Wednesday, 3 April 2013

Gravitasi Cinta


Sejak kecil saya suka mendengarkan radio. Karena radio adalah hiburan alternatif selain media televisi tentunya. Menikmati siaran radio juga bisa dengan melakukan aktivitas lain, misalnya baca buku atau bengong ngeliatin cicak kawin di tembok. Karena yang kita perlu hanya mendengarkan. Lewat radio saya mendapat banyak hiburan, mulai dari sandiwara radio yang marak di tahun 90-an, berita yang terjadi sehari-hari, sampai perkembangan musik yang ada di negeri ini.

Sampai ada saat dimana radio menjadi bagian penting dalam hidup saya.

Saat itu saya masih duduk di kelas satu SMA, masih dengan kebiasaan suka mendengarkan siaran radio. Apalagi saat malam hari, lumayan buat menemani belajar selain LKS juga buku pelajaran yang nggak pernah abstain dari meja belajar. Berawal dari mendengarkan radio, saya berkenalan dengan seorang cewek, namanya Fransiska. Dia bukan pendengar, tapi sebagai penyiar tamu. Beberapa kali saya sempat mengikuti pas dia siaran. Singkat cerita kita menjadi sering ketemu terus ngobrol banyak hal. Entah kenapa ngobrol dengan penyiar radio itu bisa nyambung ke banyak hal. Mungkin karena tuntutan profesi yang memaksanya untuk punya pengetahuan luas. Dan itu saya suka. Jadi kalo ketemu nggak garing.

Kebetulan Siska keturunan Tionghoa, makanya setiap ngobrol saya selalu dipanggil dengan sebutan "Koko". Dulu saya sempat protes kenapa nama saya Rudi tapi malah dipanggil Koko. Ternyata Koko itu panggilan untuk kakak laki-laki, kalo dalam bahasa Jawa mungkin seperti "Mas". Padahal kita seumuran, tapi kenapa saya dipanggil dengan imbuhan Koko? Apakah saat itu wajah saya kelihatan lebih tua? Entahlah, yang jelas pas ngaca saya mengambil kesimpulan kalo wajah saya ini bukan hasil impor.

Dan haripun terus berlalu. Cerita selanjutnya, mungkin kalian sudah bisa menebak.

Sampai masuk bangku kuliah pun saya masih suka mendengarkan radio, terutama yang siaran diatas jam 8 malam. Lagu yang diputar juga nggak sekenceng pas pagi atau siang hari, lebih pelan musiknya. Jadi enak buat teman ngetik tugas, atau bahkan lagu pengantar tidur. Mau ngerti lagunya atau nggak, bukan masalah. Yang penting anggota badan semuanya kerja. Mulai otak yang disuruh mikir, mata disuruh menatap layar monitor, hidung untuk narik nafas, mulut untuk ngunyah, kedua tangan untuk ngetik juga ngupil, makanya sambil dengerin musik lewat radio biar kedua telingga ada kerjaan. Soalnya kalo kedua telinga sudah nggak bekerja, sudah nggak bisa mendengar, itu tandanya saya sudah masuk ke alam mimpi disertai linangan air liur.

Beberapa hari kemarin pas saya asyik ngetik di komputer, ada sebuah lagu permintaan pendengar yang diputar oleh penyiar radio. Katanya lagu itu single terbaru dari Tangga, saya nggak begitu denger apa judulnya. Sebenarnya lagunya nggak jauh beda dengan aliran musik Tangga pada umumnya. Namun ada satu baris lirik yang membuat kepala saya terpaksa berfikir. Kalo nggak salah seperti ini...

..cinta tak mungkin berhenti, secepat saat aku jatuh hati..
..jatuhkan hatiku kepadamu, sehingga hidupku pun berarti..

Dari lirik tersebut, saya mengartikan bahwa rasa cinta kita kepada seseorang nggak mungkin berhenti dalam waktu yang singkat. Sesingkat saat kita mengalami jatuh cinta kepada seseorang.

Pertanyaannya sekarang..
Apakah jatuh hati atau jatuh cinta itu bisa terjadi dalam waktu yang cepat?

Mungkin bisa saja. Karena nggak sedikit teman yang bilang kepada saya kalo hanya berinteraksi dalam beberapa kali saja dia sudah bisa menyimpulkan sendiri. Dengan yakin mengatakan kepada saya..

"Prud, sepertinya saya jatuh cinta."

Oke! Tapi kenapa jatuh cinta itu bisa dikatakan berlangsung cepat?

Namanya saja jatuh cinta.

Lihat saja buah durian yang jatuh dari pohon. Pasti cepet banget.
Dalam ilmu fisika yang saya pelajari pas SMA kemarin hal itu dinamakan dengan GJB, artinya bukan Gak Jelas banget. Tapi Gerak Jatuh Bebas, yaitu jika sebuah benda dijatuhkan dari suatu ketinggian tertentu, maka kecepatannya semakin lama semakin besar yang diakibatkan oleh pengaruh gravitasi, dalam hal ini tentu gravitasi bumi karena jatuhnya ke bumi. Kalau jatuhnya ke empang itu juga pengaruh gravitasi bumi, karena empang masih berada di dalam bumi. Apasih!

