjalan menunduk, berharap lupa ingatan. Sumpah, malu banget.

Di tengah perjalanan pulang, Fika masih membahas kejadian tadi. Begitu sampai, Fika turun dan berkata,

“Kamu sih. Orang mesra-mesraan dilihatin.”
“Udah deh. Nggak usah dibahas terus.”
“Iya-iya. Makasih ya untuk malam ini.”
“Jangan kapok ya.”

Fika mengangguk. Saya pamit, menyalakan motor dan bergegas pulang. Tapi baru 5 meter, saya berhenti, kemudian menengok ke belakang. Terlihat Fika belum masuk rumah, masih berdiri di depan pagar. Saya tersenyum, dia lantas berkata,

“Ngapain lihat-lihat? Belum pernah lihat cewek cantik ya?”

Kami berdua tertawa bersama.

“Belum salam. Assalamualaikum..”
“Walaikumsalam..”

Motor pun melaju menyusuri jalan. Melewati gunung, lembah, sungai, sampai akhirnya berhenti di rumah saya. Sebelum tidur, saya melihat ponsel dan menemukan satu pesan masuk, dari Fika.

“Udah nyampe rumah? Sekali lagi makasih ya.”

Saya tersenyum dan langsung membalas pesan itu. Sumpah, pesan yang seperti ini malah bikin nggak bisa tidur. Lama saya nungguin di tengah ngantuk, tapi belum juga ada tanda-tanda ada pesan masuk. Saya membuka ponsel, ada pemberitahuan tapi bukan pesan masuk, melainkan baterai saya lobet. Kalo ponsel saya bisa bicara, mungkin saat itu dia bilang,

“Ngapain lihat-lihat? Nggak ada pesan masuk woy! Gue udah mau mati nih! Buruan isi!”

Saya langsung tidur. Biarin aja itu ponsel mati.
Bodo amat!

Sunday, 2 November 2014

Macam-Macam Jenis Teman

Berhubung kemarin abis halloween, kali ini saya akan bahas tentang teman. Jaka sembung lagi kumat. Nggak nyambung bodo amat!

“Sahabat sejati selalu ada di hati. Teman untuk selamanya..”

Begitu sepenggal lirik dari Endank Soekamti di lagu “Angka 8”. Kalo kata Endank Soekamti juga di lagu itu, teman itu seperti angka delapan, selalu nyambung terus dan tak pernah terputus. Emang bener begitu?

Nah, pasti kita semua punya teman. Karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial. Iya, sosial bukan Sok Sial. Tarzan yang hidup di hutan aja punya teman, meskipun teman-teman tarzan adalah hewan. Masa manusia enggak? Kalah dong sama Tarzan.. Auwooooo..

Teman adalah.... (rasanya setiap orang punya definisi sendiri mengenai teman, bisa apa saja)

Dan kalo dipikir-pikir, ada banyak jenis teman yang sering kita dengar. Apa aja itu? Si Yayuk rebutan pita sama Doraemon. Yuk kita kemon!

1. TEMAN SEKOLAH
Nah, ini yang paling banyak ditemukan. Karena setiap anak sekolah pasti punya teman di sekolah. Saya nggak tau kalo mereka yang homeschooling. Saya nggak pernah, nggak kuat duitnya. Biasanya teman sekolah ada banyak, kenal dekat atau cuma tahu namanya tetap teman sekolah. Jadi pas ada yang nanya,

“Loh, kamu kenal Dita?”
“Kenal kok. Dulu dia teman sekolah”


2. TEMAN BERMAIN
Kalo yang satu ini cakupannya lebih luas lagi. Mulai dari teman sekolah, tetangga, sampai pacar teman, kalo pernah diajakin main bareng ya artinya sudah jadi teman bermain. Ya bisa main bola, main boneka, main di empang, atau main yang jauh. Misalnya lagi nelpon pacar teman,

“Dita, nanti malem kamu sibuk nggak?”
“Enggak. Kenapa?”
“Main yuk?”
“Boleh.”


Eh, tapi kalo sama pacar teman itu main apa ya?

3. TEMAN MAKAN
Ada beberapa orang yang nggak mau makan kalo nggak ada temannya. Makanya ada istilah teman makan. Apalagi anak kos yang nggak punya pasangan. Duh, mau makan aja kudu ngajak orang lain buat nemenin. Apa hubungannya coba? Kalo perut udah laper ya makan aja. Emang di depan warung ada tulisan “Dilarang Makan Sendirian?” Kan enggak. Udah nggak punya pasangan, kalo laper harus nyari teman dulu, keburu lapar. Sakitnya tuh disini (nunjuk dada) sama disini (nunjuk perut).

