Saturday 27 December 2014

Review Album Ke-8 Sheila On 7 "Musim Yang Baik"

Fiuh...

Setelah menunggu selama tiga tahun, akhirnya Sheila On 7 melahirkan “anak” kedelapan mereka. Yap, bulan November kemarin di tengah musim hujan yang melanda, mereka secara resmi merilis album kedelapan mereka yang diberi judul “Musim yang Baik". Sebagai seorang penggemar mereka sejak masih berseragam merah putih, sampai sekarang sudah nggak pakai seragam lagi, rasanya kurang afdol kalo belum membahas album mereka yang terbaru ini.

Setidaknya ada tiga hal penting yang menyertai rilisnya album “Musim yang Baik” ini. Pertama, single “Lapang Dada” dirilis serentak di 280 radio di 100 kota, dan itu tercatat menjadi rekor baru. Kedua, malam itu juga “#LapangDada” masuk di Trending Topics Worldwide Twitter. Dan yang ketiga, album ini adalah album terakhir mereka bersama Major Label. Ada kabar kalo setelah ini mereka bakal memilih jalur Indie. Yap, apapun yang mereka pilih tetap Jalan terus!!

Di album “Musim Yang Baik” ini terdapat sepuluh lagu, dan “Lapang Dada” dipilih menjadi single pertama. Ada yang berbeda ketika mendengarkan musik di album ini, sepertinya Sheila On 7 hanya mengisinya dengan empat alat musik, gitar, bass, drum dan sedikit keyboard. Benar-benar nggak ada suara-suara tambahan supaya musik menjadi “penuh”. Nggak jauh beda seperti lagu “Dan” di album pertama mereka. Ditambah lagi hanya memakai satu gitar, tanpa iringan gitar rythm seperti biasanya. Sepertinya Mas Eross membiarkan suara gitar kedua kosong. Entahlah, yang jelas mirip rekaman saya dulu pas sekolah. Bedanya, hasil rekaman mereka lebih “bersih”. Kali ini kualitas alat berbicara.. Hahaha.

Lagu di album ini masih bercerita tentang jatuh cinta, ajakan untuk selalu optimis, untuk selalu bersyukur, berbahagia dan tentu berbesar hati atas semua hal yang terjadi. Baiklah, langsung saja kita bahas satu per satu lagu mereka. Mbak yayuk nonton Doraemon. Yuk kita kemon!

1. Selamat Datang
60 detik pertama mendengarkan lagu ini bikin saya goyang. Sumpah. Lagu ini mengajak kita tetap semangat untuk menjadi dewasa, dan berusaha untuk selalu bisa berbahagia. Seperti petikan liriknya,

..jangan mengeluh, jadilah tangguh seperti yang kamu inginkan. Oh dimana pun kau berada, oh bahagialah.. Oh dimana pun kau berada, oh selamat datang..

Berusahalah untuk berbahagia kawan, jangan berpura-pura bahagia. Itu beda.

2. Satu Langkah
Begitu lagu ini berakhir, entah pikiran saya yang kurang bersih atau memang liriknya mengarahkan saya untuk berfikiran ke arah sana. Entahlah, saya belum tanya Mas Adam. Menurut saya lagu ini tentang dua manusia yang sedang memadu kasih. Nggak tau mereka memadu kasih dimana dan sebelum ngapain.. berikut petikan liriknya..

..tapi masih ada satu, langkah yang pasti engkau tunggu. Sampai datang saat itu, kumpulkan semua keyakinanmu.. sayang coba lihatlah aku, seluruh tubuhku inginkan kamu. When I say I love you, please baby say you love me too. Sayang coba dengar bibirku, seluruh jiwaku dapatkan kamu, When I say I love you, please baby say you love me too..

Nah, satu langkahnya ini mau ngapain hayo?

3. Buka Mata Buka Telinga
Meskipun dibalut dengan musik yang agak nge-beat, tapi menurut saya lagu ini nggak jauh beda seperti palung mindanao. Dalem. Berisi tentang kegelisahan akan banyak hal di hidup ini, pertanyaan-pertanyaan atas semua hal yang mungkin membingungkan, dan pada akhirnya kita sadar bahwa ada alasan mengapa kita berada di dunia ini..

..membuka mata dan telinga, menggali sejuta rahasia hidup ini yang penuh kejutan. Ada alasan mengapa kita diciptakan..

Ah, dalem.

4. Canggung
Saya kira lagu ini bakal dijadikan single pertama di album ini, karena lumayan sering dibawakan saat manggung. Lagu ini bercerita tentang perasaan seorang cowok ketika bertemu kembali dengan mantan kekasihnya. Saya ulang, BERTEMU KEMBALI DENGAN MANTAN KEKASIHNYA. Iya, gitu. Kalo ada cowok yang bersikap tenang, cool saat bertemu dengan mantan kekasihnya jangan percaya, karena semua itu palsu. Yah, sekuat-kuatnya seorang cowok kalo ketemu dengan mantan kekasih pasti gelisah juga. Nggak nyaman mau ngapa-ngapin. Jadinya canggung..

..menyapamu di keramaian, bersikap semua terkendalikan. Atur nafas, atur irama dan memberimu sedikit senyuman seandainya bisa aku katakan.. taukah betapa canggungnya tingkahku, kau beriku lagi senyuman mautmu. Kau masih sama cantik seperti dulu..seperti dulu..

Ketemu mantan emang bikin canggung. Sumpah. *pengalaman pribadi*

5. My Lovely
30 detik pertama saya mendengarkan lagu ini, saya membayangkan berada di teras rumah, bermain gitar kemudian bersenandung.. sesederhana itu. Menurut saya lagu ini diciptakan untuk orang-orang tersayang mereka, seperti istri dan anak mereka. Yap, semua capek, rasa sakit perlahan hilang ketika melihat orang-orang yang kita sayangi tersenyum dan bahagia..

..tapi akhirnya apalah daya, terhapus oleh senyumnya saat dia beri senyumnya..

6. Beruntungnya Aku
Pada akhirnya lagu ini mengajak kita untuk bersyukur atas pasangan yang dianugerahkan kepada kita. Sebagai manusia wajar kalo pengen pasangan yang baik, tapi setidaknya kita juga harus introspeksi diri. Kita sendiri bagaimana? Sudah baik belum? Kalo perlu ngaca! Iya, ngaca!

..kau menyadarkan aku, kita bukan makhluk sempurna, mendekati pun tidak tanpa kau melengkapi. Ku harus berkaca, hanya beginilah aku.. beruntungnya aku, memiliki dirimu..

7. Lapang Dada
Yap, lagu yang dijadikan single pertama di album ini sebenarnya bercerita tentang hubungan tiga generasi antar Mas Eross, ayahnya dan juga anaknya “El Pitu”. Lagu ini mengajak kita untuk berbesar hati dan merelakan apa yang sudah terjadi agar proses “Move On” bisa terlaksana.

Lagu ini juga dibuatkan video klip yang bercerita tentang “DITINGGAL MANTAN NIKAH”. Nah loh, sakitnya dimana tuh?

..kau harus bisa..bisa berlapang dada, kau harus bisa..bisa ambil hikmahnya, karena semua..semua tak lagi sama..walau kau tahu dia pun merasakannya..

Kenapa harus memaksakan hal yang diluar skenario Tuhan?
Terimalah dan ber-lapang dada..

8. Belum
Entah kenapa Sheila On 7 itu jago banget kalo bikin lagu sedih tapi nggak terlihat cengeng, seperti “Betapa” dan juga “Hujan Turun”. Kali ini ada lagu berjudul “Belum” yang bercerita tentang seseorang yang ditolak cintanya dengan alasan “BELUM BISA”. Agak pahit juga sih, tapi kita tetap diajak berfikir positif dan optimis atas jawaban “BELUM BISA” itu, seperti yang tertulis di bagian reff lagu ini..

..Belum karena rasa itu belum ada. Belum karena dia tak mau tergesa. Belum karena hati belum terbuka. Berikan dia ruang tuk indah di waktunya..

Mungkin belum sekarang. Coba lagi aja lain kesempatan. Tetap semangat!

9. Musim Yang Baik
Lagu yang juga dijadikan judul album kedelapan mereka ini sepertinya bercerita tentang seseorang yang “pulang” setelah melakukan “pencarian panjang” dan sadar ternyata “dia” yang dicari telah berada di dekatnya dan mendoakannya. Lihat saja petikan liriknya..

..kucari dan terus kucari ternyata dia tumbuh mekar di dekatku. Selama ini dan selama ini ternyata doanya lah yang melindungiku..