Nah, pengertian gravitasi sendiri adalah gaya tarik menarik yang terjadi antara molekul semua partikel yang mempunyai massa di alam semesta ini. Besarnya percepatan gravitasi bumi adalah 9,8 m/s2, atau untuk mempermudah pas ngerjain soal ulangan saya dulu dibulatkan menjadi 10 m/s2.

Sebenarnya partikel buah durian dan bumi saling tarik menarik, karena besarnya gaya tarik partikel bumi maka buah durian akhirnya bergerak jatuh ke bumi dengan cepat. Bahkan jika kita melempar buah durian itu ke atas, memang buah durian itu akan terlempar menjauh dari bumi tapi hanya pada sampai titik tententu (disebutnya titik maksimum) kemudian kembali jatuh ke bumi dengan semakin cepat. Makanya kalo melempar buah durian ke atas jangan lupa untuk segera lari dari posisi semula, kecuali kalo melempar buah duriannya pake roket yang dikasih pesawat ulang alik. Nanti setelah melempar kita bisa dadah dadah ke buah duriannya. Apasih!

Dan mungkin itulah kenapa dinamakan jatuh cinta. Mungkin juga ini adalah jawaban ilmiah kenapa jatuh cinta itu bisa berlangsung cepat. Karena setiap manusia adalah susunan partikel yang mempunyai massa.

Misalnya ketika seorang cowok bertemu dengan cewek cantik, baik hati, tidak sombong, rajin bangun pagi. Nah, sifat baik hati, tidak sombong, cantik dan suka bangun pagi ini bisa dianalogikan sebagai gravitasi yang mampu menarik molekul-molekul dari susunan partikel bermassa yang bernama cowok. Begitu pun sebaliknya terhadap cowok, karena cowok juga masuk ke dalam susunan partikel yang mempunyai massa, artinya punya gaya tarik juga. Tinggal seberapa besar saja kekuatan gaya tarik yang dimiliki seorang cewek itu, atau sebaliknya, gaya tarik yang dimiliki cowok.

Ketika bertemu, ngobrol bareng, atau bentuk interaksi lain yang dilakukan, disaat itulah gaya tarik menarik antar molekul terjadi. Mungkin agak alot, karena sama-sama kuat, makanya butuh waktu sampai salah satu diantaranya kalah dan tertarik menuju lawannya. Disaat itulah, salah satu pihak mengalami jatuh cinta. Jatuh karena nggak kuat lagi melawan gaya tarikan yang begitu kuat. Uhuk!

Ada pepatah mengatakan “cinta pada pandangan pertama”, dan banyak yang mengamini. Tapi tidak dengan saya. Mungkin yang lebih tepat adalah tertarik pada pandangan pertama. Karena memang hanya ketertarikan yang terjadi ketika kita memandang seseorang untuk kali pertama. Bisa karena dia cantik, ganteng, berwibawa, berkharisma, atau mempunyai senyum yang manis. Senyum sehabis menenggak sebotol madu dari Belanda. Manis Banget. Apasih!

Tapi kalo cinta itu butuh proses, butuh tarik-tarikan molekul dulu, bahkan lumayan alot sampai ada yang kalah dan menjatuhkan hatinya. Dan itu semua butuh waktu. Makanya pepatah Jawa mengatakan, Tresno Jalaran Soko Kulino. Cinta itu datang karena terbiasa. Ya, mulai terbiasa bertemu, terbiasa ngobrol bareng, terbiasa jalan bareng, terbiasa ngerjain tugas bareng, terbiasa tidur bareng. Eh, bukan!
Bahkan terbiasa saling ngejekin bareng. Itu semua butuh proses, butuh waktu sampai cinta datang karena terbiasa dengan hal itu semua.

..beri sedikit waktu, biar cinta datang karena telah terbiasa...(Dewa 19 - Risalah Hati)




Sunday, 24 March 2013

Segelas Es Cincau dan Kenangan Masa Sekolah



Nggak tahu kenapa, siang hari itu panas sekali. Kota Malang yang bagi sebagian orang dianggap dingin, kini mulai beranjak panas. Entah karena sekarang banyak volume kendaraan yang beredar, berkurangnya lahan hijau di perkotaan, atau mungkin benar yang disampaikan BMKG tempo hari kalo tahun ini musim kemarau akan datang lebih cepat. Entahlah, yang jelas helm di kepala saya ini harus segera dibuka. Gerah mampus, sampai kepala rasanya cenat-cenut.

Saya pun meminggirkan kendaraan ke tepi jalan dan buru-buru membuka helm di kepala, kebetulan juga ada yang jualan es cincau. Ah, suasana siang hari yang panas dan segelas es cincau adalah perpaduan yang pas untuk meredam otak yang panas agar tetap terkendali. Begitu masuk mulut rasanya langsung seger, mata melek merem, dan pikiran langsung adem. Kalo dilihat sih nggak ada yang spesial, masih dengan es cincau yang biasa, penjual yang biasa, resep yang biasa. Mungkin faktor kondisi panas hari ini yang membuat segelas es cincau biasa itu menjadi lebih dari biasanya. Ya, terkadang kondisi dan suasana membuat hal yang terbilang biasa dan sederhana menjadi lebih dari arti dua kata itu sendiri.

