Thursday 18 February 2016

Kapan?

Terkadang hidup itu seperti ini, lepas dari pertanyaan kapan yang satu, masuk ke pertanyaan kapan yang lainnya. Dan saking seringnya ditanya, kita jadi sekenanya menjawab : kapan-kapan.

Ketika saya belajar ilmu jurnalistik, setidaknya ada 5 pertanyaan yang harus diajukan untuk membuat sebuah berita. Kita mengenalnya dengan 5W1H, yaitu what, who, where, when dan how. Dalam bahasa Indonesia yang berarti : apa, siapa, dimana, kapan dan bagaimana. Ketika lima pertanyaan tersebut sudah terjawab, setidaknya sebuah berita menjadi layak untuk diberitakan.

Apa menayakan kejadian yang terjadi, siapa itu menjelaskan pelaku, dimana menayakan tempat, kapan menanyakan waktu, dan bagaimana menanyakan kronologis kejadian.Saya tidak membahas semua kata tanya tersebut, karena disini saya akan membahas kata yang digunakan untuk menanyakan waktu, yaitu “kapan?”

Saat kita masih kecil, pertanyaan “kapan” mungkin sama seperti kata tanya lainnya yang dengan mudah kita jawab. Misalnya,

Kapan liburan?
Kapan main bareng lagi?
Kapan masuk sekolah?

Jawab saja : besok, minggu depan, bulan depan.

Mudah bukan.

Namun, begitu kita beranjak dewasa, “kapan” adalah salah satu kata tanya yang mungkin membuat kita resah dan terkadang sulit untuk menjawabnya. Terutama jika itu menyangkut dengan hal-hal yang kita sendiri juga belum bisa memberikan jawaban pasti. Seperti,

Kapan lulus?
Kapan kerja?
Kapan nikah?
Kapan punya anak?

Sebenarnya kita bisa saja dengan mudah menjawabnya seperti, besok, tahun depan, atau setelah pemilu.

Mudah bukan.

Tapi yang terjadi kadang bisa sebaliknya, dan sambil tersenyum kecut kita menjawab : kapan-kapan.

Kapan Lulus?

Kita maunya lulus tepat waktu, kalo bisa 7 semester sudah bisa lulus kuliah. Tapi apa daya pada akhirnya baru lulus setelah 7 tahun. Targetnya 7 semester, realisasinya 7 tahun, sama-sama angka tujuh tapi ternyata beda satuan.

Rasanya juga beda.

Agak pedih.

Mereka bisa dengan mudah menyanyakan “kapan lulus?”, tapi mereka nggak tau bagaimana kita berusaha keras untuk bisa menjawabnya. Berlama-lama di perpus, judul yang berganti-ganti, begadang di depan laptop, penelitian kesana kemari, ditinggal dosen ke luar negeri, ditinggal pacar, revisi bertubi-tubi, sempat putus asa. Sampai akhirnya mendengar kalimat sakti dari dosen pembimbing,

“Ini semester terakhir kamu, kalo skripsimu belum juga selesai kamu terpaksa DO!”

dan mau gak mau kita kembali mengumpulkan semangat untuk bisa mencapai tujuan kita di awal, kalo tidak bisa lulus 7 semester setidaknya masih bisa lulus kuliah. Itu saja.

Ya, terkadang target juga mengalami revisi.

Begitu kita berhasil lulus kuliah, begitu nafas kita kembali normal, dan tidur kita lumayan nyenyak, mereka kemudian mengajukan pertanyaan berikutnya. Kapan kerja?

Kapan Kerja?

Baru juga bisa bernafas lega setelah berhasil lulus kuliah, orang-orang sekitar sudah punya pertanyaan baru yaitu : kapan kerja?

Memang sehabis lulus kuliah kita sudah seharusnya masuk dunia kerja, tapi bagaimana dengan mereka yang sudah lulus lama tapi masih belum dapat kerja? Bukan berarti mereka semua malas mencari kerja, kadang yang terjadi malah sebaliknya, mereka sudah berkali-kali memasukkan lamaran kerja, bikin cv banyak, ikut tes sampai wawancara, tapi pada akhirnya nggak diterima juga. Yang pada awalnya masih level job seeker kini naik levelnya menjadi job hunter.

Belum lagi kalo dibandingan dengan orang lain, teman seangkatan yang sudah bekerja, bajunya rapi, pakai dasi, sambil bilang,

“Lihat tuh Paijo, sudah bekerja. Dasinya tiap hari gonta-ganti, kamu kapan kerja?””

Pedih.

Saya jadi ingat celetukan Om Indro Warkop pas ditanya soal lapangan kerja di Indonesia, dengan santai dia bilang,

“Sebenarnya lapangan pekerjaan di Indonesia itu banyak banget. Misalnya nyapu jalan, mangkas rumput liar, bersihin kali, macem-macem lah. Cuma masalahnya satu. Enggak ada yang gaji. Kalo lapangan pekerjaan mah banyak, situ mau kerja apa saja silakan. Tapi ya itu, yang ngasih gaji nggak ada.”

Bersyukurlah bagi kalian yang sudah bekerja, apapun pekerjaan itu. Setidaknya kalian sudah punya penghasilan sendiri untuk bisa membeli makanan dan minuman bergizi, agar badan sehat dan kuat, terlebih ketika menghadapi pertanyaan selanjutnya yaitu : kapan nikah?

Kapan Nikah?