10. Sampai Jumpa
Setiap orang pernah kehilangan, termasuk kehilangan seorang sahabat yang harus pergi terlebih dulu meninggalkan kita di dunia ini. Pada akhirnya lagu ini mengajak kita untuk bisa melepas, merelakan dan mendoakannya.

..sekeras apapun menangis, takkan merubah yang telah terjadi, harus ku lepas.. ..Tuhan yang aku cinta, mudahkan jalan dia. Tuhan yang aku cinta, sambut kehadirannya..


Entah sengaja atau tidak, album ini diawali dengan “Selamat Datang” dan ditutup oleh “Selamat Jalan”, apapun maksudnya hal itu, album ini benar-benar menunjukkan Sheila On 7 masih menjadi band yang produktif di blantika musik Indonesia untuk ukuran band yang sudah 18 tahun berkarya. Disaat musisi lain lebih memilih vakum mengeluarkan album, dan hanya fokus antara satu panggung ke panggung lainnya, Sheila On 7 masih menunaikan kewajibannya “Bikin Anak Kedelapan”.

Pada akhirnya.. Sheila On 7 adalah Sheila On 7, dimanapun jalan yang mereka pilih untuk berkarya, karya mereka akan selalu ditunggu oleh jutaan penggemarnya, termasuk saya.

Terimakasih atas lahirnya anakmu yang kedelapan ini.
Jalan terus!!

Thursday 4 December 2014

Ngapain Lihat-Lihat?

Tanpa kita sadari, hidup manusia berkaitan dengan banyak siklus.

Siklus pertama yang saya pelajari adalah siklus hujan. Saat masih SD, guru pelajaran IPA mengajarkan bahwa hujan terbentuk dari proses air laut yang menguap kemudian membentuk awan. Dari awan, turunlah hujan ke permukaan bumi. Air hujan yang turun sebagian masuk ke dalam tanah, sebagian lagi mengalir ke sungai dan bermuara di laut. Dari laut air menguap lagi, kemudian turun lagi hujan, begitu seterusnya. Entah benar atau tidak, yang jelas ketika hujan turun adalah saat paling tepat untuk menikmati semangkuk bakso pedas. Sepedas kenangan mantan. Ah.

Kehidupan yang kita jalani sehari-hari juga nggak bisa lepas dari siklus. Kita lapar, kemudian makan, nutrisi makanan menjadi energi, energi kita pakai beraktivitas dan sisanya kita buang setiap pagi. Besoknya seperti itu lagi, begitu seterusnya. Atau ketika kita beraktivitas, kemudian capek, kemudian ngantuk, maka selanjutnya kita akan tidur. Karena obat ngantuk hanya satu yaitu tidur. Suatu saat teman saya bertanya,

“Ngantuk nih. Enaknya diapain ya?”

Maka dengan penuh wibawa saya menjawab,

“Ya tidur lah, kalo ngantuk tapi nggak tidur itu artinya kamu mengingkari siklus.”
“Tapi satu jam lagi kan Final Liga Champions, Real Madrid vs Atletico Madrid. Masa kamu mau tidur, nggak mau nonton?”
“Oh iya! Nonton lah. Yuk, bikin kopi sama sambel.”
“Sambel buat apa’an?”
“Nanti kalo setelah minum kopi tapi masih ngantuk, itu sambel kamu oles-oles di pelupuk mata. Dijamin bakal kuat melek.”
“Heeh?! Kamu aja sendiri. Segala sambel dioles ke mata. Melek nggak, malah masuk rumah sakit. Lagian tadi ngasih ceramah nyuruh tidur. Pake bawa-bawa siklus segala. Giliran ada bola lupa semua!!”
“Hehehe..”


Saya cuma bisa nyengir. Yah begitulah, untuk mendapatkan sesuatu yang disenangi kadang kita harus “keluar” dari siklus masing-masing.

Selain berada di kehidupan sehari-hari seperti lapar dan tidur, saya juga percaya bahwa siklus itu ada dalam perjalanan cinta setiap manusia. Mulai dari masih sendiri, kemudian mengenal seseorang, melakukan PDKT, setelah itu pacaran, kadang ada pertengkaran, selanjutnya mungkin jenuh dengan rutinitas hubungan, dan pada akhirnya harus berakhir dan sendiri lagi.

Yap, suka tidak suka itulah siklus percintaan yang tanpa kita sadari.

Sama seperti yang saya alami saat ini. Setelah dua tahun lalu hubungan berakhir, maka selama dua tahun pula saya menjalani masa-masa sendiri. Dalam masa sendiri tentu ada suka dan duka.

Sukanya, nggak seberapa.
Dukanya, tak terkira.
Pahit banget.

Apalagi kalo mengisi formulir biodata, terutama pada kolom “STATUS”. Itu yang paling bikin dilema. Pertanyaannya cuma satu kata : STATUS. Tapi nyari jawaban pas itu yang bikin dilema. Mau nulis JOMBLO kok hina banget. Mau nulis SINGLE sejatinya sama saja. Setelah merenung sekian lama dengan mantap saya mengisi kolom STATUS : BELUM TERAKREDITASI. Karena untuk saat ini hati saya belum mendapat akreditasi dari cewek manapun.

Rasanya pedih. Sakitnya tuh disini *sambil nunjuk dada*

Tapi masa-masa itu sudah berlalu, dan siklus percintaan saya kini sudah memasuki fase baru. Pedekate.

Ketika masuk fase pedekate seperti sekarang ini, ada banyak hal yang berubah dari kebiasaan yang saya lakukan. Misalnya dalam hal menelpon cewek, dulu ketika saya bilang,

“Hallo..”

Maka dengan tegas, cewek diujung telepon menjawab,

“MAAF, SISA PULSA ANDA TIDAK CUKUP UNTUK MELAKUKAN PANGGILAN INI. SILAKAN LAKUKAN PENGISIAN PULSA..BLA..BLA..BLA..”

Rasanya pedih. Sakitnya tuh disini *sambil nunjuk dompet*

Tapi sekarang beda. Ketika saya menelepon cewek dan berkata,

“Hallo..”

Maka cewek di ujung telepon menjawab,

“Hallo.. Hei, kamu lagi ngapain?”
“Kan lagi nelpon kamu.”
“Hahaha.. Iya tau.”


Dari pertanyaan sederhana “Kamu lagi ngapain?”, bisa jadi obrolan yang panjang. Yang awalnya cuma sepuluh menit, kini menjadi satu jam. Dari yang satu jam, pada akhirnya akan berjam-jam. Yang tadinya ngobrol panjang, kini menjadi panjang x lebar x tinggi. Tapi itu semua terasa sebentar. Iya, masih terasa sebentar.

Jatuh cinta memang bikin aneh. Tapi nagih.

Dan.. cewek itu bernama Fika. Teman satu kampus tapi beda jurusan, beda fakultas juga beda jenis kelamin. Sebenarnya Fika adalah teman sekolah saya di SMA. Selama 3 tahun disekolah, tak sekalipun saya pernah berbicara dengannya. Sederhana, dari dulu kelas kita selalu berjauhan. Makanya saya juga tau cuma dari kejauhan.

Tapi bukan Tuhan namanya kalo tidak bisa membuat yang tadinya jauh menjadi dekat. Saat itu saya berada di stasiun, rencana liburan pulang ke rumah setelah bergelut dengan seabrek kegiatan kampus. Di stasiun itu juga, untuk pertama kali setelah lulus sekolah saya melihat Fika kembali, dan masih dari tetap dari kejauhan.

Iya, dari kejauhan.

Naluri saya mulai aktif kembali setelah sekian lama berusaha menyembuhkan diri. Dari sana saya mulai berani menyapa dan berusaha untuk bisa lebih dekat. Meskipun cuma sedikit kata. Tapi saya senang, setidaknya kini naluri saya mulai bermain.

Naluri seorang lelaki.

Sampai suatu hari saya beranikan diri untuk mengajak jalan Fika. Rasanya sudah terlalu sering ngobrol panjang lebar di telepon, saya pengen ngobrol dan bertemu langsung. Rasanya pasti beda. Ya, niatnya kencan pertama, tapi alasannya jalan-jalan. Ya pokoknya begitulah.

Ternyata Fika setuju, saya senang bukan main. Menjelang malam ada sebuah pesan datang,

“Aku baru selesai mandi. Kamu sudah berangkat?”

Begitu pesan dari Fika. Saya pun membalas,

“Iya, ini mau berangkat.”

Yah, ini adalah salah satu hari bersejarah dalam hidup saya selain berhasil keluar selamat dari ruang dokter sunat, juga mendengar kata putus dari mantan. Ah, sudahlah.