Sambil ngadem, itung-itung juga istirahat bentar, saya melihat beberapa anak berseragam sekolah SMA yang duduk di sebelah sedang ketawa-ketiwi, ngobrol kesana kemari, nggak ngerti apa yang mereka jadikan topik obrolan. Apakah siang tadi mereka ketahuan nyontek karena kurang profesional? jadi sasaran guru matematika karena duduk di pojok belakang? atau berhasil ngerjain teman sekelas yang sok pinter dan berkuasa? Entahlah..yang jelas diantara obrolan mereka selalu diakhiri dengan tawa lepas. Salah satu jenis tawa yang menandakan kejujuran pemiliknya dalam berekspresi.

Masa muda selalu menarik untuk dibicarakan, terlepas mereka yang membicarakanya masih terbilang muda atau malah sebaliknya, semua tetap menarik. Apalagi kalo sudah masuk dalam topik masa sekolah. Masa yang menurut saya adalah masa paling indah juga mewah. Menghabiskan masa muda dengan banyak belajar, bukan hanya Matematika dan Fisika, tapi juga tentang cinta dan persahabatan. Mungkin waktu bisa berlalu dengan cepat, harga BBM bisa naik turun, polusi semakin meningkat, usia semakin bertambah sampai pacar berganti untuk yang kesekiankalinya. Dan itu semua bisa menggusur keberadaan file-file lain di dalam memori otak kita. Tapi kenangan manis di sekolah, akan terus tersimpan rapi dalam sebuah folder. Nggak akan pernah tergusur, apalagi sampai hilang dari otak setiap pemiliknya.

Pernah ketika saya bercerita masa sekolah saya yang lumayan absurd kepada salah seorang teman saya, dia hanya tertawa dan bilang kalo saya ini bego. Setelah tawanya reda, dia diam sesaat kemudian berkata,
"Sayang, Prud. Saya nggak pernah mengalami episode seperti itu pas sekolah kemarin."
Dari air mukanya jelas terlihat ada penyesalan, mungkin dulu dia menghabiskan masa mudanya dengan hal yang monoton. Sampai akhirnya waktu terus berlalu, membawanya melewati masa itu menuju saat ini, dan dia tersadar. Nggak banyak kenangan manis yang dia buat sewaktu sekolah kemarin.

Memang hal yang menyenangkan itu bisa dibuat kapan saja, dengan siapa saja. Tapi kalo pas di sekolah rasanya beda. Ada seragam, teman sekelas yang tiap hari bersama selama 7-8 jam sehari, kemajuan isi kepala dan masih banyak yang lain lagi . Lebih kepada momentum, makanya saya sebut mewah. Karena waktunya terbatas, nggak bisa seterusnya.
Makanya ketika masa muda banyak-banyaklah berbuat sesuatu, belajar tentang apapun, nikmati dan habiskanlah. Karena dengan begitu kita akan banyak memiliki kenangan. Yah, setidaknya kalo diingat masih menyisakan senyum di saat kita nggak lagi muda. Ditengah tekanan ketika memasuki fase "orang dewasa" atau berlanjut ke “orang tua”.
Memang kalo dipikir-pikir, benar juga apa yang dinyanyikan Sheila On 7 dalam lagunya...

...bersenang-senanglah, karena hari ini akan kita rindukan di hari nanti..
...bersenang-senanglah, karena waktu ini akan kita banggakan di hari tua..


Bagi saya kenangan itu adalah kebanggaan. Karena bagi seorang yang pernah berlabel "siswa", kenangan adalah harta yang tak pernah bisa dibeli dan tergantikan. That's all.

Extra Large!



Kalo ngomongin soal berat badan, menurut sebuah survei yang pernah saya baca, ternyata nggak hanya wanita saja yang nggak suka ditanyain berapa berat badannya, akhirnya berbohong. Betul?
Nah, laki-laki juga sebagian besar demikian, banyak yang berbohong apabila ditanyain berapa berat badannya. Kalo saya jujur, berat badan saya 83kg. Diambil dari data BULOG bulan Desember 2012. Waktu itu saya ditimbang bareng raskin.

Setelah melahap banyak bacaan, ternyata ada tiga macam sebab kenapa orang bisa gendut :
1. Gendut karena keturunan, misalnya kedua orang tuanya gendut, biasanya anaknya juga ikutan gendut biar pas, biar tetangganya percaya kalo itu anaknya. Soalnya kalo bapak ibunya gendut terus anaknya kurus, nanti dikira anak yang tertukar
2. Gendut karena usaha, misalnya dulu badannya kurus terus pengen lebih berisi akhirnya ikut program penggemukan badan, diglonggong misalnya. Akhirnya jadi gendut.
3. Gendut karena dipaksa, ini biasanya terjadi pada anak-anak balita. Orang tuanya pengen anaknya kelihatan sehat, montok. Maka dikasihlah makanan-makanan yang bergizi dalam porsi yang banyak biar cepat terlihat montok. Begitu anaknya udah montok kalo ketemu temen-temen arisannya dipamerin, bikin gemes, dicubitin, diremes-remes. Dan itu sakit. Sumpah.
Makanya kalo saya lihat balita yang montok terus dicubitin ibu-ibu, saya jadi iba. Terus bilang, tenang brother..you'll never walk alone. Soalnya saya juga pernah ngerasain.