Bagi sebagian orang mungkin pertanyaan tersebut terdengar sederhana. Namun bagi sebagian orang lainnya, pertanyaan tersebut terdengar tidak sederhana. Tidak sesederhanya mereka menjawab : besok, dua bulan lagi, atau tahun depan. Karena kita juga nggak tau apa yang sedang mereka perjuangkan untuk mencari jawabannya. Bisa saja mereka sedang berjuang dari patah hati yang hebat, berjuang menerima kenyataan bahwa kekasihnya memilih orang lain karena restu orang tuanya, berjuang karena usia yang semakin bertambah namun pasangan masih belum ada, atau sedang berjuang karena keyakinan yang berbeda.

Itu yang saya bilang nggak sederhana.

Menikah itu impian banyak orang, setiap orang pasti pengen menikah dan membina rumah tangga. Tapi itu kapan? Kita hanya bisa berencana, kepastiannya hanya Tuhan yang tau.

Dalam hidup saya percaya bahwa ada hal yang memang bisa diperjuangkan, dan ada pula hal yang sudah ditetapkan yang nggak akan berubah meskipun sudah kita perjuangkan. Saya percaya bahwa jodoh, rezeki dan kematian itu adalah hal yang sudah ditetapkan. Kalo bukan rezeki kita ya gak bisa kita miliki, kalo bukan waktu kita mati ya kita belum bisa mati, kalo bukan jodoh kita ya gak akan bisa bersama, sekalipun kita sudah menjaga dan berjuang bersama. Kita bisa saja berusaha dan berjuang sekuat tenaga, namun bila akhirnya hal itu nggak bisa menjadi milik kita, ya kita harus bisa menerima dan menyadari bahwa itu semua sudah menjadi ketetapan Tuhan.

Seperti lagunya Sheila On 7, kau harus bisa berlapang dada.

Menerima itu bukanlah sebuah pekerjaan mudah, apalagi menerima hal-hal yang tidak sesuai dengan harapan kita. Tetapi dengan menerima, kita akan belajar bahwa tidak semua harapan kita akan bisa menjadi kenyataan, kadang yang terjadi justru sebaliknya. Tapi percayalah, ketika kita bisa menerima itu semua, kita akan menjadi orang yang lebih dewasa dalam menyikapi semua. Termasuk dewasa dalam menyikapi pertanyaan selanjutnya : kapan punya anak?

Kapan Punya Anak?

Saya masih suka bingung dengan alasan orang yang suka nanya : kapan punya anak?

Kalo keluarga masih okelah, terlebih kedua orang tua yang mungkin sudah ingin menimang cucu. Tapi kepada teman yang ketemu saja jarang, sekali ketemu di resepsi pernikahan, terus dua bulan kemudian dengan gampangnya bertanya : kapan punya anak?

Rasanya pengen ngasih les biologi, biar dia tahu kalo usia janin itu sekitar 9 bulan, belum waktu bikinnya, belum lihat berbagai tutorialnya, jadi ya lumayan lama. Kecuali kalo sebelum nikah udah nabung duluan. Itu beda.

Lupakanlah.

Ada juga yang pas lebaran, terus di depan banyak orang dengan santai bertanya,

“Markonah, kamu kapan punya anak? Masa sudah bertahun-tahun masih seneng berduaan terus. Lihat dong, aku aja udah punya sepuluh. Ini mau bikin satu lagi, rencanya yang ini mau dijadikan penjaga gawang. Biar pas sebelas. Kesebelasan.”

Dan dengan senyum yang dipaksakan mereka biasanya menjawab,

“Pengen sih. Doakan saja…”

Rasanya nggak tega melihat seorang perempuan menjawab seperti itu saat ditanya : kapan punya anak?

Ya, kapan punya anak? Sebuah pertanyaan sederhana, mungkin sekedar basa-basi, tapi bisa jadi penghakiman yang luar biasa kepada mereka yang sudah menikah lama namun belum juga mendapat karunia anak. Mungkin mereka sudah mencoba segala cara, dari yang medis sampai mistis. Tapi toh sekali lagi, kita hanya bisa berusaha sekaligus berdoa semampu kita, selebihnya itu bagian Tuhan.

Sampai ketika saya bertemu dengan Sari, teman sekolah dulu saat buka puasa bareng. Sebelum pulang, di parkiran banyak anak-anak kecil yang berlarian, dia melihat kemudian tersenyum, karena penasaran saya akhirnya bertanya..

“Kenapa lihat anak kecil lari-lari malah senyum?”
“Gak tau kenapa kalo lihat anak kecil itu di hati rasanya maknyes..”
“Maknyes gimana?”
“Makanya kamu itu cepet lulus kuliah, terus kerja, terus nikah baru nanti kamu apa yang aku rasain sekarang. Masa yang lain sudah sibuk nyari pendamping kamu masih sibuk nyari dosen aja. Udah ah, aku balik duluan sama suami. Dagh..”


DEG!

Saya cuma diam di atas motor setelah mendapat kalimat combo. Yah, tiga tahun yang lalu saya datang ke nikahan dia, dan sekarang mereka masih berdua. Sebelum pulang saya minum mizone dingin dari dalam tas, begitu mengalir melewati tenggorokan rasanya maknyes..

“Oh..rasanya seperti itu.”

Tapi ini maknyes di kerongkongan, bukan maknyes di hati seperti yang Sari bilang.
…………….

Pesan saya sih, jangan sering-sering bertanya,

Kapan lulus?
Kapan kerja?
Kapan nikah?
Kapan punya anak?

Kepada mereka-mereka yang sedang berjuang untuk mencari jawabannya.

Ngasih semangat sih nggak apa-apa asal jangan seperti menghakimi. Karena dibalik setiap jawaban di atas, selalu ada perjuangan, doa, rasa putus asa dan bahkan air mata yang terkadang kita nggak pernah tau karena mungkin selalu ditutupi dengan senyum dan tawa, meski itu hanya pura-pura.

Jadi, sudah berapa pertanyaan “kapan” yang bisa kamu jawab?