Saat itu saya memakai setelan celana jin dan kemeja hitam berlengan pendek. Kata orang, hitam itu menunjukkan sisi misterius. Malam itu saya ingin terlihat misterius, cool dan bikin penasaran. Jadi kalo saat itu saya mati, bisa diangkat jadi film dengan judul “Arwah Cowok Misterius Penasaran.”

Amit-amit!

Berbekal alamat yang diberikan tempo hari, saya berangkat mengendarai motor menuju rumah Fika. Lumayan jauh perjalanan, harus mendaki gunung, melewati lembah, sungai, dan samudera, mirip lagunya Ninja Hatori. Tapi akhirnya saya berhasil mendarat dengan selamat di depan rumah berwarna hijau, Rumah Fika.

“Assalamualaikum..Permisi..”

Saya mulai teriak-teriak di depan pagar rumah. Bolak-balik tapi nggak ada jawaban. Benar-benar mirip orang minta sumbangan. Tapi kalo dilihat dari setelan pakaian yang saya pakai, malam itu saya mirip sales panci lagi nyari mangsa malam-malam. Nggak berapa lama pintu dibuka, terlihat sesosok cewek keluar, kemudian tersenyum.

“Hei, akhirnya sampai juga. Kok gak masuk, malah di depan pagar?”

Jari saya menunjuk ke arah benda yang menggantung di pagar,

“Pagarnya digembok.”
“Oh iya lupa.”

Ngajak masuk rumah tapi pagarnya masih digembok. Itu sama aja seperti pengen move on dan nyari pacar baru tapi hatinya masih ditutup rapat. Pake gembok pula. Ya mana mungkin bisa!

“Kok sepi, yang lain pada kemana?”
“Lagi keluar ada acara.”
“Kamu nggak ikut?”
“Kan sudah ada acara sama kamu.”


Saya cuma nyengir. Hati rasanya seperti disiram obat batuk rasa mint. Semriwiiing..

“Mau pergi kemana?”
“Ngopi-ngopi aja yuk.”
“Boleh. Aku ambil jaket sama helm dulu ya.”

Sebelum berangkat, saya memandang langit di atas. Saya berdoa sederhana, Tuhan lancarkanlah hariku. Amin.

Motorpun melaju pelan, menyusuri ruas jalan. Menikmati saat berdua di atas motor. Sampai akhirnya kami berdua berhenti di sebuah kedai kopi yang nggak begitu ramai. Kami memesan dua cangkir kopi dan sepiring kentang goreng. Sambil menunggu pesanan datang saya pamit ke kamar kecil. Sedikit gugup dan hawa dingin adalah perpaduan yang pas untuk memaksa urine gak bisa ditahan. Begitu mau balik ke meja, saya melihat dua orang bapak-bapak memanggil saya. Saya sempat menoleh ke kanan kiri, nggak ada orang lain, berarti memang saya yang dipanggil. Firasat saya nggak enak, jangan-jangan mereka ini adalah Om-Om penyuka sesama jenis. Soalnya dulu pas naik kereta pernah kejadian. Keringat dingin mulai keluar.

“Bapak memanggil saya?”
“Iya, Mas. Em.. minta lihat daftar menunya.”
“Heeh?!


Kampret. Saya dikira pelayan.

“Maaf, Pak. Saya bukan pelayan sini.”
“Oh ya? Maaf.. habis bajunya hitam-hitam begitu.”


Saya langsung ngacir. Niat awal pake baju hitam-hitam biar dianggap misterius, cool dan bikin penasaran, jatohnya malah pelayan. Dari jauh Fika tertawa, meskipun sambil menutup mulutnya.

“Habisnya kamu pake hitam-hitam sih.”

Sesekali Fika masih tertawa. Justru itu yang menambah kecantikannya. Menurut saya, cewek itu keluar kecantikan alaminya saat dia sedang tertawa. Tentu tawa yang jujur dan nggak dibuat-buat. Apalagi dibayar untuk tertawa. Nggak banget. Atau tertawa cekikikan tengah malem. Itu serem banget.

Kami pun mulai ngobrol tentang banyak hal. Saya lebih banyak mendengar, sambil sesekali meminum kopi hitam di atas meja. Sampai saya agak terganggu dengan dua orang di sebelah saya. Terlihat seorang cewek dan cowok yang sedang ribut. Si cowok mencoba menjelaskan sesuatu, dan cewek lebih banyak diam. Sampai tiba-tiba,

Byuuurr...

Si cewek menyiram air minum ke tubuh cowok itu. Saya kira adegan seperti itu cuma ada di FTV. Ternyata di dunia nyata juga ada. Mungkin mereka penggemar FTV, makanya melakukan hal yang sama. Saya terdiam sambil terus melihat mereka berdua. Begitu juga pengunjung lain. Terlihat cewek itu berlari keluar, sementara cowoknya berdiri dan melihat sekeliling dan menjatuhkan pandangan ke arah saya. Karena saya yang berada tepat di sampingnya, kemudia melotot sambil berkata,

“Ngapain lihat-lihat?”

Spontan saya menjawab,

“Kan situ yang lihat saya duluan.”

Cowok itu langsung pergi keluar, mengejar sang pujaan hati. Setelah cowok itu pergi, giliran saya yang dilihatin pengunjung lain. Duh, malu abis. Fika malah cekikikan di depan saya. Puas banget.

“Kamu kok malah ketawa?”
“Habis kamu, orang berantem dilihatin. Kena semprot kan akhirnya.


Kami ngobrol kembali, sesekali Fika masih suka meledek kejadian tadi. Hari beranjak semakin malam, kami memutuskan untuk pulang. Kami menuju ke kasir untuk membayar makan dan minum. Sambil nunggu kembalian, saya melihat di sekitar. Tepat di samping meja kasir terdapat sebuah sofa panjang. Disana duduk seorang Om-Om bersama seorang cewek yang masih muda. Sebenarnya biasa aja sih, tapi yang membuat saya risih adalah si cewek itu gelendotan mesra di pundak Om-Om itu. Sadar saya lihatin, Om-Om itu lantas balik melihat saya,

“Ngapain lihat-lihat? Nggak pernah lihat orang pacaran ya?”

Saya nyengir, kemudian bergegas meninggalkan tempat itu. Om-om itu kembali bermesran dan bergelendotan ria. Semetara Fika kembali tertawa, kali ini nggak peke menutup mulut seperti sebelumnya. Saya berjalan menunduk, berharap lupa ingatan. Sumpah, malu banget.

Di tengah perjalanan pulang, Fika masih membahas kejadian tadi. Begitu sampai, Fika turun dan berkata,

“Kamu sih. Orang mesra-mesraan dilihatin.”
“Udah deh. Nggak usah dibahas terus.”
“Iya-iya. Makasih ya untuk malam ini.”
“Jangan kapok ya.”

Fika mengangguk. Saya pamit, menyalakan motor dan bergegas pulang. Tapi baru 5 meter, saya berhenti, kemudian menengok ke belakang. Terlihat Fika belum masuk rumah, masih berdiri di depan pagar. Saya tersenyum, dia lantas berkata,

“Ngapain lihat-lihat? Belum pernah lihat cewek cantik ya?”

Kami berdua tertawa bersama.

“Belum salam. Assalamualaikum..”
“Walaikumsalam..”

Motor pun melaju menyusuri jalan. Melewati gunung, lembah, sungai, sampai akhirnya berhenti di rumah saya. Sebelum tidur, saya melihat ponsel dan menemukan satu pesan masuk, dari Fika.

“Udah nyampe rumah? Sekali lagi makasih ya.”

Saya tersenyum dan langsung membalas pesan itu. Sumpah, pesan yang seperti ini malah bikin nggak bisa tidur. Lama saya nungguin di tengah ngantuk, tapi belum juga ada tanda-tanda ada pesan masuk. Saya membuka ponsel, ada pemberitahuan tapi bukan pesan masuk, melainkan baterai saya lobet. Kalo ponsel saya bisa bicara, mungkin saat itu dia bilang,

“Ngapain lihat-lihat? Nggak ada pesan masuk woy! Gue udah mau mati nih! Buruan isi!”

Saya langsung tidur. Biarin aja itu ponsel mati.
Bodo amat!

Sunday 2 November 2014

Macam-Macam Jenis Teman

Berhubung kemarin abis halloween, kali ini saya akan bahas tentang teman. Jaka sembung lagi kumat. Nggak nyambung bodo amat!

“Sahabat sejati selalu ada di hati. Teman untuk selamanya..”

Begitu sepenggal lirik dari Endank Soekamti di lagu “Angka 8”. Kalo kata Endank Soekamti juga di lagu itu, teman itu seperti angka delapan, selalu nyambung terus dan tak pernah terputus. Emang bener begitu?

