Saturday 13 October 2018

Menggambar

Tidak semua orang bisa menggambar.

Bagi sebagian besar orang, menggambar adalah kegiatan yang menyenangkan. Terlebih kepada mereka yang suka menggambar, atau paling tidak yang bisa menggambar. Tapi tidak untuk saya. Alasannya sederhana, karena saya tidak bisa menggambar dengan jelas. Maksudnya, saya bisa menggambar, tapi yang bisa mengerti gambaran saya hanya saya, dan saya sendiri. Itulah yang membuat saya iri kepada teman-teman yang jago menggambar.

Menurut saya, setiap gambar itu seperti foto, selalu punya makna tersendiri di dalamnya. Setiap gambar mempunyai arti yang bermacam-macam. Karena setiap orang pasti punya persepsi masing-masing ketika melihat sebuah gambar. Gambar itu seperti menyederhanakan rangkaian kalimat, menyederhanakan banyak kata yang mungkin bisa kita ucapkan ketika melihat suatu peristiwa.

Suatu peristiwa yang bisa dijabarkan melalui ratusan kalimat, namun melalui gambar peristiwa tersebut bisa terangkum dalam sehelai kertas. Bagi saya orang yang bisa menggambar itu keren. Mereka bisa bercerita banyak kepada orang lain dengan mengajak orang lain tersebut bercerita kepada dirinya sendiri atas apa yang dilihatnya.

Ajaib!

Dahulu, melalui pelajaran menggambar di sekolah, saya berusaha keras untuk bisa menggambar. Setidaknya ketika saya menggambar, orang lain mengerti apa yang saya gambar. Itu sudah cukup. Namun, memasuki masa perkuliahan sampai menjelang semester akut seperti sekarang ini, hampir tidak pernah saya belajar menggambar lagi. Alasanya sederhana, jurusan yang saya ambil tidak ada sangkut pautnya dengan menggambar. Mata kuliah yang saya ambil juga tidak ada tentang menggambar. Paling kalau ada hanya menggambar grafik, lingkaran, atau bagun datar lainnya sebagai penjelas dari teori-teori yang tidak semuanya saya hafal. Di luar itu, saya mencoba belajar menggambar secara otodidak. Namun seperti yang pernah saya bilang, hasil gambarnya hanya saya sendiri yang mengerti.

Parah.

Sampai suatu saat saya harus menemui lagi hal besar yang berkaitan dengan menggambar.

****

Matahari di Kota Malang sudah muncul sedari tadi, meninggalkan fase fajar yang bagi sebagian orang dikatakan menarik itu. Seperti biasanya, pagi itu saya belum bisa melihat saat fajar tiba. Bangun pagi adalah menjadi sesuatu yang masih jarang saya lakukan di semester akut seperti sekarang ini. Dulu ketika masih ada perkuliahan, bangun pagi adalah kewajiban bagi saya. Karena banyak jam perkuliahan yang dilakukan di pagi hari. Terkadang jam masuknya juga terlalu pagi. Karena tidak jarang ketika saya berangkat ke kampus dalam kondisi sudah telat, di pinggir jalan banyak anak sekolah yang sedang asyik menunggu angkutan dengan santai. Terkadang saya berangkat kuliah berbarengan dengan tukang kebersihan yang sedang bersih-bersih di jalanan di pagi hari. Terlebih, mandi dan berangkat kuliah pagi adalah perpaduan yang kurang pas untuk suhu pagi di Kota Malang.

Setelah mandi dan sarapan pagi, saya langsung menuju ruang tamu yang letaknya di tengah-tengah kamar kos. Di sana sudah ada dua pemuda asal Blitar yang sedang asyik ngobrol, Heni dan Rendra. Saya pun menyapa mereka berdua,

"Waduh. Bagaimana Indonesia bisa maju kalo pagi-pagi para pemudanya sudah ngrumpi. Ada apa ini?"

"Ini loh, Heni lagi belajar gambar. Katanya sih buat nyari pekerjaan."

"Ngapain nyari kerja pakai gambar segala, memang kamu mau kerja jadi guru gambar?"

"Enggak sih. Tapi nanti kalau kamu nyari kerja pasti bakal melewati beberapa tes. Nah, salah satunya kamu disuruh gambar terus dikasih waktu."

Mendengar kata gambar saya langsung panik.

"Ah, yang bener? Memang disuruh gambar apa?"

"Dari beberapa tes yang pernah saya ikuti, paling juga disuruh gambar dua macam. Gambar manusia sama gambar pohon."

