Tuesday 7 January 2014

Inilah Musim-Musim Dalam Perjalanan Cinta Kita!!


Paijo buru-buru mengendarai vespa bututnya selepas jam kuliah berakhir. Bukan apa-apa, langit yang semula berwarna biru sekarang sudah tertutup oleh awan hitam, sehingga menjadi gelap dan menandakan segera turun hujan. Begitu mesin nyala, tanpa nunggu persetujuan juru parkir, Paijo langsung menarik gas kencang-kencang. Bukan karena perutnya mules dan buru-buru sampe rumah biar nggak “keguguran” di jalan. Paijo hanya takut kehujanan, secara dia lupa bawa jas hujan.

Tapi yang namannya cuaca memang susah ditebak. Nggak jauh beda seperti emosi cewek yang sedang PMS. Begitu jalan beberapa meter, hujan langsung turun dengan derasnya. Breeeeeessss.... Paijo pun basah kuyup mulai ujung rambut sampai ujung kaki. Bahkan sampai ujung biji.

Biji mata maksudnya.

Melihat hujan yang semakin deras, Paijo menepikan vespa dan berteduh di emperan toko. Disana Paijo tidak sendiri, sudah ada dua orang yang juga berteduh, cowok dan cewek yang sedang duduk berdampingan di sebuah bangku panjang. Ya, mereka berdua pacaran, dan hanya Paijo yang duduk sendirian. Selanjutnya Paijo hanya bisa melihat adegan orang bermesraan di tengah hujan.

Itu menyakitkan.

Kata orang, kalo ada dua orang berduaan maka yang ketiga adalah setan. Disana, Paijo lah yang menjadi orang ketiga. Nggak ada yang lain. Daripada dikira setan, dan terus melihat pemandangan orang bermesraan, Paijo akhirnya bangkit dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.

“Mau nekat, Mas?”
“Iya. Udah basah kuyup juga.”
“Tapi hujannya masih deras loh..”
“Nggak apa-apa. Siapa tau hujannya juga bisa sampai hati saya yang lagi musim kemarau. Biar nggak terus-terusan kering.”
“Oh...”

Paijo langsung kembali ke jalan. Menerjang derasnya hujan yang turun. Yah, meskipun di luar tubuhnya diterpa hujan deras, tapi di dalam hatinya berasa musim kemarau. Kering kerontang, seperti nggak ada kehidupan.
Ironis.


Nah, kalo ngomongin soal perasaan memang nggak ada habisnya. Mau kejadian atau peristiwa apapun pasti bisa diplesetin ke hal-hal yang berbau perasaan. Mungkin orang-orang Indonesia terlalu peka dan cepat tanggap kalo urusan perasaan. Tuh lihat, Paijo aja yang kehujanan masih bisa mlintir hujan ke perasaan. Hujan memang turun, tapi hatinya masih berada di musim kemarau. Aih matih...

Perasaan itu identik dengan cinta. Kalo ngomongin soal cinta, pasti setiap orang pernah merasakan jatuh cinta. Dan setiap yang merasakan jatuh cinta pasti mempunyai cerita tentang perjalanan cinta mereka masing-masing.
Duduklah yang nyaman dan kencangkan sabuk pengaman!! Mari kita mulai. Inilah beberapa musim dalam perjalanan cinta kita...

1. Musim Kemarau
Musim kemarau ini lebih kepada mereka yang masih menyandang status jomblo. Iya, jomblo seperti Paijo di atas. Meskipun bagi sebagian orang tetap bisa bahagia dengan status jomblonya, namun pasti ada saat dimana hatinya yang kering butuh tetes-tetes air hujan untuk membasahi. Setidaknya kemarau di hatinya tidak berlangsung dalam waktu yang lama. Lihat aja tanah yang kena kemarau panjang. Udah kering, gersang, panas, bahkan sampai pecah-pecah. Coba kalo itu terjadi di hati kalian. Sudah bisa membayangkan?