Nah, pasti kita semua punya teman. Karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial. Iya, sosial bukan Sok Sial. Tarzan yang hidup di hutan aja punya teman, meskipun teman-teman tarzan adalah hewan. Masa manusia enggak? Kalah dong sama Tarzan.. Auwooooo..

Teman adalah.... (rasanya setiap orang punya definisi sendiri mengenai teman, bisa apa saja)

Dan kalo dipikir-pikir, ada banyak jenis teman yang sering kita dengar. Apa aja itu? Si Yayuk rebutan pita sama Doraemon. Yuk kita kemon!

1. TEMAN SEKOLAH
Nah, ini yang paling banyak ditemukan. Karena setiap anak sekolah pasti punya teman di sekolah. Saya nggak tau kalo mereka yang homeschooling. Saya nggak pernah, nggak kuat duitnya. Biasanya teman sekolah ada banyak, kenal dekat atau cuma tahu namanya tetap teman sekolah. Jadi pas ada yang nanya,

“Loh, kamu kenal Dita?”
“Kenal kok. Dulu dia teman sekolah”


2. TEMAN BERMAIN
Kalo yang satu ini cakupannya lebih luas lagi. Mulai dari teman sekolah, tetangga, sampai pacar teman, kalo pernah diajakin main bareng ya artinya sudah jadi teman bermain. Ya bisa main bola, main boneka, main di empang, atau main yang jauh. Misalnya lagi nelpon pacar teman,

“Dita, nanti malem kamu sibuk nggak?”
“Enggak. Kenapa?”
“Main yuk?”
“Boleh.”


Eh, tapi kalo sama pacar teman itu main apa ya?

3. TEMAN MAKAN
Ada beberapa orang yang nggak mau makan kalo nggak ada temannya. Makanya ada istilah teman makan. Apalagi anak kos yang nggak punya pasangan. Duh, mau makan aja kudu ngajak orang lain buat nemenin. Apa hubungannya coba? Kalo perut udah laper ya makan aja. Emang di depan warung ada tulisan “Dilarang Makan Sendirian?” Kan enggak. Udah nggak punya pasangan, kalo laper harus nyari teman dulu, keburu lapar. Sakitnya tuh disini (nunjuk dada) sama disini (nunjuk perut).

4. TEMAN NGOBROL
Ini juga banyak ditemukan. Karena ngobrol bisa sama siapa saja, dimana saja. Misalnya saja lagi ngopi di warung kopi. Biasanya modusnya diawali dengan meminjam korek api. Abis itu bilang makasih, terus udah deh.. ngobrol ngalor ngidul. Dari mulai kopinya kurang manis, sepakbola, anggota DPR, sama istrinya di rumah yang suka ngomel-ngomel. Apaan coba?
Tapi kalo mau nyari teman ngobrol sebisa mungkin dipastikan dia nyambung pas diajak ngobrol. Karena saya pernah ngajak ngobrol orang, pakaiannya rapi, wajahnya bersih, tapi pas diajak ngobrol.. Eh, jawabannya ngalor ngidul. Pas orangnya pergi, punggung saya ditepok sama tukang parkir sambil bilang,

“Mas, yang barusan tadi orang gila.”
“Oh, pantes..”


5. TEMAN CURHAT
Sebenarnya hampir sama dengan teman ngobrol, tapi kalo temen curhat ini lebih spesifik. Karena yang diobrolin juga lebih spesifik, misalnya masalah sekolah, keluarga, teman, gebetan, pacar teman yang mau dijadikan gebetan. Makanya biasanya yang diajak curhat itu orang-orang tertentu, yang sudah kenal deket. Misalnya teman sekolah, teman kos, saudara, pacar teman juga bisa.

Yang belum tahu, curhat disini adalah curahan hati, ingat curahan hati, bukan mancur hangat. Itu beda. Misalnya ada pacar teman nelpon kita,

“Halo, Mas.”
“Iya, Dit. Ada apa?”
“Mas, bisa ke kosku nggak? Aku mau curhat..”
“Si Joko lagi kemana?”
“Lagi sibuk di kampus.”
“Oh, langsung meluncur. Siap 86!!”


Sekali lagi, curhat disini adalah curahan hati. Bukan mancur hangat!

6. TEMAN KOS
Teman kos adalah teman satu kos. Biasanya semakin banyak, karena biasanya teman kos kita bawa teman terus ngenalin. Itu akhirnya juga bisa jadi teman kos. Nah, temannya teman kos tadi juga bawa teman lagi, biar gampang nyebutnya ya teman kos. Pokoknya begitu terus sampai lebaran monyet. Ah, jadi bingung ini.

7. TEMAN DUNIA MAYA
Nah, fenomena menjamurnya media sosial. membuat hal ini banyak terjadi saat ini. Kenal di dunia maya, nggak pernah ketemu langsung, tapi seolah sudah akrab banget, kadang sampai pacaran malah. Itu ada. Banyak.

Mungkin di dunia nyata kurang perhatian, sedikit-sedikit ngeluh dan curhat di media sosial. Nggak tau juga. Mungkin itu juga alasan mengapa banyak orang yang berkeluh kesah dan mengumbar masalah di media sosial. Karena mungkin juga, disana bertebaran pundak dan bahu maya yang siap dipakai bersandar. Hmm..

8. TEMAN KERJA/KANTOR
Teman kerja adalah teman dimana kita melakukan pekerjaan. Misalnya di kantor, jadi nyebutnya teman kerja atau teman kantor. Kalo kerjanya di kantor pos ya namanya tetap teman kantor. Kalo kerjanya di kantor pemasaran namanya juga masih teman kantor. Udah ah, pokoknya gitu!

9. TEMAN TIDUR
Sesuai dengan namanya, ya berarti tugasnya menemani kita tidur. Bisa sudah jadi istri atau mungkin belum. Bisa berupa orang atau mungkin sebuah guling. Kalo sampai sekarang belum punya teman tidur ya sabar aja. Nikmatilah lebarnya kasurmu sendirian sebelum nanti kamu bagi dengan seseorang. Iya, gitu. Ini bukan curhat. Sumpah.

10. TEMAN HIDUP
“Tetaplah bersamaku, jadi teman hidupku. Berdua kita hadapi dunia.”

Seperti lagunya Bang Tulus. Teman hidup adalah teman yang menemani kita untuk menjalani kehidupan. Duh, kalo yang ini saya nggak bisa bahas panjang-panjang. Saya nggak kuat. Ya pokoknya gitu lah.

11. CUMA TEMAN
Ini yang paling nggak enak. Bayangin saja setelah semuanya diatas, mulai dari teman sekolah, teman bermain, teman makan, teman ngobrol, teman curhat, teman kos bahkan sudah jadi teman kerja dan sempat juga menemani tidur, tapi pas diajakin jadi teman hidup jawabannya adalah..

“Maaf, aku cuma anggap kamu teman.”

Mendengar kalimat seperti itu bisa bikin otot lengan dan kaki yang sudah berbulan-bulan di pake fitnes langsung lemes. Seperti jemuran yang kehilangan tali jemurannya, jatuh berserakan. Apalagi perasaannya, sudah seperti bungkusan nasi kucing yang kehilangan karetnya. Ambyar!

Ya begitulah hidup, tidak semua pendekatan akan berakhir sebagai pasangan. Kadang bisa selingkuhan, atau cuma teman. IYA, CUMA TEMAN!

Saturday 23 August 2014

Tipe-Tipe Hubungan Percintaan Yang Bikin Bingung!!


Setiap manusia pasti pernah merasakan cinta. Dari merasakan cinta kemudian berlanjut ke tahap menjalin hubungan percintaan. Nah, ada hubungan percintaan yang wajar seperti yang banyak kita ketahui. Namun ada juga hubungan yang bikin kita bingung, mirip seperti serial Detective Conan. Iya, karena kita nggak akan pernah tahu bagaimana hubungan yang sebenarnya terjadi sebelum si pelakunya sendiri ngaku. Yang ada kita malah menebak-nebak. Bikin bingung!

Langsung aja saya bahas tipe-tipe hubungan percintaan yang bikin bingung. Cekibrooottt..

1. Teman baik

“Kalian berdua pacaran?”
“Enggak. Kita berteman aja kok. Teman baik.”


Mungkin pertanyaan dan jawaban di atas pernah kita alami sendiri. Iya, ngakunya cuma teman baik. Tapi kalo dilihat sering jalan berdua, suka cemburu kalo salah satu lagi jalan sama teman lain, gampang kangen kalo sehari nggak ketemu, suka ngatur-ngatur dengan alasan..