Menjadi orang gendut itu serba salah kalo melakukan aktivitas. Misalnya naik lift. Saya pernah naik lift dari lantai 1 mau menuju ke lantai 5, kebetulan liftnya kosong, saya langsung masuk. Begitu nyampe lantai 2, ada segerombolan cewek-cewek masuk barengan, buru-buru, berisik pula. Begitu masuk semua, alarm berbunyi, ternyata kelebihan beban. Bukannya salah satu dari mereka keluar tapi malah ngeliatin saya yang terpojok di belakang. Matanya sinis, seolah ngomong, "Eh, gendut keluar dong. Nyadar kalo punya badan gede."
Dipelototin seperti itu, akhirnya saya mengalah dan keluar. Sambil nyanyi lagunya Sheila On 7 - Berhenti berharap. Kampret!

Serba salah yang lain adalah ketika naik kendaraan umum, bus misalnya. Apalagi bus kecil yang jumlah tempat duduknya masing-masing dua, baik disebelah kanan atau kiri. Kalo saya duduk di deket jendela, terus busnya belok dengan kenceng, pasti orang disebelah saya langsung jatuh. Terdorong sama ayunan badan saya. Nah, kalo saya duduk di kursi satunya, terus busnya belok kenceng, pasti orang yang duduk di sebelah saya kejepit. Ketimpa badan saya lagi. Akhirnya kalo saya pas duduk di bus terus ada penumpang yang mau duduk di sebelah saya, katakanlah seorang cewek, saya mesti langsung bilang, "Mbak, mau duduk dipinggir atau di deket jendela." Itu adalah bentuk basa-basi saya yang sedang menawarkan, apakah mau sering terlempat dari kursi, atau kejepit? Sederhana.

Serba salah ketiga adalah pas di toko pakaian. Bagi orang gendut seperti saya, berada di toko pakaian adalah neraka jahanam. Karena kita hanya bisa melihat model baju-baju yang bagus, tapi nggak pernah ada yag muat. Ibarat pungguk merindukan kue terang bulan.
Setiap baju kan mempunyai ukuran masing-masing, mulai S, M, L, XL. Kalo ditujukan untuk orang gendut, ukuran tersebut ada artinya masing-masing :
S, Sori bro kagak muat. Cari yang lain aja ya!
M, Maaf...kagak muat, yang lain aja ya!
L, Lupain deh, dijamin kagak bakal muat!
XL, xlalu. Dan akhirnya, minimal hanya ukuran inilah yang bisa kita pakai.
Oleh karena itu, banyak orang gendut yang kalo mau beli pakaian nggak pergi ke toko baju, tapi ke toko kain. Belinya meteran terus dibawa ke tukang jahit. Biar pas!

Kalo dalam urusan berpakaian, orang gendut nggak bisa dipaksaian, Kalo orang kurus kerempeng enak, pakai baju apa aja juga jadi. Misalnya bajunya kekecilan, bisa aja mereka ngomong kalo itu model "junkies" yang lagi musim. Jatohnya keren. Kalo pas bajunya kegedean, bisa aja mereka ngomong kalo lagi ngikutin model "hip-hop", tambah kalung hardisk komputer jadi mirip Igor Saykoji. Jatohnya keren lagi.
Nah, kalo orang gendut mau maksain baju jadinya malah aneh. Misalnya bajunya kecil terus dipaksain dipakai. Yang ada nggak mirip anak junkies, tapi kayak ketupat yang diangkat dari kukusan. Karena pasti ada bagian yang nyembul-nyembul di sela-sela pakaian karena bajunya nggak muat. Kalo bajunya kegedean, bukan mirip anak hip-hop, tapi Rama Aipama lagi obesitas. Nggak pas banget. Aneh.
Orang gendut kalo pacaran juga nggak bisa romantis. Sama kayak pakai baju tadi, mau dipaksain jadinya malah aneh. Misalnya di kampus turun hujan, mau pergi bareng sama pacar ke kantin dengan membawa satu payung, biar romantis. Tapi begitu jalan berdua di bawah payung, yang ada payungnya nggak muat dipakai berdua. Terpaksa kita ngalah demi pacar, biar dia nggak kehujanan, dan cuma bisa jalan ngikutin di belakang sambil kehujanan. Niatnya mau romantis, tapi jatohnya malah kayak tukang ojek payung. Bedanya begitu nyampe nggak dapet goceng.