Seperti yang kita ketahui, kalo di musim kemarau banyak sekali kegiatan yang dilakukan untuk meminta hujan. Apalagi kalo musim kemaraunya agak panjang. Misalnya, sholat minta hujan. Dimana banyak orang sholat berjamaah di ruangan terbuka di siang hari. Panas dong? Pasti. Ada juga ritual seperti tiban, dimana dua orang bergantian memukul badan lawan dengan menggunakan rotan atau lidi aren. Pasti sakit dong? Bisa berdarah dong? Jelas! Malah ada yang bilang semakin banyak darah yang mengucur, maka akan semakin deras pula hujan yang akan turun. Itu masalah kepercayaan.
Intinya, mereka semua tahu kalo musim hujan itu pasti datang. Karena setelah musim kemarau adalah musim hujan. Tanpa melakukan itu pun secara ilmiah musim hujan pasti akan datang. Tapi mereka rela berdoa di tengah terik siang yang panas, kesakitan bahkan keluar darah dari tubuh untuk meminta agar tetes-tetes air hujan segera turun. Nah, kalo mereka saja mau berbuat seperti itu untuk meyakinkan Tuhan agar segera turun hujan, kalian sudah melakukan apa untuk meyakinkan Tuhan agar segera mempertemukan dengan pasangan?

*kabur*

2. Musim Semi
Musim semi ini lebih kepada saat-saat PDKT. Iya, masa-masa pendekatan. Dimana pada saat ini kita mengenal cinta hanya pada satu hal yaitu : INDAH. Mulai dari kita kenal dengan seseorang, sampai kita berusaha untuk lebih kenal dekat yang ada hanya indah. Nggak ada yang namanya keburukan. Toh kalaupun ada pasti juga diabaikan. Ibarat bunga mawar yang mulai bersemi dan mekar, pasti yang pertama dilihat adalah keindahannya. Padahal dikelopak bunganya nempel tai ulet, tapi itu pasti diabaikan. Mungkin dimasa inilah yang dinamakan cinta itu buta. Iya, buta. Karena pandangan kita didominasi oleh kebaikan dan keindahan.
Dimasa ini kita mulai lebih perhatian dan peduli dengan orang yang kita pedekate-in. Karena di masa ini pasti kita akrab dengan pertanyaan seperti..

“Hei, lagi ngapain?”

Entah itu di lewat sms, media sosial, atau kartu pos (duh jadul banget). Setelah itu, bisa jadi harap-harap cemas sampai ketiduran gara-gara nungguin apakah pesan kita mendapat balasan atau tidak. Dan ketika mendapat balasan, malah kita yang nggak bisa tidur. Senyum-senyum sendiri di tengah malam sambil menatap layar henpon. Ada yang pernah?
Yap, seperti layaknya musim semi. Masa pedekate adalah masa yang paling indah..

3. Musim Hujan

Kalo musim kemarau itu jomblo, maka musim hujan adalah masa jadian. Iya, jadian. Dimana hati yang dulunya kering, gersang, panas dan pecah-pecah kini mulai dijatuhi rintik hujan yang perlahan membasahi. Rasanya pasti seger banget. Hati yang dulunya divonis “mati” kini telah segar dan mulai menemukan kehidupan kembali. Aih matih..

Ketika awal jadian maka sudah bisa dipastikan hujan perhatian dan kasih sayang bakal turun dengan lancar. Ibarat hujan yang turun di minggu pertama, pasti banyak yang dengan sukacita menyambutnya. Sama juga dengan orang yang baru jadian, masih indah-indahnya. Misalnya ketika jalan bareng sambil gandengan tangan, eh tiba-tiba kaki ceweknya terantuk batu. Langsung deh batu itu dimaki-maki..

“Eh batu, kampret lo! Pacar gue kesakitan tau! Kamu nggak apa-apa kan sayang?”
“Iya, nggak apa-apa kok.”


Dan terjadilah adegan si cowok yang mijitin kaki ceweknya.