“Aku tuh peduli sama kamu.”

Kadang kalo malem-malem suka bilang kangen, kalo ketemu juga pake cipokan. Nah, sebagai teman kan kita jadi ikutan bingung. Dibilang pacaran enggak, dibilang teman tapi ada cemburu sama pake cipokan. Sumpah, bikin bingung.

“Kalian pacaran?”
“Enggak. Cuma teman baik.”


Meh.. (-___-) *harakiri*

2. Berhubungan Baik

Pacarannya sudah sama orang lain. Tapi sayang-sayangannya masih sama mantan. Itu ada, banyak.
Satu lagi nih hubungan yang bikin saya bingung mirip seperti yang di atas. Kenyataannya sudah putus, sudah pacaran dengan orang baru, kesimpulannya sudah bisa move on dong. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Iya, masih sering ngasih perhatian sama mantan, masih suka bilang kangen tiap malam, kadang kalo pesan atau BBM nggak dibales ngambek terus marah-marah, kadang juga masih sering jalan berdua, kadang masih cipokan juga. Tapi kalo ditanya..

“Loh, bukannya kalian sudah putus?”
“Iya, tapi kita masih berhubungan baik kok.”


Meh.. (-___-) *harakiri*

3. Tak Terlihat


Bagi sebagian orang, bisa menjalin hubungan dengan orang lain adalah kebanggaan. Makanya sampe dipublikasikan di media sosial dan sebagainya. Nah, bagi sebagian yang lain justru harus diharasiakan, kalo bisa dari siapapun. Bahkan dari teman dekatnya sendiri.

Ini yang saya alami, pas khusuk lihat cicak kawin di dinding tiba-tiba dapat pesan dari temen deket kalo dia mau nikah. Apa? Nikah? Sebagai teman yang normal pasti kaget lah, apalagi teman deket. Takutnya kan udah “berisi” duluan..
(ini barbuknya)


Tapi pas di atas pelaminan dia ngomong..

“Sudah jalan setahun kok. Maaf nggak ngasih tau. Hehehehe..”

Udah gitu doang. Sebagai temen dekat saya merasa gagal. Bangke!

(-___-)
*harakiri*

4. Friendsh*t.

Kadang, hubungan percintaan itu diawali dari hubungan pertemanan. Terkadang juga, yang diawali dari hubungan pertemanan tidak selalu berujung menjadi hubungan percintaan. Padahal sudah berteman lama, levelnya sudah bukan teman lgi tapi sahabat. Kadang kalo nggak ketemu bilang kangen, kemana-mana jalan bareng, suka ngobrol sampe nggak tau waktu, kadang diakhir pembicaraan bilang..

“Kita ini gimana sih?”
“Nggak tau. Tapi yang jelas aku nyaman sama kamu.”

Nah, hal seperti inilah yang bikin bingung. Tapi begitu keyakinan terkumpul, dan pernyataan itu terlontarkan, yang di dapat adalah..

“Aku sudah anggap kamu sahabat. Sahabat yang baik banget.”

Yah.. yang seperti inilah yang bikin canggung satu sama lain. Dan.. pada akhirnya FRIENDSHIP berubah jadi FRIENDSH*T.

Meh.. (-___-) *harakiri*

Wednesday 21 May 2014

Pertempuran Hati

Apa yang ada di dalam pikiran kamu ketika mendengar kata pertempuran?


Sesuatu yang mengerikan? Perkelahian massal?


Pernahkan kamu mengalami pertempuran?


Pasti jawabannya tidak. Hampir dapat dipastikan setelah mendapat kemerdekaan, tidak ada lagi pertempuran yang ada di negeri ini. Yang ada pertempuran mempertahankan kemerdekaan dan pemberontakan-pemberontakan internal di bangsa ini. Selebihnya, mungkin hanya pertempuran sebagai pagelaran budaya beberapa masyarakat saja.


Tapi kali ini saya mengalami pertempuran. Serius. Namanya pertempuran hati.


Saya pernah bilang kalau kelemahan terbesar seorang manusia itu adalah kemampuan mereka dalam memilih. Tentu memilih yang terbaik bagi mereka. Tapi yang ada tetap sulit. Misalnya menentukan pilihan atas dua pilihan yang tersisa. Memilih kebahagiaan untuk diri sendiri, atau memilih kebahagian untuk orang yang paling kita sayangi, katakanlah orangtua. Intinya sih sama-sama membuat bahagia. Hanya yang satu membahagiakan diri sendiri, efeknya mungkin orang di sekitar kita akan ikut merasakan bahagia. Sedangkan yang lain, membahagiakan orang lain. Tentu orang yang kita bahagiakan tersebut akan bahagia. Tapi apakah kita juga ikut bahagia. Belum tentu. Mungkin tersenyum atau tertawa sekencangnya, tapi belum tentu batin kita juga melakukan hal yang sama.


Dan memilih semuanya tentu punya resiko yang besar. Paling tidak memerlukan usaha yang lebih keras daripada memilih satu diantaranya.


Apa harus menunggu?


Kalau itu yang dilakukan juga mau sampai kapan. Sampai kapan bakal menunggu pertempuran yang sama sekali belum tahu kapan akan berakhir. Dan berada di masa itu adalah sulit. Sumpah sulit. Tapi bukankah setiap kesulitan pasti ada jalan?


Jalan itu hanya menyerahkan semua kembali kepada Tuhan. Itu yang saya tahu ketika kita sudah tidak mampu lagi mengatasinya sendiri. Kita kan manusia, punya keterbatasan dalam segala hal. Kalau kita sudah mampu mengatasinya ya pilihan terbaik adalah mengembalikan itu semua kepada yang menciptakan kita bukan?


Sambil terus melakukan apa yang menurut kita terbaik. Apapun yang dipilihNya untuk kita, apakah memilih kebahagian untuk orang lain, atau untuk diri sendiri. Pasti itu yang terbaik.


Toh sebenarnya kita dilahirkan di dunia ini untuk mencapai tujuan yang baik. Secara tidak sadar pemikiran dan ego kita sendiri yang membawa kita belok dari tujuan awal kita yang baik. Belok kesana kemari nggak jelas mau kemana yang mungkin menurut kita itu baik. Sehingga Tuhan sengaja menaruh kerikil, sampai batu-batu besar untuk menghadang langkah kita. Mungkin itu yang kita sebut masalah. Sampai kita mengumpat nggak karuan kesana kemari mengeluh nggak jelas kesana kesini. Menganggap ini semua nggak adil karena merusak rencana kita untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan. Sesuatu yang sudah kita rencanakan dengan matang. Sesuatu yang kita anggap baik.


Satu dua tahun itu berlalu. Coba kita berfikir dengan pikiran tenang, pikiran logis, dan hati yang sudah tertata. Tuhan melakukan semua ini juga bukan tanpa tujuan. Dan tujuannya itu baik kok. Karena berkat kerikil, atau baru besar sekalipun yang dulu kita sebut masalah, sebenarnya itu cara Tuhan untuk membelokkan dari  jalan salah yang kita tempuh, belok-belok-belok-belok entah berapa kali belokan sampai kita kembali ke jalan kita, tujuan kita. Jalan yang terbaik.


Maka nggak ada yang perlu disesalkan dari setiap masalah yang kita hadapai, setiap masalah yang diberi Tuhan. Tuhan itu sayang banget sama kita. Sumpah. Karena kalau tidak sayang sama kita, Tuhan juga nggak mau repot-repot megingatkan kita.  Tidak mau mengingatkan kita dengan memberi masalah kalau tidak kita sendiri yang salah dalam melangkah. Logikanya Tuhan nggak akan pernah menaruh kerikil atau batu besar itu di hadapan kita kalau kita nggak salah jalan dari jalan utama kita.


Sudah paham?


Iya.. karena fungsinya kerikil dan batu kan supaya kita belok kembali ke jalan awal kita. Nah, kalau berapa banyak beloknya saya nggak tahu. Mungkin berbanding lurus dengan seberapa banyak kita salah langkah.


Jadi, beruntunglah kita yang sudah kembali ke jalan dimana tujuan awal kita ditetapkan. Karena tinggal menarik gas sekencangnya maka tujuan itu akan semakin cepat dapatkan. Tentu dengan berusaha dan berdoa agar kita tidak banyak belok-belok lagi. Insyallah...

Friday 9 May 2014

Menikmati Malam


Entah kapan saya memulainya, tapi yang jelas ada kesenangan tersendiri ketika malam itu tiba. Sinar matahari yang menyilaukan mulai redup, dan memudar merah jingga. Orang menyebutnya dengan senja.