Tapi, terlepas dari ketidak-enakan menjadi orang gendut. Ternyata ada beberapa hal yang membuat orang gendut itu mempunyai nilai lebih dari manusia berukuran di bawahnya. Karena orang gendut itu :
1. Punya jiwa sosial tinggi. Lihat aja tiap ada acara donor darah, pasti mayoritas yang menjadi pendonor adalah mereka orang-orang yang gendut. Nggak ada orang kurus, apalagi ditambahi kerempeng ikutan donor darah. Syarat utamanya aja harus mempunyai berat badan diatas 45kg. Kalo mereka orang kurus sampai berani ikut donor darah, pas berangkatnya sih nggak apa-apa cuma pas pulang bentuk mereka nggak jauh dari jenglot. Kering kerontang nggak punya darah.
2. Punya ikatan batin yang kuat. Karena setiap orang gendut, entah siapa pun itu, mau cantik, mau ganteng, mau jelek, atau mau ngondek sekalipun pasti pernah dipanggil dengan sebutan "ndut". Kalo nggak percaya coba aja pas jalan di mall, terus ketemu dengan beberapa orang gendut, panggil aja langsung dengan "ndut", pasti semuanya akan menoleh. Suer. Nggak bohong.
3. Enteng jodoh. Dalam kebudayaan jawa ada kalo mau mencari jodoh ada istilah harus melihat bibit, bebet, bobot. Bibit adalah asal usul keluarga. Bebet adalah kemampuan kita dalam bekerja. Dan untuk urusan bobot, orang gendut nggak usah diragukan. Timbangannya pasti mantep. Anget.

“…Tuhan nggak pernah memandang seseorang dari berapa digit berat badannya, tapi dari iman, takwa dan karya yang bermanfaat bagi orang lain…” (diipras, 2013)

Monday, 17 December 2012

"Buah Khuldi"



Pagi ini jam sudah menunjukkan pukul tujuh, tapi matahari belum juga keluar dari balik awan. Sisa hujan semalam menambah kadar dinginnya udara pagi Kota Malang. Bagi mahasiswa, kondisi seperti ini tentu sebuah dilema. Satu sisi cuaca seperti ini terlalu nyaman untuk berlama-lama di dalam selimut. Di sisi lain mereka harus bergegas kuliah dengan hadangan dinginnya mandi pagi. Tapi hari ini adalah hari minggu. Mereka bisa dengan nyaman berada di balik selimutnya. Dari luar terdengar suara Bagas memanggil,

“Lang, ngerti sepatuku nggak dimana? Buru-buru nih ada acara di kampus.”
“Bukannya semalam ada disitu. Masa nggak ada?”
“Kalo ada aku nggak bakal tanya kamu. Masa ilang sih?”

Galang yang asik nonton TV di kamar langsung bergegas keluar. Semalam dia menaruh sepatunya ditempat yang sama. Benar saja, sepatunya ikutan amblas. Bukan cuma satu, tapi dua pasang sekaligus.

“Waduuuuuuhh. Sepatuku juga ilang. Dua pasang lagi!!”

Teriakan Galang kontan membangunkan Angga yang letak kamarnya bersebelahan. Dengan muka sewot Angga berdiri di depan pintu kamarnya.

“Heh, masih pagi tau!! Udah pada berisik. Nggak tau hari libur apa?”
“Sori. Sepatuku sama Bagas aku taruh disini ilang.”

Mendengar kata hilang Angga ikutan panik. Semalam Angga menaruh sepatunya juga di depan pintu. Begitu melihat ke bawah Angga nggak menemukan sepatunya. Jejaknya pun nihil.

“Buseeeeettt. Sepatuku kok ikutan amblas juga!!”

Udara pagi memang dingin. Tapi suasana membuat pikiran dan hati mereka panas. Rasa kantuk dan malas langsung berubah menjadi kebingungan. Ditengah kebingungan mereka saat mencari, Adit keluar dari kamar mandi menghampiri mereka.

“Ngapain pada mondar mandir kayak setrikaan?”
“Masih sempet nyela. Nggak tau orang lagi kena musibah. Sepatu kita bertiga ilang nih!!”
“Serius? Ilang dimana? Kapan?”
“Semalam aku taruh di depan pintu kamar. Nanya terus daritadi kayak pas ujian. Bantuin!!”
“Bukan gitu, Lang. Semalam aku taruh sandal gunungku disini juga. Terus tadi pagi pas aku mau mandi nggak ada.”
“Berarti ikutan ilang juga!!”
“Hah?!”

Hampir setengah jam mereka mencari mulai dari sudut kamar, tempat tersembunyi, sampai di lubang semut. Hasilnya tetap nihil. Nggak ketemu. Amblas. Raib entah kemana. Di pagi yang dingin, perut lapar, ditambah capek hati dan fisik setelah melakukan pencarian, mereka pun menenangkan semua itu dengan duduk di ruang tamu sambil terus bertanya satu sama lain tentang kronologis kejadian. Saat mereka saling berbagi kekesalan masing-masing, munculah Hendra dari dalam kamar sambil membawa peralatan mandi dan handuk yang melingkar di leher.

“Weiiiittss. Tumben pagi-pagi udah pada ngumpul. Nah, gitu dong akur. Kan jadi enak dilihatnya. Tapi muka kenapa pada kusut semua kayak pakaian belum disetrika??”
“Lagi kena musibah. Sepatu sama sandal kita berempat ilang.”
“Emang kamu taruh dimana?”
“Seperti biasa. Aku taruh di depan pintu.”
“Sukuriiiiiinn. Makanya kalau naruh sepatu jangan sembarangan.”
“Ah, bukannya bantuin malah ngejekin orang. Mandi sana!!”