4. TEMAN NGOBROL
Ini juga banyak ditemukan. Karena ngobrol bisa sama siapa saja, dimana saja. Misalnya saja lagi ngopi di warung kopi. Biasanya modusnya diawali dengan meminjam korek api. Abis itu bilang makasih, terus udah deh.. ngobrol ngalor ngidul. Dari mulai kopinya kurang manis, sepakbola, anggota DPR, sama istrinya di rumah yang suka ngomel-ngomel. Apaan coba?
Tapi kalo mau nyari teman ngobrol sebisa mungkin dipastikan dia nyambung pas diajak ngobrol. Karena saya pernah ngajak ngobrol orang, pakaiannya rapi, wajahnya bersih, tapi pas diajak ngobrol.. Eh, jawabannya ngalor ngidul. Pas orangnya pergi, punggung saya ditepok sama tukang parkir sambil bilang,

“Mas, yang barusan tadi orang gila.”
“Oh, pantes..”


5. TEMAN CURHAT
Sebenarnya hampir sama dengan teman ngobrol, tapi kalo temen curhat ini lebih spesifik. Karena yang diobrolin juga lebih spesifik, misalnya masalah sekolah, keluarga, teman, gebetan, pacar teman yang mau dijadikan gebetan. Makanya biasanya yang diajak curhat itu orang-orang tertentu, yang sudah kenal deket. Misalnya teman sekolah, teman kos, saudara, pacar teman juga bisa.

Yang belum tahu, curhat disini adalah curahan hati, ingat curahan hati, bukan mancur hangat. Itu beda. Misalnya ada pacar teman nelpon kita,

“Halo, Mas.”
“Iya, Dit. Ada apa?”
“Mas, bisa ke kosku nggak? Aku mau curhat..”
“Si Joko lagi kemana?”
“Lagi sibuk di kampus.”
“Oh, langsung meluncur. Siap 86!!”


Sekali lagi, curhat disini adalah curahan hati. Bukan mancur hangat!

6. TEMAN KOS
Teman kos adalah teman satu kos. Biasanya semakin banyak, karena biasanya teman kos kita bawa teman terus ngenalin. Itu akhirnya juga bisa jadi teman kos. Nah, temannya teman kos tadi juga bawa teman lagi, biar gampang nyebutnya ya teman kos. Pokoknya begitu terus sampai lebaran monyet. Ah, jadi bingung ini.

7. TEMAN DUNIA MAYA
Nah, fenomena menjamurnya media sosial. membuat hal ini banyak terjadi saat ini. Kenal di dunia maya, nggak pernah ketemu langsung, tapi seolah sudah akrab banget, kadang sampai pacaran malah. Itu ada. Banyak.

Mungkin di dunia nyata kurang perhatian, sedikit-sedikit ngeluh dan curhat di media sosial. Nggak tau juga. Mungkin itu juga alasan mengapa banyak orang yang berkeluh kesah dan mengumbar masalah di media sosial. Karena mungkin juga, disana bertebaran pundak dan bahu maya yang siap dipakai bersandar. Hmm..

8. TEMAN KERJA/KANTOR
Teman kerja adalah teman dimana kita melakukan pekerjaan. Misalnya di kantor, jadi nyebutnya teman kerja atau teman kantor. Kalo kerjanya di kantor pos ya namanya tetap teman kantor. Kalo kerjanya di kantor pemasaran namanya juga masih teman kantor. Udah ah, pokoknya gitu!

9. TEMAN TIDUR
Sesuai dengan namanya, ya berarti tugasnya menemani kita tidur. Bisa sudah jadi istri atau mungkin belum. Bisa berupa orang atau mungkin sebuah guling. Kalo sampai sekarang belum punya teman tidur ya sabar aja. Nikmatilah lebarnya kasurmu sendirian sebelum nanti kamu bagi dengan seseorang. Iya, gitu. Ini bukan curhat. Sumpah.

10. TEMAN HIDUP
“Tetaplah bersamaku, jadi teman hidupku. Berdua kita hadapi dunia.”

Seperti lagunya Bang Tulus. Teman hidup adalah teman yang menemani kita untuk menjalani kehidupan. Duh, kalo yang ini saya nggak bisa bahas panjang-panjang. Saya nggak kuat. Ya pokoknya gitu lah.

11. CUMA TEMAN
Ini yang paling nggak enak. Bayangin saja setelah semuanya diatas, mulai dari teman sekolah, teman bermain, teman makan, teman ngobrol, teman curhat, teman kos bahkan sudah jadi teman kerja dan sempat juga menemani tidur, tapi pas diajakin jadi teman hidup jawabannya adalah..

“Maaf, aku cuma anggap kamu teman.”

Mendengar kalimat seperti itu bisa bikin otot lengan dan kaki yang sudah berbulan-bulan di pake fitnes langsung lemes. Seperti jemuran yang kehilangan tali jemurannya, jatuh berserakan. Apalagi perasaannya, sudah seperti bungkusan nasi kucing yang kehilangan karetnya. Ambyar!

Ya begitulah hidup, tidak semua pendekatan akan berakhir sebagai pasangan. Kadang bisa selingkuhan, atau cuma teman. IYA, CUMA TEMAN!