Jujur, saya kurang menyukai siang hari. Orang berlalu lalang di jalan, sibuk dengan urusan masing-masing, seperti tidak mau kalah dengan berbagai macam kendaraan yang juga silih berganti menghiasi badan jalan. Terlihat seperti saling berdesakan.

Bagi sebagian besar orang, menjalankan rutinitas di siang hari dan beristirahat di malam hari adalah sebuah hal yang biasa. Sehingga bisa disebut sebagai sebuah kewajaran, tapi tidak dengan saya. Justru saya lebih menikmati rutinitas saya di malam hari. Bukan berarti saya tidak beraktifitas di siang hari, saya lebih menikmati waktu saya di malam hari. Iya, lebih menikmati waktu di malam hari.

Orang bilang saya aneh, dan saya baru menyadarinya. Menyadari bahwa saya ini memang (sedikit) aneh. Entah kapan memulainya, saya menjadi suka berjalan sendirian menyusuri jalan, di tengah malam atau bahkan dini hari hanya untuk melihat langit di atas, merasakan suasana malam dan juga melihat sedikit hiruk pikuk manusia di tengah malam. Waktu yang bagi sebagian besar orang digunakan untuk mengistirahatkan tubuh, setelah menjalani aktifitas seharian.

Kadang saya mengendarai motor hanya untuk berkeliling melihat keidupan malam di Malang. Banyak hal yang saya jumpai, mulai tukang nasi goreng yang merapikan gerobak dan bergegas pulang, beberapa anak jalanan yang mulai menggelar kardus temuannya di emperan pertokoan, atau beberapa petugas kebersihan jalan yang mulai mendatangi satu per satu tempat sampah di penghujung malam. Belum lagi tempat hiburan malam yang memang sesuai namanya, menggelar berbagai hiburan di saat malam.

Meski tidak sering, tapi ritual semacam itu sering saya lakukan. Dan ketika pagi menjelang, saya baru bisa memejamkan mata. Seperti binatang nokturnal, yang menjalani sebagian besar hidup di malam hari. Bedanya saya bukan menjalani hidup, tapi menikmati setiap malam saya. Mungkin karena itulah saya susah bangun pagi. Iya, karena saya memulai tidur juga sudah pagi. Hehehe..

Jika siang hari sudah diisi dengan penuh hiruk pikuk kehidupan, lantas.. apakah rela jika malam hanya diisi dengan keheningan dan kesunyian?

Saya justru salah seorang yang menikmatinya. Iya, menikmati malam..


Wednesday 30 April 2014

Lagu-Lagu Tentang Patah Hati Yang Justru Membuat Kita Semangat



Lagu merupakan hasil karya cipta anak manusia. Banyak hal yang bisa dijadikan tema seseorang untuk membuat lagu, misalnya saja cerita tentang cinta. Ada cerita cinta yang bahagia, ada pula cerita cinta saat patah hati.
Kalo mendengar lagu cinta yang bahagia biasanya kita juga ikut bahagia. Sebaliknya, kalo mendengar lagu patah hati biasanya kita jadi ikut sedih, galau..bahkan sampai nangis di dalam kamar mandi. Karena, mungkin perasaan kita terwakili oleh lagu yang kita dengarkan.

Tapi bagi seorang musisi, memiliki cara yang berbeda untuk menyuarakan perasaan yang mereka rasakan lewat lagu, misalnya patah hati. Nah, kali ini sayaakan membahas lagu-lagu patah hati yang justru bikin kita jadi semangat lagi. Kok bisa gan? Ya, intinya cara membawakan lagu-lagu berikut ini terkesan bukan lagu patah hati meskipun liriknya sangat dalam. Hmm..

Langsung aja saya bahas. Cekibroooottt...

1. Flanella – Apa Daya

Lagu ini dirilis oleh Flanella sekitar tahun 2005, soalnya saya masih SMA. Musik di lagu ini “ringan” banget, jadi enak buat di dengerin. Padahal liriknya bercerita tentang seseorang yang gagal mendapatkan pujaan hatinya dan berfikir untuk mencoba lain waktu kembali. Berikut petikan liriknya..

Apa daya hatiku tak sampai
Tuk dapatkan cinta darimu
Apa daya ku tak menarik lagi
Mungkin lain waktu ku kan mencoba..


Ya kalo ditolak, mungkin lain kali bisa mencoba lagi kan? Pemikiran sederhana dan saya suka..

2. Peterpan – Menghapus Jejakmu

Lagu ini adalah single pertama Peterpan setelah ditinggal dua personilnya. Lirik yang dalam di balut dengan musik yang bisa bikin kepala “ngangguk” kecil pas dengerinnya. Lagu ini bercerita tentang seseorang yang pengen melanjutkan hidup dan terlepas dari bayangan mantan. Mungkin kalo istilah sekarang “Move On”. Berikut petikan liriknya..

Engkau bukan segalaku
Bukan tempat tuk hentikan langkahku
Usai sudah semua berlalu
Biar hujan menghapus jejakmu..


Yah, namanya hidup kan harus berlanjut. Kalo masih dibayangi mantan dan itu bikin nggak nyaman, mending di hapus saja.. Susah sih, tapi pasti bisa..

3. Tipe X – Tanda-Tanda Patah Hati

Sekilas, lagu ini terdengar konyol dan lucu. Yap, apalagi dibalut musik ska khas Tipe-X. Nggak ada yang menyangka kalo ini sebenarnya lagu sedih karena patah hati. Lagu ini bercerita tentang seorang cowok yang punya firasat nggak enak, kemudian melihat sendiri ceweknya sama cowok lain. Ternyata ceweknya pintar bersandiwara dan akhirnya bikin patah hati. Berikut petikan liriknya..

Bim salabim kucing kawin sempat nyaris mati berdiri
Lihat kamu sama lelaki bikin aku patah hati
Percaya nggak percaya mau nagis nangis malu abis
Bukan mimpi ini nyata, kamu bikin aku gila..

Buat kalian yang mungkin punya kisah yang sama, lagu ini bisa ditaruh di playlist..

4. Cross Bottom – 9 Tahun

Cross Bottom merupakan salah satu band favorit saya, karena genre musiknya yang langka yaitu country. Lagu “ 9 Tahun” ini dulu sempat jadi pilihan banyak pendengar di radio-radio. Lagu ini bercerita tentang perjuangan cinta seorang cowok selama sembilan tahun, namun justru berakhir dengan menderita karena pasangannya mendua. Berikut petikan liriknya..

Sembilan tahun lamanya tak ku duga jadi sia-sia
Ku berjuang demi cinta kini sudah tak ada artinya
Engkau telah berpaling menjauh dariku..

Nggak selamanya yang sudah bertahan lama itu akan berkahir dengan bahagia. Kalo disini ada dari kalian yang punya cerita sama, silakan dengar lagu ini..

5. Endank Soekamti – Semoga Kau di Neraka

Endank Soekamti dikenal dengan karya lagunya yang nyeleneh, kocak dan lain dari biasanya. Salah satunya lewat lagu ini yang menceritakan tentang patah hati karena putus cinta, namun liriknya yang justru nggak menye-menye. Sumpah laki-laki banget liriknya, laki-laki yang berusaha kuat untuk merelakan. Berikut petikan liriknya..

Dan tak ada air mata yang tersisa semestinya
Semoga kau di neraka bersamanya
Semua harus kurelakan untuk apa kusesalkan
Putus tiga cintaku tumbuh sejuta..


Ya, kalo putus cinta mau gimana lagi. Pada akhirnya kan kita harus merelakan, dan bersiap untuk tumbuhnya cinta yang baru.. Gitu.

6. Sheila On 7 – Betapa

Sheila On 7 adalah salah satu band fenomenal di negeri ini. Banyak karyanya yang bisa dibilang “Everlasting”. Betapa adalah salah satu karya mereka yang saya suka. Liriknya yang sebenarnya dalam namun terkesan nggak cengeng karena dibalut musik yang lumayan menghentak. Lagu ini bercerita tentang seseorang yang perasaannya hancur karena putus cinta, dan mencoba untuk menutupi kesedihannya dengan senyum palsunya. Bener-bener jujur, manusiawi banget. Berikut petikan liriknya..

Seminggu setelah kau pergi
Teman silih berganti menghiburku
Berkata semua teratasi dan terus sembunyi di balik senyum palsu
Ku dengar dirimu tak sendiri lagi..


Yap, kowe rapopo toh??