Heni adalah salah seorang penghuni kos yang sudah mondar mandir menjalani tes pekerjaan. Makanya dia lumayan ngerti dengan rangkaian tes yang dilakukan oleh beberapa perusahaan.

Sebelumnya, perlu saya perkenalkan teman saya yang bernama Heni ini adalah berjenis kelamin pria di KTP-nya. Nama lengkapnya Heni Andya. Nama yang saya rasa pas untuk seorang cewek. Saya sering bertanya alasan kenapa namanya Heni Andya. Kenapa tidak Heno Andya atau Heni Andyanto yang sekali dengar pasti orang akan paham jenis kelaminnya. Jawabannya pun diplomatis,

"Nama kan pemberian sekaligus doa orang tua. Disyukuri aja nanti pasti barokah."

Alhasil, kadang kalau teman di kampus minta kenalan cewek, saya langsung memprioritaskan Heni Andya di urutan paling atas.

Heni adalah satu-satunya penghuni kos tersisa yang mengambil jurusan teknik mesin. Jurusan yang paling laki-laki, karena menurut cerita dari Heni sendiri, di jurusan tersebut mayoritas dan bahkan hampir semuanya adalah mahasiswa laki-laki.

"Kalau satu kelas itu ada satu saja ceweknya, itu sudah anugerah yang luar biasa, Kim."

Begitu katanya.

Sepengetahuan saya, Heni masuk mesin karena memang dia benar-benar suka dan cinta sama mesin. Mulai dari komposisi mesin, detail, bentuk, gambar, rangkaian fungsi, pengembangan dan tetek bengek lainnya soal mesin dia bisa jelasin. Mau mesin motor, mesin bubut, mesin jahit, mesin tik dia mengerti semua. Cuma satu mesin yang sampai sekarang dia tidak mengerti.

Mesin politik!

Mungkin saat masih bayi, ari-arinya ditanam di gerbang pabrik mesin. Makanya begitu gede dia seneng banget sama yang namanya mesin. Ketika dia melihat sebuah mesin seperti melihat belahan jiwanya sendiri.

Karena kecintaannya akan mesin, ketika ngumpul bareng dia masih suka bahas masalah mesin. Masalahnya, sebagian besar dari anak kos kurang paham soal permesinan. Apalagi kalau dia sudah mulai bawa-bawa istilah dan teori yang njlimet soal mesin. Mending pamit ke kamar mandi deh.

Namun, dibalik kemampuan alamiahnya tentang permesinan, ada hal yang sama sekali kurang sesuai dengan itu semua. Dia suka percaya soal mitos dan hal klenik lainnya. Serial favoritnya pun seperti Siluman Ular Putih, Misteri Gunung Merapi atau Tutur Tinular. Mungkin dia kurang paham kalau ditanya soal superhero fiksi ilmiah seperti Spiderman, Batman, Iron-man, Hulk dan teman-temanya. Tapi kalau ditanya tentang film favoritnya seperti diatas, mulai dari nama tokoh, alur cerita, silsilah keturunan tokoh sampai nama-nama jurus yang dipakai dia hafal semua. Terkadang sambil dicontohkan pula.

Pernah pas kita nonton pertandingan sepakbola rame-rame. Dimana salah satu penjaga gawangnya hebat banget sampai tidak ada bola yang masuk ke gawang meskipun diserang habis-habisan. Tiba-tiba dia ngomong..

"Kim. Tau nggak kenapa nggak ada bola yang masuk ke gawang?"

"Kenapa?"

"Soalnya gawangnya sudah dikencingi sama penjawa gawangnya. Makanya nggak ada bola yang masuk."

"Emangnya itu gawang toilet apa, pakai dikencingi segala."

“Biasanya seperti itu. Biar ada kekuatan yang ikut jaga gawangnya bla..bla..bla.."

Kalau sudah seperti ini mending buru-buru pamit ke kamar mandi dah.

***

“Gambar pohonnya harus bagaimana, Hen?"

"Pertama, harus jelas yang kamu gambar itu pohon apa. Pohon mangga, pohon apel, pohon rambutan atau apalah. Kedua, jelas juga bagian-bagian dari pohon itu sendiri mulai dari batang, cabang, dahan, ranting, bentuk daun, berapa jumlah daun dalam satu tangkai. Pokoknya jelas itu gambar pohon apa. Kalau kurang jelas lihat pohon mangga di depan kosan tuh."

Memang Heni ini bisa dibilang mahasiswa tingkat akhir di kosan yang menyandang predikat sebagai Job Seeker bahkan levelnya bisa naik menjadi Job Hunter karena saking seringnya bolak-balik menjalani rangkaian tes pekerjaan.
Makanya dia sampai hafal beberapa teknis dalam menjalani rangkaian tersebut. Disini pengalaman yang berbicara. Saya dan Rendra hanya mengangguk.