“Lain kali hati-hati ya kalo jalan.”
“Iya. Makasih ya sayang.”

Indah banget. Halah...

Dan pada awal masa jadian, biasanya kita menjadi lebih perhatian terhadap pacar. Mulai sering bertanya keadaan pacar, kabar pacar, kegiatan pacar, udah makan apa belum, sama siapa sekarang. Banyak deh. Dan nggak lupa kadang menyisipkan kata “Muuuacchh” atau emoticon “:*” di akhir. Ada yang pernah?

Lagian kalo dipikir-pikir sepertinya lagunya kangen band.
Kamu dimana? Dengan siapa? Semalam berbuat apa?
Hmm...

Buat yang punya kebiasaan seperti di atas, perlu kalian tahu kalo pasangan kalian juga manusia. Manusia sosial biasa. Artinya punya kehidupan lain dan nggak hanya buat kalian, masih ada keluarga juga teman mereka. Lagian terlalu banyak perhatian itu jatohnya bikin pasangan malah nggak nyaman. Ibarat hujan yang turun setiap hari, kita jadi nggak bisa kemana-mana, jemuran nggak cepet kering, banjir dimana-mana, banyak deh. Akhirnya banyak kegiatan di luar rumah kita jadi gak berjalan dan hanya berdiam diri di rumah.

“Sayang udah makan?”
“Udah.”
“Sayang makan apa?”
“Makan ati.”

Nggak mau kan tanggepannya seperti itu. Perhatian memang penting, tapi sewajarnya sajalah...

4. Musim Panas
Musin panas ini adalah saat hubungan percintaan kita mulai menemui masalah. Yang namanya hubungan percintaan itu nggak selamanya indah dan berjalan mulus. Manusia bukanlah dua rel kereta api yang bisa terus sejajar dan beriringan mulai awal sampai akhir. Tapi makhluk yang dilengkapi ego dan emosi. Ketika dua orang dengan jenis demikian harus bersatu, pasti akan menimbulkan masalah mulai dari yang kecil sampai besar.

Menjalin hubungan hanya kelihatan indah, itu hanya ada di FTV. Karena kalo di dunia nyata, cowok bakal menghadapi “indahnya” berhadapan dengan cewek saat PMS. Mungkin begitu juga sebaliknya. Yap, inilah kenyataan.
Mulai ada rasa curiga juga cemburu yang bisa menimbulkan pertengkaran-pertengakaran kecil. Pertengakaran kecil menjadi pertengkaran besar. Pertengkaran besar menjadi masalah. Begitu seterusnya.

Mungkin ini yang dinamakan ujian.

Orang bilang rasa cemburu, masalah, pertengkaran itu adalah bumbu dalam percintaan. Tapi terkadang kita nggak sadar, terlalu banyak bumbu malah bikin makanan nggak enak. Misalnya aja makan daging rendang yang bumbunya pas dan nggak terlalu banyak, pasti rasanya enak dan masih berasa dagingnya. Coba bayangin makan empat potong daging rendang dengan bumbu segentong penuh.

Emang masih berasa dagingnya?

5. Musim Dingin
Musim dingin adalah saat dimana kita mulai bosan dan jenuh dengan hubungan percintaan yang kita jalani. Mungkin terlalu sering bertemu, melakukan hal yang monoton saja, atau mungkin ada alasan lain yang akhirnya membuat sifat kita menjadi “dingin” kepada pasangan kita. Iya, dingin dan nggak hanggat lagi seperti awal pedekate dan jadian.
Yang dulunya indah kini perlahan mulai hilang. Yang dulunya suka kirim kata “Muuuaaach” atau emoticon “:*” di akhir pesan juga mulai hilang. Begitu juga dengan perhatian...

Misalnya pas jalan bareng kemudian ceweknya terantuk batu, bukan lagi batunya yang disalahin, tapi malah ceweknya...

“Manja banget sih! Udah tau banyak batu, pake meleng lagi.”