7. The Rain feat. Endank Soekamti

Masih dari Jogja, kali ini adalah band The Rain. Lama nggak merilis album, The Rain justru mengeluarkan single terbarunya di akhir tahun 2013 kemarin bekerja sama dengan band Endank Soekamti yang berjudul “Terlatih Patah Hati”. Lagu ini bercerita tentang seseorang yang sering kandas dalam hubungan percintaan, sampai akhirnya terlatih untuk itu semua. Yap, terlatih untuk patah hati. Keren banget ini lagu. Berikut petikan liriknya..

Terima kasih kalian barisan para mantan
Dan semua yang pergi tanpa sempat aku miliki
Tak satu pun yang aku sesali
Hanya membuat ku semakin terlatih
Begini rasanya terlatih patah hati
Hadapi getirnya terlatih disakiti
Bertepuk sebelah tangan (sudah bisasa)
Ditinggal tanpa alasan (sudah biasa)
Terluka itu pasti tapi aku tetap bernyanyi..


Yap, kenyataan cinta yang kita rasakan nggak semuanya berujung bahagia. Kadang justru banyak kegetiran yang kita rasakan, salah satunya harus merasakan banyak patah hati. Terluka sih.. tapi seperti yang dibilang The Rain.. harus tetap bernyanyi.. harus semangat lagi..

Nah itu tadi beberapa lagu anak negeri yang bertema patah hati yang menurut saya bisa bikin semangat lagi, bukan malah galau menjadi-jadi dan berakhir dengan nangis di bawah kran air kamar mandi. Duh..

Paling nggak setelah mendengar lagu-lagu di atas, kita nggak semakin terbawa dengan patah hati yang kita alami. Cukup dengan tersenyum, atau tertawa kemudian bilang,

“Gue pernah tuh ngalamin yang seperti itu.”

Seperti yang saya kutip dari biografi di twitternya The Rain..
..karena menertawakan getirnya hidup akan memperingan langkah..

Tuesday 7 January 2014

Inilah Musim-Musim Dalam Perjalanan Cinta Kita!!


Paijo buru-buru mengendarai vespa bututnya selepas jam kuliah berakhir. Bukan apa-apa, langit yang semula berwarna biru sekarang sudah tertutup oleh awan hitam, sehingga menjadi gelap dan menandakan segera turun hujan. Begitu mesin nyala, tanpa nunggu persetujuan juru parkir, Paijo langsung menarik gas kencang-kencang. Bukan karena perutnya mules dan buru-buru sampe rumah biar nggak “keguguran” di jalan. Paijo hanya takut kehujanan, secara dia lupa bawa jas hujan.

Tapi yang namannya cuaca memang susah ditebak. Nggak jauh beda seperti emosi cewek yang sedang PMS. Begitu jalan beberapa meter, hujan langsung turun dengan derasnya. Breeeeeessss.... Paijo pun basah kuyup mulai ujung rambut sampai ujung kaki. Bahkan sampai ujung biji.

Biji mata maksudnya.

Melihat hujan yang semakin deras, Paijo menepikan vespa dan berteduh di emperan toko. Disana Paijo tidak sendiri, sudah ada dua orang yang juga berteduh, cowok dan cewek yang sedang duduk berdampingan di sebuah bangku panjang. Ya, mereka berdua pacaran, dan hanya Paijo yang duduk sendirian. Selanjutnya Paijo hanya bisa melihat adegan orang bermesraan di tengah hujan.

Itu menyakitkan.

Kata orang, kalo ada dua orang berduaan maka yang ketiga adalah setan. Disana, Paijo lah yang menjadi orang ketiga. Nggak ada yang lain. Daripada dikira setan, dan terus melihat pemandangan orang bermesraan, Paijo akhirnya bangkit dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.

“Mau nekat, Mas?”
“Iya. Udah basah kuyup juga.”
“Tapi hujannya masih deras loh..”
“Nggak apa-apa. Siapa tau hujannya juga bisa sampai hati saya yang lagi musim kemarau. Biar nggak terus-terusan kering.”
“Oh...”

Paijo langsung kembali ke jalan. Menerjang derasnya hujan yang turun. Yah, meskipun di luar tubuhnya diterpa hujan deras, tapi di dalam hatinya berasa musim kemarau. Kering kerontang, seperti nggak ada kehidupan.
Ironis.


Nah, kalo ngomongin soal perasaan memang nggak ada habisnya. Mau kejadian atau peristiwa apapun pasti bisa diplesetin ke hal-hal yang berbau perasaan. Mungkin orang-orang Indonesia terlalu peka dan cepat tanggap kalo urusan perasaan. Tuh lihat, Paijo aja yang kehujanan masih bisa mlintir hujan ke perasaan. Hujan memang turun, tapi hatinya masih berada di musim kemarau. Aih matih...

Perasaan itu identik dengan cinta. Kalo ngomongin soal cinta, pasti setiap orang pernah merasakan jatuh cinta. Dan setiap yang merasakan jatuh cinta pasti mempunyai cerita tentang perjalanan cinta mereka masing-masing.
Duduklah yang nyaman dan kencangkan sabuk pengaman!! Mari kita mulai. Inilah beberapa musim dalam perjalanan cinta kita...

1. Musim Kemarau
Musim kemarau ini lebih kepada mereka yang masih menyandang status jomblo. Iya, jomblo seperti Paijo di atas. Meskipun bagi sebagian orang tetap bisa bahagia dengan status jomblonya, namun pasti ada saat dimana hatinya yang kering butuh tetes-tetes air hujan untuk membasahi. Setidaknya kemarau di hatinya tidak berlangsung dalam waktu yang lama. Lihat aja tanah yang kena kemarau panjang. Udah kering, gersang, panas, bahkan sampai pecah-pecah. Coba kalo itu terjadi di hati kalian. Sudah bisa membayangkan?

Seperti yang kita ketahui, kalo di musim kemarau banyak sekali kegiatan yang dilakukan untuk meminta hujan. Apalagi kalo musim kemaraunya agak panjang. Misalnya, sholat minta hujan. Dimana banyak orang sholat berjamaah di ruangan terbuka di siang hari. Panas dong? Pasti. Ada juga ritual seperti tiban, dimana dua orang bergantian memukul badan lawan dengan menggunakan rotan atau lidi aren. Pasti sakit dong? Bisa berdarah dong? Jelas! Malah ada yang bilang semakin banyak darah yang mengucur, maka akan semakin deras pula hujan yang akan turun. Itu masalah kepercayaan.
Intinya, mereka semua tahu kalo musim hujan itu pasti datang. Karena setelah musim kemarau adalah musim hujan. Tanpa melakukan itu pun secara ilmiah musim hujan pasti akan datang. Tapi mereka rela berdoa di tengah terik siang yang panas, kesakitan bahkan keluar darah dari tubuh untuk meminta agar tetes-tetes air hujan segera turun. Nah, kalo mereka saja mau berbuat seperti itu untuk meyakinkan Tuhan agar segera turun hujan, kalian sudah melakukan apa untuk meyakinkan Tuhan agar segera mempertemukan dengan pasangan?

*kabur*

2. Musim Semi
Musim semi ini lebih kepada saat-saat PDKT. Iya, masa-masa pendekatan. Dimana pada saat ini kita mengenal cinta hanya pada satu hal yaitu : INDAH. Mulai dari kita kenal dengan seseorang, sampai kita berusaha untuk lebih kenal dekat yang ada hanya indah. Nggak ada yang namanya keburukan. Toh kalaupun ada pasti juga diabaikan. Ibarat bunga mawar yang mulai bersemi dan mekar, pasti yang pertama dilihat adalah keindahannya. Padahal dikelopak bunganya nempel tai ulet, tapi itu pasti diabaikan. Mungkin dimasa inilah yang dinamakan cinta itu buta. Iya, buta. Karena pandangan kita didominasi oleh kebaikan dan keindahan.
Dimasa ini kita mulai lebih perhatian dan peduli dengan orang yang kita pedekate-in. Karena di masa ini pasti kita akrab dengan pertanyaan seperti..

“Hei, lagi ngapain?”

Entah itu di lewat sms, media sosial, atau kartu pos (duh jadul banget). Setelah itu, bisa jadi harap-harap cemas sampai ketiduran gara-gara nungguin apakah pesan kita mendapat balasan atau tidak. Dan ketika mendapat balasan, malah kita yang nggak bisa tidur. Senyum-senyum sendiri di tengah malam sambil menatap layar henpon. Ada yang pernah?
Yap, seperti layaknya musim semi. Masa pedekate adalah masa yang paling indah..

3. Musim Hujan

Kalo musim kemarau itu jomblo, maka musim hujan adalah masa jadian. Iya, jadian. Dimana hati yang dulunya kering, gersang, panas dan pecah-pecah kini mulai dijatuhi rintik hujan yang perlahan membasahi. Rasanya pasti seger banget. Hati yang dulunya divonis “mati” kini telah segar dan mulai menemukan kehidupan kembali. Aih matih..