“Oh, coba dulu deh."

"Kamu nggak ikutan sekalian, Kim. Itung-itung persiapan biar nggak kaget nanti."

"Boleh-boleh. Minta kertas sama pulpen. Oia, terus kalau gambar orang ada ketentuan juga nggak?"

“Ada. Nggak boleh gambar orang kartun atau anime. Harus jelas juga bagian-bagian yang digambar. Biasanya sih gambar orang yang sedang melakukan suatu kegiatan. Sudah, coba aja dulu nggak usah banyak tanya."

Saya dan Rendra mengangguk.

Suasana mendadak hening. Dari awalnya ngobrol kini menjadi seperti perlombaan menggambar anak-anak. Yang membedakan hanya para peserta semuanya terlihat serius. Karena hasil gambar bukan untuk diambil siapa yang jadi pemenangnya. Namun, untuk bisa mengukur kemampuan menggambar kita dengan segala ketentuan yang ada. Singkatnya, menggambar ini adalah simulasi untuk mendapatkan pekerjaan. Untuk masa depan kita.

Harus serius.

Saya pun memulai menggambar. Tentunya dengan segenap kemampuan saya yang ada. Tangan saya mulai mencorat-coret kertas, melakukan perintah otak untuk menggambar sebatang pohon dan seorang manusia. Saya sangat serius dalam latihan ini. Selembar kertas saya bagi menjadi dua bagian dengan sebuah garis horizontal di tengahnya. Di bagian atas saya akan gambar pohon beringin, terus di bagian bawah saya akan gambar orang yang sedang hormat bendera.

Pertama saya menggambar pohon. Saya tarik dua buah garis vertikal yang hampir sejajar sebagai bagian batangnya. Kemudian saya kasih dahan, ranting dan daun yang rimbun ditasnya. Sepintas kalau dilihat mirip seperti rambut kribo. Tangan saya bergerak cepat menjalankan perintah dari otak untuk menggambar setiap detail bagian-bagiannya. Itu juga yang saya lakukan untuk gambar kedua saya, seseorang yang sedang hormat kepada bendera. Namun, begitu sebagian gambar sudah hampir selesai, yang awalnya pengen gambar pohon malah nggak jelas itu pohon atau bukan.  Apalagi gambar manusianya, lumayan horor hasilnya.

Sekali lagi, mungkin hanya saya dan saya sendiri yang bisa mengerti apa yang saya gambar. Saya cuma bisa geleng-geleng.

***

Ketika duduk di kelas 2 SD, saya hanya bisa menggambar salah satu tokoh kartun favorit saya, Doraemon. Setiap pelajaran menggambar saya selalu menggambar doraemon. Itu juga saya lakukan dengan cara menebali sampul buku tulis saya dengan pensil tepat diatas buku gambar. Nah, sisa-sisa guratan pensil di buku gambar langsung saya tebali lagi terus diwarnai dengan crayon.

Selesai.

Guru yang mengajar pun lumayan puas dan belum curiga terhadap cara yang saya lakukan tersebut karena kebetulan semua buku tulis saya bergambar doraemon. Mulai dari doraemon terbang pakai baling-baling bambu, lagi melet, makan kue dorayaki, main sama nobita, dan masih banyak lagi. Alhasil, setiap gambaran saya berbeda satu dengan yang lain, meskipun aktor utama tetap satu, Doraemon.

Namun, kebahagian dalam menggambar nampaknya hanya bertahan selama setahun. Begitu naik kelas tiga, Bu Puji yang menjadi wali kelas rupanya sudah hafal dengan kebiasaan saya tersebut.

"Baiklah, untuk pelajaran menggambar kali ini kalian boleh menggambar apa saja sesuka kalian. Bisa pemandangan, hewan, olahraga, taman atau apa saja. Pokonya bebas. Setelah selesai langsung dikumpulkan di meja saya. Mengerti semua?"

“Mengerti, Bu."

Bu Puji langsung menatap dan berjalan ke arah bangku saya. Dan mimpi buruk itu ternyata benar-benar ada dan bisa terjadi.

“Dan kamu, Rudi. Nggak ada lagi gambar-gambar doraemon. Cukup setahun saya kamu kasih gambar doraemon jiplakan itu. Kalau seperti itu terus yang kamu lakukan, kapan kamu bisa mengasah kemampuan menggambar kamu. Kamu harus berusaha semaksimal mungkin atas kemampuan kamu. Mengerti?"