Sambil ketawa Hendra bergegas ke kamar mandi. Tapi baru sampai di depan ruang tamu ketawanya langsung berhenti. Kepalanya menoleh kesamping kanan dan kiri. Pandangan matanya mencoba mencari sesuatu. Raut mukanya berubah seperti orang kebingungan. Sambil garuk-garuk kepala, Hendra kembali ke ruang tamu dan bertanya,

“Ada yang ngerti sandalku nggak?”

Adit, Bagas, Galang dan Angga saling berpandangan. Nggak ada yang menjawab. Kemudian langsung tertawa terbahak-bahak tanpa ada komando. Hendra masih garuk-garuk kepala sambil cengengesan.

“Makanya jangan ngejekin orang kena musibah. Kualat kan akhirnya sandalmu ikutan ilang.”

Hendra nggak jadi mandi dan langsung ikutan ngumpul di ruang tamu. Beberapa diantaranya masih megangin perut yang masih sakit karena tertawa. Kini mereka berlima senasib. Sama-sama kehilangan alas kaki. Tiba-tiba Bagas berkata,

“Kalian masih enak yang ilang cuma sepatu sama sandal. Semalam helm baruku juga ilang pas aku parkir di toko buku.”
“Helm ilang? Bukannya baru kamu belikan anti maling yang harganya lima puluh ribu?”
“Iya, tapi nggak aku pasang.”

Mereka spontan langsung tertawa kembali mendengar cerita itu. Helm baru, dikasih anti maling biar nggak kemalingan, tapi diambil maling juga. Kecuali Bagas, semua megangin perutnya yang sakit karena kebanyakan tertawa. Galang pun angkat bicara,

“Sumpah. Harusnya aku kesel gara-gara sepatuku ilang dua pasang. Tapi kok jadinya malah terus ketawa. Sampai sakit perutku.”

Bahagia dan sedih itu datang silih berganti. Kadang malah jeda diantaranya sangat cepat. Setelah volume tertawa semakin mengecil, dan sakit di perut mereka mulai terkendali. Tiba-tiba dengan wajah serius Bagas mulai bicara,

“Jangan-jangan sepatu ilang gara-gara kita ngambil mangga sebelah rumah kemarin?”
“Ah, masa sih?”
“Coba pikir. Yang kehilangan kita berlima. Kemarin yang terlibat juga kita berlima. Hendra bagian ngambil buah. Adit ngasih jalan lewat kamarnya. Aku nyiapin pisau. Galang sama Angga ikutan makan. Pas kan?”
“Bener juga sih. Berarti itu buah larangan. Yang ngambil bakal kena musibah. Seperti buah di cerita Nabi Adam. Apa namanya?”
“Buah Khuldi.”

Mereka semua langsung diam. Mungkin menyadari kalau musibah ini adalah akibat perbuatan mereka sendiri yang ngambil mangga tanpa izin. Yah, apapun alasannya, mencuri itu tidak baik karena merugikan orang lain. Mau perbuatan baik atau buruk semua pasti ada balasannya. Cuma kali ini mereka menerima balasanya sangat cepat. Istilahnya GPL (Gak Pake Lama).

Thursday, 8 November 2012

Sepotong Semangka Di Siang Bolong



Jam masih menunjukkan pukul sembilan pagi, disaat saya terbangun oleh suara gaduh anak kecil yang bermain bola di luar kamar. Mata ini masih susah untuk terbuka, tapi telinga rasanya seperti “diperkosa” oleh kegaduhan di pagi itu. Berkali-kali saya mengumpat dalam hati. Bukan karena apa-apa, semalam saya begadang nonton semifinal liga champions sampai pagi tiba. Ya, hanya karena saya tidur setelah sholat subuh, beberapa jam yang lalu, nggak lebih. Mau tidak mau saya pun bergegas menikmati bangun pagi hari ini dengan penuh keterpaksaan.

Setelah nyawa terkumpul dan mata mulai terbuka dengan sempurna, ritual pagi pun saya mulai dengan senam wajah yaitu dengan mengucapakan huruf vocal A,I,U,E,O. Senam wajah tersebut dapat membuat wajah lebih segar meskipun sedang dalam kondisi kantuk berat, itu menurut buku yang pernah saya baca. Terlepas itu benar atau tidak, saya hanya mencobanya. Ritual selanjutnya tentu adalah kegiatan di kamar mandi, sesuai dengan susunan acara yang sama setiap harinya. Saya berharap kesegaran mandi pagi ini membuat kantuk saya lenyap, setidaknya sampai siang nanti. Membaca buku, menulis lepas, sampai bermain gitar berturut-turut saya lakukan untuk mengisi pagi hari saya, sampai panggilan alam datang, saatnya mengisi perut.

….