Ketika awal jadian maka sudah bisa dipastikan hujan perhatian dan kasih sayang bakal turun dengan lancar. Ibarat hujan yang turun di minggu pertama, pasti banyak yang dengan sukacita menyambutnya. Sama juga dengan orang yang baru jadian, masih indah-indahnya. Misalnya ketika jalan bareng sambil gandengan tangan, eh tiba-tiba kaki ceweknya terantuk batu. Langsung deh batu itu dimaki-maki..

“Eh batu, kampret lo! Pacar gue kesakitan tau! Kamu nggak apa-apa kan sayang?”
“Iya, nggak apa-apa kok.”


Dan terjadilah adegan si cowok yang mijitin kaki ceweknya.

“Lain kali hati-hati ya kalo jalan.”
“Iya. Makasih ya sayang.”

Indah banget. Halah...

Dan pada awal masa jadian, biasanya kita menjadi lebih perhatian terhadap pacar. Mulai sering bertanya keadaan pacar, kabar pacar, kegiatan pacar, udah makan apa belum, sama siapa sekarang. Banyak deh. Dan nggak lupa kadang menyisipkan kata “Muuuacchh” atau emoticon “:*” di akhir. Ada yang pernah?

Lagian kalo dipikir-pikir sepertinya lagunya kangen band.
Kamu dimana? Dengan siapa? Semalam berbuat apa?
Hmm...

Buat yang punya kebiasaan seperti di atas, perlu kalian tahu kalo pasangan kalian juga manusia. Manusia sosial biasa. Artinya punya kehidupan lain dan nggak hanya buat kalian, masih ada keluarga juga teman mereka. Lagian terlalu banyak perhatian itu jatohnya bikin pasangan malah nggak nyaman. Ibarat hujan yang turun setiap hari, kita jadi nggak bisa kemana-mana, jemuran nggak cepet kering, banjir dimana-mana, banyak deh. Akhirnya banyak kegiatan di luar rumah kita jadi gak berjalan dan hanya berdiam diri di rumah.

“Sayang udah makan?”
“Udah.”
“Sayang makan apa?”
“Makan ati.”

Nggak mau kan tanggepannya seperti itu. Perhatian memang penting, tapi sewajarnya sajalah...

4. Musim Panas
Musin panas ini adalah saat hubungan percintaan kita mulai menemui masalah. Yang namanya hubungan percintaan itu nggak selamanya indah dan berjalan mulus. Manusia bukanlah dua rel kereta api yang bisa terus sejajar dan beriringan mulai awal sampai akhir. Tapi makhluk yang dilengkapi ego dan emosi. Ketika dua orang dengan jenis demikian harus bersatu, pasti akan menimbulkan masalah mulai dari yang kecil sampai besar.

Menjalin hubungan hanya kelihatan indah, itu hanya ada di FTV. Karena kalo di dunia nyata, cowok bakal menghadapi “indahnya” berhadapan dengan cewek saat PMS. Mungkin begitu juga sebaliknya. Yap, inilah kenyataan.
Mulai ada rasa curiga juga cemburu yang bisa menimbulkan pertengkaran-pertengakaran kecil. Pertengakaran kecil menjadi pertengkaran besar. Pertengkaran besar menjadi masalah. Begitu seterusnya.

Mungkin ini yang dinamakan ujian.

Orang bilang rasa cemburu, masalah, pertengkaran itu adalah bumbu dalam percintaan. Tapi terkadang kita nggak sadar, terlalu banyak bumbu malah bikin makanan nggak enak. Misalnya aja makan daging rendang yang bumbunya pas dan nggak terlalu banyak, pasti rasanya enak dan masih berasa dagingnya. Coba bayangin makan empat potong daging rendang dengan bumbu segentong penuh.

Emang masih berasa dagingnya?

5. Musim Dingin
Musim dingin adalah saat dimana kita mulai bosan dan jenuh dengan hubungan percintaan yang kita jalani. Mungkin terlalu sering bertemu, melakukan hal yang monoton saja, atau mungkin ada alasan lain yang akhirnya membuat sifat kita menjadi “dingin” kepada pasangan kita. Iya, dingin dan nggak hanggat lagi seperti awal pedekate dan jadian.
Yang dulunya indah kini perlahan mulai hilang. Yang dulunya suka kirim kata “Muuuaaach” atau emoticon “:*” di akhir pesan juga mulai hilang. Begitu juga dengan perhatian...

Misalnya pas jalan bareng kemudian ceweknya terantuk batu, bukan lagi batunya yang disalahin, tapi malah ceweknya...

“Manja banget sih! Udah tau banyak batu, pake meleng lagi.”

Dan telihat adegan cowok berlalu tanpa menghiraukan lagi ceweknya yang kesakitan. Sedang si cewek, berusaha untuk terus berjalan sambil menahan sakit. Iya, sakit. Sakit luar dan dalam.

Semua mendadak dingin.

Mungkin ada masalah atau sesuatu yang memang harus dibicarakan berdua. Tapi susah kalo ada yang nggak mau terbuka. Pas ditanya jawabnya juga sama...

“Kamu kenapa? Ada masalah?”
“Nggak apa-apa.”


Tiba-tiba langsung ngetwit >>> Dan hubungan mendadak semakin dingin. Seperti kopi yang ditinggal asyik bermain catur selama berjam-jam. Rasanya dingin dan nggak nikmat lagi.

Ada yang pernah?

6. Musim Gugur

Musim gugur adalah saat dimana hubungan percintaan kita harus berakhir. Kita nggak pernah tau bagaimana akhir cerita percintaan yang kita jalani. Setelah melewati ujian di “musim panas” dan “musim dingin” apakah masih bisa bertahan atau harus gugur di tengah jalan. Berserakan dan berhamburan diterpa angin kencang. Aih matih..

Ada dua alasan kenapa tanaman itu gugur. Pertama, karena kekurangan zat makanan atau air yang dia butuhkan sehingga dia kering dan akhirnya gugur/mati. Kedua, dia memang sengaja menggugurkan bagian-bagiannya (biasanya daun) karena dengan cara itulah dia dapat mempertahankan hidup.

Sama seperti hubungan percintaan. Kalo dirasa banyak sakitnya daripada senengnya kenapa harus takut mengakhiri. Pohon saja masih bisa bertahan hidup setelah menggugurkan daunnya, masa kita yang manusia nggak bisa bertahan hidup hanya karena kehilangan pacar?

Memang sih kita bukan pohon, melainkan spesies yang lebih kompleks daripada pohon. Tapi sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan, apa salahnya kita saling belajar...

7. Musim Pancaroba

Sebenarnya musim ini nggak ada, musim pancaroba hanya istilah untuk masa peralihan dari satu musim ke musim yang lain. Terutama di daerah khatulistiwa seperti Indonesia, dimana hanya terdapat dua jenis musim, penghujan dan kemarau. Dan peralihan diantara keduanya itu dinamakan musim pancaroba. Musim peralihan.

Tapi kalo dalam percintaan, musim inilah yang paling berat menurut saya. Dimana disini adalah masa peralihan dari punya pacar menuju jomblo. Iya, dari mulanya ada pasangan menuju ke kesendirian. Agak berat...

Kenapa berat? Karena nggak mudah membiasakan hati dari yang awalnya terbiasa dengan “musim hujan” kini harus bersiap menuju “musim kemarau”. Kalo musim pancaroba asli, akan banyak ditemui banyak penyakit seperti pilek, meriang dan batuk. Hal ini dikarenakan daya tahan tubuh yang kurang prima. Sama seperti musim pancaroba di percintaan, dimana kalo kita nggak punya “daya tahan” hati dan perasaan yang kuat, bisa-bisa kita juga gampang sakit. Patah hati, nyesek, galau, dan gerombolan sejenisnya...

Lama tidaknya waktu yang dibutuhkan juga tergantung dari daya tahan orang yang kena “penyakit” tersebut. Bisa sebentar, bisa lama, bahkan bisa sangat lama. Bisa cepat sembuh, juga bisa berlarut-larut sakitnya.

Intinya sih kita harus belajar untuk adapatasi. Adaptasi dari “musim hujan” menuju “musim kemarau”, dan semua itu memerlukan waktu. Iya, semua itu memerlukan waktu...

“Yakinkan aku Tuhan, dia bukan milikku. Biarkan waktu, waktu..hapus aku. Sadarkan aku Tuhan, dia bukan milikku. Biarkan waktu, waktu..hapus aku.” Hapus Aku – Nidji.