Dan telihat adegan cowok berlalu tanpa menghiraukan lagi ceweknya yang kesakitan. Sedang si cewek, berusaha untuk terus berjalan sambil menahan sakit. Iya, sakit. Sakit luar dan dalam.

Semua mendadak dingin.

Mungkin ada masalah atau sesuatu yang memang harus dibicarakan berdua. Tapi susah kalo ada yang nggak mau terbuka. Pas ditanya jawabnya juga sama...

“Kamu kenapa? Ada masalah?”
“Nggak apa-apa.”


Tiba-tiba langsung ngetwit >>> Dan hubungan mendadak semakin dingin. Seperti kopi yang ditinggal asyik bermain catur selama berjam-jam. Rasanya dingin dan nggak nikmat lagi.

Ada yang pernah?

6. Musim Gugur

Musim gugur adalah saat dimana hubungan percintaan kita harus berakhir. Kita nggak pernah tau bagaimana akhir cerita percintaan yang kita jalani. Setelah melewati ujian di “musim panas” dan “musim dingin” apakah masih bisa bertahan atau harus gugur di tengah jalan. Berserakan dan berhamburan diterpa angin kencang. Aih matih..

Ada dua alasan kenapa tanaman itu gugur. Pertama, karena kekurangan zat makanan atau air yang dia butuhkan sehingga dia kering dan akhirnya gugur/mati. Kedua, dia memang sengaja menggugurkan bagian-bagiannya (biasanya daun) karena dengan cara itulah dia dapat mempertahankan hidup.

Sama seperti hubungan percintaan. Kalo dirasa banyak sakitnya daripada senengnya kenapa harus takut mengakhiri. Pohon saja masih bisa bertahan hidup setelah menggugurkan daunnya, masa kita yang manusia nggak bisa bertahan hidup hanya karena kehilangan pacar?

Memang sih kita bukan pohon, melainkan spesies yang lebih kompleks daripada pohon. Tapi sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan, apa salahnya kita saling belajar...

7. Musim Pancaroba

Sebenarnya musim ini nggak ada, musim pancaroba hanya istilah untuk masa peralihan dari satu musim ke musim yang lain. Terutama di daerah khatulistiwa seperti Indonesia, dimana hanya terdapat dua jenis musim, penghujan dan kemarau. Dan peralihan diantara keduanya itu dinamakan musim pancaroba. Musim peralihan.

Tapi kalo dalam percintaan, musim inilah yang paling berat menurut saya. Dimana disini adalah masa peralihan dari punya pacar menuju jomblo. Iya, dari mulanya ada pasangan menuju ke kesendirian. Agak berat...

Kenapa berat? Karena nggak mudah membiasakan hati dari yang awalnya terbiasa dengan “musim hujan” kini harus bersiap menuju “musim kemarau”. Kalo musim pancaroba asli, akan banyak ditemui banyak penyakit seperti pilek, meriang dan batuk. Hal ini dikarenakan daya tahan tubuh yang kurang prima. Sama seperti musim pancaroba di percintaan, dimana kalo kita nggak punya “daya tahan” hati dan perasaan yang kuat, bisa-bisa kita juga gampang sakit. Patah hati, nyesek, galau, dan gerombolan sejenisnya...

Lama tidaknya waktu yang dibutuhkan juga tergantung dari daya tahan orang yang kena “penyakit” tersebut. Bisa sebentar, bisa lama, bahkan bisa sangat lama. Bisa cepat sembuh, juga bisa berlarut-larut sakitnya.

Intinya sih kita harus belajar untuk adapatasi. Adaptasi dari “musim hujan” menuju “musim kemarau”, dan semua itu memerlukan waktu. Iya, semua itu memerlukan waktu...

“Yakinkan aku Tuhan, dia bukan milikku. Biarkan waktu, waktu..hapus aku. Sadarkan aku Tuhan, dia bukan milikku. Biarkan waktu, waktu..hapus aku.” Hapus Aku – Nidji.