Berada di semester 8 membuat hari-hari saya berlalu dengan hal-hal yang monoton, mulai dari buku, main game skripsi dan kadang nongkrong di perpus. Ketika masih ada kuliah dulu, pergi ke kampus adalah alasan paling logis untuk membuang waktu. Meskipun nggak ada kuliah, setidaknya ketemu terus ngobrol bareng teman-teman bisa menjadi hal yang menarik. Tapi sekarang berbeda ceritanya, bagi mahasiswa semester 8 seperti saya, tidur itu lebih baik ketimbang pergi ke kampus tanpa tujuan pasti.
Karena yang ada kita merasa seperti orang asing di kampus sendiri. Alasannya sederhana, teman seangkatan kita sudah jarang yang beredar di kampus, mereka sibuk dengan skripsi atau malah sudah lulus. Boro-boro menghabiskan waktu ngobrol bareng teman, ada yang nyapa kita itu sudah mending. Itu juga kalo kita nggak ketemu dengan orang yang tanya seperti..

“Kapan Ujian?”
“Kapan Yudisium?”
“Kapan Wisuda?”

Kapan. Kapan. Kapan. Setelah itu mungkin pertanyaannya adalah, “Kapan Nikah?”
Pertanyaan sederhana yang terkadang sensitif bagi sebagian orang. Apakah termasuk saya?? Sedikit.

…….

Dalam status quo seperti ini membuat saya mencari pelarian lain atas aktivitas monoton setiap hari. Salah satunya adalah rajin makan semangka dan terkadang mangkal sekaligus menyempatkan untuk ngobrol sejenak dengan si penjual. Memang kalau dilihat dari paduan kaos oblong dan celana pendek yang saya pakai sehari-hari, lebih pas disamakan dengan tukang buah daripada seorang mahasiswa. Mengingat di kampus saya, sebagian besar mahasiswa tak ubahnya seperti majalah fashion yang berjalan. Gaya busana dan dandanan sama-sama nggak ada yang mau ketinggalan.

Up to date.

Dengan paduan kaos oblong dan celana basket yang saya pakai, pernah suatu ketika ada seorang perempuan dengan terburu-buru mengambil dompet, mengeluarkan uang lima ribu, menyerahkan kepada saya kemudian berkata,

“Mas, nanasnya tiga ribu, sisanya melon sama semangka,”

Saya diem. Bengong. Sambil pegang uang lima ribu tadi,

“Mas, cepetan. Saya sudah ditungguin.”
“Oh, iya Mbak.”

Beruntung saya sudah kenal dengan penjual buah. Sambil ngambil potongan buah dalam lemari kaca, saya senyum-senyum sendiri, nahan ketawa dan masih nggak percaya dengan hal ini. Setelah selesai mengambil potongan buah, saya menyerahkan kembali kepada perempuan tersebut.

“Ini Mbak buahnya, maaf kalau lama soalnya yang jual lagi beli rokok di warung sebelah.”
“Lah, terus Mas ini siapa?”
“Ya sama kayak Mbak juga, pembeli.”
“Oh, maaf Mas, saya nggak tahu. Soalnya mirip sih.”
“Nggak apa-apa, asal jangan tiap hari aja dikira tukang buah. Bisa jualan beneran saya nanti.”
“Bisa aja. Makasih, Mas.”
“Sama-sama.”

Dari kejauhan penjual buah aslinya datang, dengan mulut yang kembang kempis menghisap sebatang rokok dengan merek tiga deret angka. Namanya Mas Hayun, pria keturunan Madura dan sudah berkeluarga. Saya langsung menyerahkan uang lima ribu penuh cerita tadi.

“Nih, tadi ada beli buah.”
“Terus kamu ambilin?”
“Ya iyalah, orang tiba-tiba langsung disodorin uang lima ribu. Dibilang mirip pula.”
“Hahaha...dulu kan kamu magang di kantoran, anggap aja sekarang magang disini.”
“Ya asal jangan tiap hari aja, Mas.”
“Kenapa?”
“Karena ada Saya. Sampeyan nggak lagi memonopoli penjualan buah di sini. Bisa turun itu pengahasilan.”
“Hahaha..”

Kadang saya selalu bawa tas kecil kalau celana pendek yang saya pakai nggak ada kantongnya, buat tempat dompet sama ponsel. Tapi gara-gara kombinasi pakaian dan aksesoris tas itu pula seorang bapak berpakaian necis keluar dari kantor PLN, datang dan minta tolong saya yang sedang duduk makan sepotong semangka sambil baca koran.

“Mas, mobil saya mau keluar, tolong ya.”

Saya bengong. Apalagi ini.

“Tolong ya, Mas.”
“Oh iya, Pak.”

Saya baru sadar kalau bapak itu mengira saya tukang parkir. Saya pun dengan pede bangkit, bergaya seperti tukang parkir, bergantian mengucap kosakata tukang parkir seperti : maju-maju, mundur-mundur, kanan-kanan, kiri-kiri, stop. Untungnya satpam PLN buru-buru datang bantuin. Mobil pun berlalu diselingi bunyi klakson dua kali dan salam hormat dari satpam tadi.

Tapi kok ada yang aneh sepertinya. Bapak tadi lupa ngasih dua ribu ke saya.

Sial.

Mending dikira jadi tukang buah dapat lima ribu, daripada tukang parkir. Jangankan dua ribu, seribu pun pun nihil.
Percuma saya mau dianggap tukang parkir tadi.