“Iya, Bu..”

"Baiklah. Kamu mau menggambar apa kali ini?"

"Bebek, Bu.."

"Bagus. Silakan memulai."

Menggambar bebek adalah pilihan yang pas untuk saat ini. Karena selain menjiplak gambar dari sampul buku tulis, saya hanya bisa menggambar bebek yang ilmunya saya dapatkan sewaktu duduk di bangku taman kanak-kanak. Dimulai dengan menulis angka dua yang besar di buku gambar, kemudian ditambah bulatan sebagai perut, dua buah sayap, kepala juga mata, dan yang terakhir dua buah garis sebagai kakinya. Selesai.

Sederhana bukan. Dan itulah kenapa saya bisa.

Begitu seluruh siswa mengumpulkan hasil gambarnya di meja guru, kini saatnya menunggu giliran untuk dipanggil satu per satu untuk mengambil hasil gambarnya yang sudah diberi nilai. Tidak berapa lama nama saya pun dipanggil. Saya pun bergegas mendekat ke meja guru dengan senyum percaya diri karena saya berhasil menggambar bebek, bukan doraemon lagi.

"Jadi ini gambar bebek yang kamu janjikan tadi?"

"Benar, Bu."

"Ini kan pelajaran menggambar bebek untuk anak tingkat TK yang dimuai dengan angka dua."

"Tapi saya sudah berusaha semaksimal mungkin."

Bu Puji hanya geleng-geleng. Senyum saya pun langsung berubah kecut.

Mulai saat itu pelajaran menggambar seperti panci presto. Penuh tekanan. Buku gambar saya pun penuh dengan gambar-gambar bisa dibilang cetek. Mulai dari gambar dua gunung yang ditengahnya ada matahari terbit, sebuah kotak panjang dan dua buah lingkaran yang saya klaim sebuah bus, dan sebuah lingkaran besar dan lingkaran kecil ditengahnya yang saya namai kue donat.

Parah.

***

"Nih, punyaku udah jadi. Fiuh.."

"Coba lihat?"

Buru-buru saya dan Heni melihat hasil gambar Rendra. Terlihat gambar seorang pak tani sedang menanam padi juga sebatang pohon mangga lengkap dengan buahnya yang bergelantungan beberapa buah. Meskipun hasilnya tidak terlalu bagus, saya dan heni sudah mengerti apa yang digambar oleh rendra.

"Lumayan. Tapi masih kurang...bla..ba..bla."

Heni kalo ngasih penilaian panjang bener. Untung yang digambar cuma pohon sama orang. Mungkin kalo ditambah dengan setan, penjelasannya bakal lebih panjang lagi dari sekarang.

"Punyamu mana, Kim?"

Saya langsung pasang tampang cool. Pura-pura berhasil menyelesaikan tantangan ini. Padahal ragu juga kalo melihat hasilnya.

"Nih.."

Mereka berdua langsung melihat bersamaan. Nampak mereka mengernyitkan dahi. Mungkin mencoba menerka gambar apa yang mereka lihat saat ini. Lama mereka mengamati sampai keluar sebuah suara.

"Gambar apa ini?"

"Pohon mangga sama orang lagi hormat. Cuma benderanya belum selesai."

"Serius? Kok nggak mirip ya?"

"Masa sih?"

Perasaan saya mulai nggak enak. Sebagai orang yang beberapa tahun tinggal bersama dalam satu kos, saya paham betul kebiasaan mereka. Paling nggak kalo mereka sudah mengeluarkan banyak pertanyaan. Endingnya pasti bakal nge-bully.

"Mana ada pohon kok bulet gitu bentuknya."

"Jenis bonsai mungkin."

"Ah, ini sih nggak mirip orang sama pohon. TAPI LEBIH MIRIP ORANG-ORANGAN SAWAH SAMA SIKAT WC YANG DIBALIK!"

Jlebb!

Dugaan saya tepat. Nggak kira-kira kalo ngatain karya orang.

Tapi setelah saya perhatikan, saya juga percaya kalo gambar ini lebih mirip orang-orangan sawah dan sikat wc yang dibalik, daripada gambar orang dan sebuah pohon mangga.

Setelah acara gambar itu selesai, saya kembali ke kamar. Melihat kembali hasil gambar saya. Saya jadi berfikir, jika untuk mendapatkan pekerjaan harus ada tes menggambar seperti ini, lantas pekerjaan apa yang bakal saya dapatkan dengan gambar orang-orangan sawah dan sikat wc yang terbalik ini?

Malang, 2012.