Sialan.

……

Kalau ditanya alasannya kenapa saya suka buah semangka??

Jawabnya sederhana saja, karena semangaka itu manis dan menyegarkan.

Saya mulai suka dengan semangka sejak masih duduk di bangku SD. Waktu itu saya kelas 5 SD dan sedang ikut lomba Itajamnas (Ikatan Jambore Nasional) tingkat kecamatan. Untuk ukuran anak kecil seperti saya, berkemah selama empat hari di tanah lapang, tidur jam 11 malam dan harus bangun jam 3 pagi untuk pergi mandi di sungai, dan seabrek kegiatan di sinag harinya bukanlah hal yang biasa bagi saya. Singkat cerita saya jatuh sakit dan hanya terbaring di dalam tenda yang amat-sangat-tidak-nyaman-sekali untuk orang sakit.

Besoknya adik kelas perempuan saya, Niken, ngasih semangka yang dipotong diatas nampan untuk tenda anak laki-laki. Berhubung yang lain sedang ada kegiatan jelajah, dan karena cuaca yang sangat panas, satu nampan semangka habis di mulut saya. Nggak tau kenapa, setelah melahap beberapa potongan buah semangka tadi secara “tidak terhormat”, meriang saya mulai berkurang dan pusing di kepala juga nggak separah sebelumnya. Meskipun kondisi saya berangsur-angsur sembuh, namun sore harinya badan saya panas kembali. Panas oleh pukulan dan tendangan teman-teman saya begitu tau kalau semangka jatahnya (maaf) sudah saya embat dengan tidak hormat.

…..

Pas saya sedang asyik membaca berita menarik seputar sepakbola di koran pagi ini sambil mojok di pos satpam dan sepotong semangka tentunya, tiba-tiba Mas Hayun nepok pundak terus tanya..

“Final nanti dukung Chelsea apa Bayern Munich??”
“Jelas Chelsea lah..”
“Kenapa??”
“Saya suka warna biru. Nah, kostum Chelsea kan biru. Jadi saya dukung.”
“Gitu doang??tapi banyak orang yang dukung Bayern Munich lho..”
“Ya, karena sudah banyak yang dukung jadi saya nggak dukung lagi. Lagian ngapain dukung tim yang difavoritkan banyak orang bakal menang. Kalo bener menang juga bakal biasa aja. Karena sesuai prediksi. Nah, kalo dukung yang nggak difavoritkan tapi nanti bisa menang, itu baru luar biasaaaa..”
“Wah, oposisi nih ceritanya??”
“Begitu juga boleh. Hahaha..”

Sedang asyik ngobrol berita bola sambil makan semangka, tiba-tiba ada seorang pembeli mendekati ke motor Mas hayun yang di bagian belakangnya penuh diisi dengan potongan berbagai macam buah. Mulai dari semangka, melon, nanas, bengkoang, papaya, mangga, dan teman-temannya. Cuma satu jenis buah yang nggak ada disana, buah simalakama.

Saya melihat seorang perempuan muda berambut pendek dengan tangan kanan memegang tumpukan buku dan yang sebelah kiri memegang setangkai bunga mawar merah. Perlahan saya melipat koran yang sedari tadi berada di tangan, mulut saya juga berhenti mengunyah potongan-potongan semangka karena radar di kepala memberikan instruksi kepada mata untuk tidak melewatkan pemandangan ini.

Lumayan.

Semua adegan di depan saya mendadak menjadi pelan, seperti slow motion dalam film-film action. Mulai dari ngobrol dengan Mas Hayun, milih-milih buah di kotak sampai perempuan tersebut berjalan meninggalkan motor Mas Hayun, semuanya masih berjalan pelan di mata saya. Saya mencoba untuk tetap memandang, berusaha untuk tidak berkedip. Kata orang melihat perempuan setelah berkedip itu dosa. Dia pun sekilas membalas pandangan saya sambil mencium bunga mawar di tangan kirinya.

Mungkin hanya tiga detik sebelum dia lenyap tak terjangkau pandangan saya lagi.
Tiga detik yang memberi perbedaan arti. Buat saya, tiga detik yang mengartikan kekaguman melihat indahnya ciptaan Tuhan. Dan bagi dia, tiga detik yang mengartikan keprihatinan melihat pemuda lusuh dengan wajah penuh kesengsaraan.

Itu beda banget.

Tiba-tiba pundak saya ditepuk,

“Cantik ya?”
“Siapa?”
“Yang barusan beli buah..”
“Ah, nggak juga.”
“Lha tadi kamu ngeliatin terus. Kalo nggak cantik terus apa dong??”
“Hmm…kayak semangka ini mas. Manis dan menyegarkan..”
“Hahahahaaa…”

Begitu selesai menghabiskan kolom demi kolom berita, saya pun bergegas pulang ke kosan. Dari kejauhan Mas Hayun melambaikan tangannya dan berteriak,

“Besok pagi jam 9 dia pasti kesini lagi..”

Saya pun membalikkan badan, tersenyum dan menempelkan telunjuk dan ibu jari membentuk lingkaran sebagai jawaban.

….

Semangka itu, memang manis dan menyegarkan.
:-)